Inspirasi Guru Muda yang Mengajar di Pelosok Papua Halmahera

Seorang Guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa, namun bagaimana kehidupan seorang guru muda yang mengajar di pelosok tanah Papua, salah satu guru ini menjadi inspirasi guru muda yang rela pergi dari kota besar menuju pelosok untuk mencerdaskan anak bangsa.

Sarjana Psikologi dari Universitas Katolik Atma Jaya ini awalnya tak acuh dengan lingkungan sekitar. Sampai akhirnya, berbagai kegiatan di kampus membuat rasa sosial dan peduli tumbuh pada diri Patrick Nikolas S. Roeroe.

Matanya mulai ‘terbuka’ saat menjadi ketua organisasi pecinta alam KMPA Pelangi di kampusnya. Patrick menyelesaikan kuliah pada 2013 dengan skripsi tentang Kepemimpinan di Kelompok Pengamen Jalanan dimana ia menghabiskan hari-harinya nongkrong dan mengamen.

Setelah lulus, Patrick sering mendesain dan menjadi fasilitator pelatihan untuk sekolah, kantor, dan LSM. Dia kemudian bergabung dengan Tim Inti Yayasan Putra bahagia, lalu magang sebagai guru BK di SMPK 5 Penabur. Dia juga bergabung di organisasi sosial seperti Global Citizen Corps, Sahabat Anak, dan Yayasan Kharisma.

Sosok berdarah Manado ini kemudian terjun sebagai Pengajar Muda di komunitas Indonesia Mengajar. Kamu tahu, komunitas ini biasanya mengirim guru-guru terjun ke daerah pelosok dan mengajar di sana selama setahun. Dan Patrick tak terlepas dari hal itu.

Patrick diutus ke SD Negeri Waya di Kabupaten Labuha, Halmahera Selatan. Berada jauh dari Ibu Kota dan keluarga, tak membuat Patrick jerih. “Be the change you wish to see in the world,” begitulah kata-kata yang memotivasi Patrick tetap bertahan.

Ada banyak kendala yang dihadapi. Semisal kendala bahasa. Masyarakat setempat juga sebagian punya kebiasaan minum minuman keras. Lalu, sebagian masyarakat juga kurang peduli pada pendidikan.

Sebaliknya, Patrick justru gigih mengajar dengan berbagai kreativitas supaya murid-muridnya bisa mengerti apa yang dia ajarkan. Dia menerapkan metode kontekstual. “Misalnya saja pelajaran biologi mengenai simbiosis mutualisme antara sapi dengan burung dan situasinya ada di depan kami, belajar mengenai bunga yang ada di depan mata kita, jadi langsung yang terlihat,” ujar Patrick kepada CNN Student, beberapa waktu lalu.

Tak jarang dia juga mengajarkan gerak dan lagu yang familiar di daerah itu. Praktek mengandalkan bahan-bahan yang ada di sekitar, misalnya mempelajari sistem pernafasan dengan memakai botol plastik bekas dan selang. Patrick bilang, guru memang harus banyak akal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here