Kampung Inggris di Kediri yang Go Internasional

Kampung Inggris

Kampung Inggris di Kecamatan Pare, Kediri, Jawa Timur, tak hanya beken di Indonesia. Kampung ini sudah Go Internasional. Itu karena alumnusnya tersebar hampir di semua mancanegara. Mereka menjadi TKI, mahasiswa, pelajar, diplomat, hingga pejabat.

Entah siapa orang yang pertama kali menamakan kampung yang terletak di Desa Pelem dan Desa Tulungrejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri Jawa Timur ini dengan sebutan kampung inggris. Kampung ini memang sudah sangat terkenal di Indonesia juga di Internasional. Jika kamu belum pernah ke Kampung Inggris, mungkin kamu mungkin akan membayangkan sebuah kampung dengan banyak bule atau mungkin keturunan bule dengan berbicara bahasa Inggris sebagai bahasa sehari hari.

Namun setelah mengunjunginya, bayangan itu ternyata sangat jauh berbeda, karena warga asli kampung tersebut adalah orang Jawa, seperti kampung-kampung lainnya di Jawa. Sebutan itu ternyata lahir karena banyaknya lembaga kursus Bahasa Inggris yang ada di kampung tersebut. Bahkan saat ini jumlahnya lebih dari 200 lembaga kursus. Jadi disepanjang jalan-jalan di kampung inggris terdapat lembaga kursus Bahasa Inggris di kanan-kiri dengan jarak yang berdekatan, dimana mata memandang di situ terlihat lembaga kursus Bahasa Inggris.

Awal peluang maupun berdirinya kampung Inggris itu dimulai di emperan Masjid Darul Falah tempat Ustaz Yazid, di Pelem Pare . Dari situlah Kalend memulai kiprahnya sebagai guru bahasa Inggris. Itu pun dijalaninya tanpa sengaja.

Awalnya ketika ada dua mahasiswa semester akhir IAIN Sunan Ampel, Surabaya datang ke Pare untuk berguru kepada Ustaz Yazid. Kedua mahasiswa itu hendak menjalani ujian akhir Bahasa Inggris di kampusnya, namun saat itu Kiai Yazid sedang keluar daerah, padahal ujian akhir tinggal lima hari lagi. Hingga akhirnya istri Ustaz Yazid menyarankan dua mahasiswa itu untuk belajar bahasa Inggris kepada Kalend.

Hingga akhirnya Mr Kalend pun memberanikan diri untuk mengajar dua mahasiswa itu, walau dia belum pernah mengenyam bangku kuliah. Akhirnya keduanya belajar bahasa Inggris bersama Kalend di emperan Masjid Darul Falah selama lima hari untuk membahas soal-soal yang menjadi acuan untuk ujian bahasa Inggris kedua calon sarjana itu.

Berbekal pelajaran dari Kalend, kedua mahasiswa itu lulus dan menyandang gelar sarjana. Setelah ujian di IAIN Sunan Ampel Surabaya, keduanya kembali berguru kepada Kalend. Kisah sukses kedua mahasiswa itu lantas menyebar.

Pada awal berdirinya fasilitas yang dimiliki sangat terbatas, karena hanya berlokasi di teras masjid yang diperuntukkan untuk anak-anak desa yang kurang menguasai bahasa inggris. Selanjutnya di rumah-rumah yang membolehkannya mengajar, dan akhirnya sampai memiliki gedung sendiri. begitulah perjuangan Pak Kallen yang konsisten dan pantang menyerah hingga mengantarkan BEC menjadi begitu terkenal dan lulusannya diakui kualitasnya. Hal inilah yang mengundang banyak pendatang dari se-antero nusantara untuk belajar bahasa Inggris disana. Sampai-sampai tidak ada tempat lagi di BEC untuk menampung para calon murid tersebut.

Nah, dari sinilah mulai “berkembangbiak” beberapa lembaga kursus baru untuk memenuhi permintaan yang semakin meningkat. Beberapa lulusan BEC tetap mengajar disana dan beberapa yang lain mendirikan lembaga kursus sendiri. Lembaga kursus yang didirikan pun semakin bervariasi dari segi waktu, spesialisasi program, metode serta biayanya.

Akan tetapi, tidak semua lulusan BEC memilih untuk mengajar dan mendirikan kursusan sendiri. Ada juga yang buka warung, jualan bakso, dagang soto, membuka tempat fotokopi dll. Dan mereka semua bisa berbahasa Inggris. Mungkin dari sinilah asal cerita bahwa “bahkan tukang bakso sampai tukang soto pun bisa berbahasa Inggris”. Seperti diketahui saat ini lulusan dari kampung Inggris ini sudah mencapai 22 ribu orang, dan tersebar di dalam dan luar negeri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here