Kelola Sampah Antarkan Gamal Albinsaid Raih Penghargaan di Istana Buckingham.

Asuransi Sampah Antarkan Gamal Albinsaid Raih Penghargaan.

Mungkin bagi sebagian diri kita, sampah merupakan Benda ini yang selalu digambarkan sebagai sesuatu yang kotor, buangan, atau hal-hal lain yang patut dihindari. Namun, bagi Gamal Albinsaid, sampah telah mengantarkan dirinya menuai banyak penghargaan. Bahkan ia pernah diundang ke Istana Buckingham untuk makan malam dengan Pangeran Charles.

Dokter muda asal Malang ini telah mengabdikan diri bagi masyarakat dengan mendirikan Klinik Asuransi Sampah. Dokter muda kelahiran 8 September 1989 ini, mengembangkan asuransi kesehatan mikro yang menggunakan sampah sebagai sumber daya keuangan..

Program ini telah direplikasi di banyak kota di Indonesia. Ia bekerja dengan 45 orang pemuda berusia 18-26. Program yang dibuatnya ini telah dipresentasikan di California University, Cambridge University, dan Asian Development Bank.

Klinik Asuransi Sampah di kota Malang ini, awalnya dikembangkan Gamal pada 2010. “Saya dan teman-teman membuat proyek asuransi sampah ini karena di Indonesia masih banyak orang yang tidak bisa mendapat akses layanan kesehatan,” ujar alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya ini.

Putra dari pasangan Eliza Abdat dan Saleh Arofan Albinsaid ini kemudian bergerak bersama Indonesia Medika yang ia dirikan. Ia mengajak kader posyandu, PKK, dan warga untuk bergabung dalam program Klinik Asuransi Sampah. Warga, diajak mengumpulkan sampah dan menyetorkan sampah senilai Rp 10 ribu per bulan untuk mendapatkan berbagai fasilitas kesehatan. Target utamanya adalah warga kurang mampu yang sebelumnya susah mengakses layanan kesehatan.

Sampah yang berhasil dikumpullkan kemudian diolah, sampah organik menjadi pupuk sementara inorganik dijual pada pengepul. Uang yang terkumpul, masuk dalam kas Dana Sehat yang digunakan untuk pelayanan kesehatan secara menyeluruh.

Berkat program KAS inilah Gamal terbang ke Inggris dan bertemu dengan Pangeran Charles di awal tahun 2014. Gamal menjadi juara pertama dari tujuh finalis yang diantaranya berasal dari Peru, Nepal, dan Nigeria. Gamal mendapat penghargaan Sustainable Living Young Entrepreneurs dari Kerajaan Inggris, menyisihkan 510 peserta dari 90 negara.

Meski telah menerima penghargaan bergengsi, Gamal menyebut ia tak ingin terlena dengan titel ini. “Bagi saya penghargaan itu tidak penting, bahkan berbahaya, bisa merusak keikhlasan,” ujarnya.

Gamal meyakini, bila seseorang ingin menjalani hidup dengan optimal, maka ia perlu bekerja dalam bidang yang memenuhi tiga hal, yakni pleasure, strength dan meaning. “Artinya, cari pekerjaan yang kita kuasai, sukai, dan bermakna,” ujarnya. Ketiga hal ini, menurutnya, telah ia dapatkan lewat Klinik Asuransi Sampah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here