Keren, Pelajar SMA Kudus Bikin Film Animasi Berkelas Internasional

Siswa SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus, Jawa Tengah, menorehkan prestasi di level internasional dengan film animasi ciptaannya. Salah satu film animasi yang mendapat perhatian dari ajang festival film internasional yakni Unstring Your Heart.

Film animasi yang dibuat SMK RUS ini berjudul Unstring Your Heart. Film tersebut mampu meraih beberapa penghargaan di tingkat internasional. Seperti menjadi nominasi di The 20th Kansas Internasional Film Festival 2020, Canberra Short Film Festival 2019, sampai Pune Short Film Festival 2019. Serta mampu menjadi pemenang di ajang HelloFest tahun 2019.

Kepala SMK Raden Umar Said Kudus, Fariddudin, menyampaikan rasa bangga karena film yang dibuat siswanya itu mampu meraih prestasi di ajang internasional. Dia mengatakan film tersebut merupakan murni hasil karya siswi-siswi di SMK RUS.

“Masuknya film Unstring Your Heart nominator tingkat internasional. Kami juga tidak menduga kalau sampai situ, bisa ikut nominator. Kita target kita sampai ke sana. Karena kita harus memiliki film dari kita sendiri, yang lain film kan dari sub industri yang lain. Kalau film ini (Unstring Your Heart) hasil karya anak-anak, dibuat sekitar tahun 2018 lalu,” kata Fariddudin saat ditemui wartawan di SMK RUS Kudus, Selasa (5/1/2021).

“Sekaligus ketika film ini diakui bisa masuk nominator itu menjadi portofolio kita sendiri. Bahwa hasil anak-anak kita diakui di tingkat internasional. Kebanggaan kami bagi anak-anak,” sambung dia.

Proses pembuatan film animasi di SMK RUS Kudus, Selasa (5/1/2021).Proses pembuatan film animasi di SMK RUS Kudus, Selasa (5/1/2021). (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)

Fariddudin menceritakan film ini berkisah tentang sebuah percintaan seorang tukang pemain marionette dan sebuah boneka. Awalnya kata ada dua pemain marionette laki-laki dan perempuan. Mereka awalnya bersaing untuk menarik penonton. Namun justru kedua pemain marionette ini saling jatuh cinta. Singkat cerita mereka kemudian bersatu karena saling jatuh cinta.

Mereka kemudian bekerja sama untuk menyajikan pertunjukan marionette. Sehingga pertunjukan marionette yang ditampilkan lebih banyak menarik penonton.

“Kemudian ada proses di situ akhirnya yang memainkan ikut jatuh cinta. Dan bekerja menjadi tim. Awalnya mereka bekerja sendiri-sendiri. Untuk menarik pengunjung kurang menarik penonton, ketika mereka bekerja tim akhirnya lebih menarik. Jadi penonton semakin ramai,” sambung Fariddudin.”Film ini sebuah kisah percintaan sebuah seorang pemain marionette, yang awalnya dua pemain marionette laki-laki dan perempuan ini bersaing untuk menarik pengunjung tetapi justru bonekanya saling jatuh cinta. Karena kebetulan boneka (memperagakan) ini laki-laki dan perempuan, maka keduanya saling jatuh cinta juga,” jelas dia.

Faiddudin mengatakan ada yang menarik lagi terkait dengan pemilihan lokasi cerita dalam film animasi tersebut. Yakni di kawasan Lawang Sewu dan Gereja Blenduk Semarang, Jawa Tengah. Menurutnya pemilihan lokasi itu agar lebih mengenal ciri khas kearifan lokal.

“Objeknya dibuat di Lawang Sewu dan Gereja Blenduk. Kita mengambil kearifan lokal. Karena kita rencana juga akan di Kudus, membuat cerita. Tapi kenal lebih dikenal itu kan di Lawang Sewu. Durasi filmnya sekitar 20 menitan,” ungkap dia.

 

Proses pembuatan film animasi di SMK RUS Kudus, Selasa (5/1/2021).Proses pembuatan film animasi di SMK RUS Kudus, Selasa (5/1/2021). (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)

Menurutnya selama ini sudah banyak film yang diproduksi siswa-siswinya. Namun yang asli untuk industri sekolah baru tiga film. Yakni Pasoa dan Sang Pemberani, Gogo Galaxy dan Unstring Your Heart.

“Pasoa dan Sang Pemberani, itu karya pertama kami dan sempat akan diresmikan oleh Presiden Jokowi. Itu sempat tayang di SCTV. Terus film Gogo Galaxy dan lainnya,” papar dia.

Diwawancara terpisah pada hari yang sama, Kepala Studio Film Animasi di SMK RUS Kudus, Riko Andriansyah, menuturkan film Unstring Your Heart diproduksi pada tahun 2018 silam. Film animasi itu diproduksi puluhan siswa dan pembimbing. Proses produksi film tersebut memakan waktu sampai sembilan bulan pekerjaan.

“Kalau untuk proses itu kan buat tujuannya untuk kita sendiri (untuk sekolah), karena sebagian untuk karya pesanan (industri dari luar sekolah). Hampir semua pesanan. Maka kita akhirnya yuk bikin film. Film pertama Pasoa, kita bikin lagi untuk didaftarkan di festival film. Ya alhamdulillah bisa menyambut beberapa nominasi, di The 20th Kansas International Film Festival 2020, Canberra Short Film Festival 2019, sampai Pune Short Film Festival 2019,” ujar Riko saat ditemui di SMK RUS Kudus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here