Keren! Siswa SMK Karawang Ciptakan Alat Deteksi Kemacetan

Dua siswa jurusan mekatronika, SMK Texar, Kabupaten Karawang menciptakan alat pendeteksi macet. Alat itu bisa menganalisis potensi kemacetan di suatu ruas jalan. Bahkan membuat waktu pergantian lampu Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) jadi lebih tepat.

“Tujuannya supaya pergantian lampu lalu lintas bisa lebih baik. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu sebentar. Sehingga, antrean kendaraan bisa terurai dan situasi lalu lintas di persimpangan jalan tidak kacau,” kata Ricky Firdaus (17), siswa pencipta alat pendeteksi tersebut saat ditemui detikcom, Senin (24/12/2018).

Siswa kelas 11 itu menuturkan, alat pendeteksi macet yang dibuat terinspirasi dari kepadatan lalu lintas Karawang Timur. Di sana, terdapat sejumlah titik rawan macet saat pagi dan sore hari. Salah satu penyebabnya adalah waktu pergantian APILL yang tidak disesuaikan dengan jumlah kendaraan.

“Karena lampu hijaunya terlalu sebentar sedangkan antrean kendaraan sangat panjang. Itu tidak sebanding dan menyebabkan kemacetan panjang,” kata dia.

Alhasil, kata Ricky, ia kerap mendapat keluhan dari kawan yang kerap terlambat ke sekolah. Setiap berangkat sekolah, mereka berbagi jalanan dengan ribuan buruh dan truk dari pabrik.

Keren! Dua Pelajar Karawang Ciptakan Alat Deteksi Kemacetan

Berawal dari itulah tiga bulan lalu, Ricky dan dan Adhi Prasetyo (17), mengerjakan alat itu hingga selesai. Sistem kerja alat tersebut dibantu sensor yang dipasang dalam jarak 100 meter dekat lampu lalu lintas.

“Jika sensor menangkap kendaraan tersendat, secara otomatis sistem mendeteksi kemacetan dan mengatur nyala lampu lalu lintas berdasarkan data jumlah kendaraan. Sehingga lampu menyala tidak terlalu lama atau terlalu sebentar,” kata dia.

Kepala Dinas Perhubungan Karawang Arief Bijaksana membenarkan jika lampu APILL di Karawang disetel tanpa mempertimbangkan jumlah kendaraan. Arief menuturkan, APILL saat ini adalah tipe lama yang pergantian lampunya tidak fleksibel.

“Lantaran jumlah kendaraan yang terus bertambah, sehingga waktu pergantian lampu lalu lintas harus bisa fleksibel. Artinya kondisional, sesuai kondisi real kepadatan jalanan,” ungkap Arief.

Ihwal inovasi dua siswa SMK Texar itu, Arief menyatakan tak menutup kemungkinan menerapkan alat temuan mereka di Karawang. “Dalam waktu dekat kami akan uji coba kembali. Nanti kami coba terapkan di perempatan Pendeuy. Menurut saya alat itu bagus dan efektif mencegah macet,” kata Arief.

Keren! Dua Pelajar Karawang Ciptakan Alat Deteksi Kemacetan

Pembuatan alat itu, tak lepas dari bimbingan Nurhayat Arief (50) pengajar Teknik Kontrol di jurusan Mekatronika SMK Texar Karawang. Ia bahkan mengikutsertakan alat buatan muridnya dalam kompetisi Toyota Eco Youth ke-11 yang diadakan pabrik Toyota.

“Selain mencegah dan mengurangi macet, alat ini bisa menurunkan jumlah karbon dan polusi dari kendaraan yang terjebak macet. Kemacetan memang menurunkan kualitas udara,” kata Nurhayat.

Ia berharap, alat buatan kedua siswanya itu bisa mengurangi polusi. Sebab, kata Arief, jika kemacetan berhasil diurai, kendaraan tak berlama-lama di jalan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here