Inilah Situs Megalitik Tertua Indonesia yang Diusulkan Menjadi Warisan Dunia

Ada arca baru ditemukan.”

Kalimat itu diucapkan Burhan Lamama, warga Desa Bewa, Kecamatan Lore Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Desa Bewa berada di Lembah Bada, kawasan megalitik Lore Lindu, di jantung Pulau Sulawesi.Megalitik ini berada di wilayah morfologi Pegunungan Telawi dengan 5 satuan ruang: Lembah Napu, Lembah Behoa, dan Lembah Bada yang masuk Kabupaten Poso, serta Lembah Palu dan Danau Lindu di Kabupaten Sigi. Sebagian besar peninggalan itu berada di Taman Nasional Lore Lindu.

Pertengahan Juli 2019, saya bersama kolega dari Palu dan Poso mengunjungi Lembah Bada. Jaraknya dari Poso sekitar 3-4 jam. Burhan memberikan informasi tentang patung dari zaman megalitikum itu berikut lokasinya. Arca tersebut berada di pinggir sungai kecil, lalu dipindahkan warga berjumlah 40-an orang.

“Beberapa hari lalu, diadakan upacara adat pemindahannya,” katanya.

Kalamba megalitik di situs Tadulako Lembah Palu yang memiliki gambar motif alien | Foto: Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo

Burhan sendiri tidak melihat langsung prosesnya. Ia pun mempertemukan saya dengan Odi Subroto Wengkaw, penjaga situs megalitik di Lembah Bada. Esoknya, sekitar pukul 16.00 Wita, Odi mengajak saya ke lokasi.

Tidak begitu jauh dari Desa Bewa, memang. Hanya sekira 20 menit. Namun kami harus melewati kebun kakao, jagung, dan persawahan warga.

“Sebelumnya, arca tersebut di sungai ini,” kata Odi ketika melewati sungai.

Tidak jauh dari sungai, agak sedikit naik seperti bukit, dalam sebuah hamparan, terdapat batu-batu megalitik dengan berbagai bentuk. Benda itu adalah kalamba, lumpang batu, batu dakon, bakal kalamba, dan beberapa arca. Termasuk arca yang kata Burhan Lamama, ditemukan di pinggir sungai.

“Ini arca yang baru dipindahkan dengan cara adat,” ungkap Odi.

Odi Wengkaw, penjaga situs megalitik memperlihatkan arca Suso yang belum lama dipindahkan dari sungai dengan posisi tidur | Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia

Acara dilakukan Senin, 8 Juli 2019. Upacara dimulai doa seorang pendeta, kemudian pelepasan satu ekor ayam putih, tabor bunga, dan ritual lainnya. Arca dalam posisi tidur. Tingginya 175 cm, lebar 76 cm: kepala dan mata bulat, hidung memanjang, memiliki telinga, dan tangan bersilang di bawah perut berukuran 40 cm. Berbeda dengan arca lain yang memiliki jenis kelamin, arca yang baru ini belum diketahui.

Odi sendiri berstatus pegawai honorer Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo, yang merupakan UPT dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Wilayah kerjanya ada di Provinsi Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah.

Di Lembah Bada, beberapa situs megalit tersebar di berbagai tempat. Mulai dari saluran sungai, persawahan, rumah warga, hingga dekat jalan raya. Hal ini menyebabkan sebagian benda-benda itu memiliki tingkat keterancaman.

Salah satu arca yang sangat terkenal dan menjadi ikon Lembah Bada dan juga Kabupaten Poso adalah Palindo atau Sepe. Arca sepanjang 6 meter dengan posisi miring ini sering menjadi kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri.

Ritual adat pengangkatan dan pemindahan arca Suso dari sungai | Foto: Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo

Arca Suso dan Jumlah Situs Megalitikum

“Arca itu namanya Suso. Bukan baru ditemukan. Memang sudah lama diketahui, tapi dilakukan penyelamatan karena sering diinjak-injak warga,” kata Romi Hidayat, arkeolog lulusan Universitas Udayana, Denpasar, Bali.

Saya menemui Romi di kantornya di Kota Gorontalo, Sabtu siang, 28 Juli 2019. Ia adalah Ketua Unit Perlindungan Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo. Romi memimpin warga memindahkan Suso di sungai tersebut.

Menurutnya, berdasarkan informasi orang tua di Lembah Bada, arca Suso itu dulunya tertimbun anak sungai dan sudah ditemukan 1960-an. Lalu, ketika masyarakat ke kebun, mereka lewat sungai dan sering menginjaknya. Ada juga yang mengatakan, arca berdiri tidak jauh dari sungai kemudian jatuh dengan posisi tertidur. Namun informasinya belum jelas, Suso menghadap ke mana.

Berdasarkan data lapangan Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo, ditemukan berbagai tinggalan arkeologi yang telah diidentifikasi. Yaitu, 2007 benda yang terdiri 26 jenis artefak pada 118 situs di empat lembah, termasuk Danau Lindu, di Sulawesi Tengah.

Khusus Lembah Bada, tinggalan arkeologi yang diidentifikasi sebanyak 186 buah yang tersebar di 35 situs. Peninggalannya berupa kalamba, wadah maupun tutupnya, bakal wadah kalamba, arca megalit, batu berlubang, tutup tempayan, juga buho. Wadah kalamba terbanyak ditemukan, 64 buah.

“Selain temuan tersebut, ada juga sebaran fragmen gerabah dengan jumlah banyak yang mengindikasikan aktivitas permukiman masa lalu,” kata Romi.

Sementara jumlah situs di Lembah Behoa ada 32, Lempah Napu 29 situs, Lembah Palu dan Danau Lindu 22 situs.

Arca dengan posisi tidur di situs megalitik Suso | Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia

Situs Megalit Tertua di Indonesia

Menurut Romi Hidayat, berdasarkan penanggalan yang diperoleh sampai saat ini, cagar budaya megalitik di lembah Sulawesi Tengah hingga perbatasan Sulawesi Selatan, secara kronologi merupakan megalitik tertua di Indonesia. Ini diperoleh dari penelitian tulang-tulang rangka manusia yang berada dalam kubur tempayan batu di situs Wineki di Lembah Behoa, yaitu 2351-1416 SM yang kemungkinan punah pada sekitar 1452-1527 M.

Romi menjelaskan, catatan peninggalan megalitik Lore Lindu pertama kali dilaporkan Nicolaus Adriani dan Albertus Christian Kruyt pada 1898 dalam buku “Van Poso naar Parigi en Lindoe”. Lalu, 1908 mereka menulis artikel “Nadere gegevens betreffende de oudheden aangetroffen in het landschaap Besoa”.

Dalam artikel itu dikemukanan bahwa tong-tong batu tidak pernah digunakan sebagai jirat [nisan], akan tetapi sebagai tangki, alat upacara perang.”

Odi Wengkaw, penjaga situs megalitik memperlihatkan kalamba yang banyak tersebar di Lembah Bada | Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia

Artikel selanjutnya berjudul “De Berglschappen Napoe en Besoa in Midden Celebes” melaporkan tentang 20 temuan kalamba yang mempunyai pola hias enam wajah manusia mengitari kalamba tersebut.

Tahun 1902, perhatian pada megalit dataran lembah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan dilakukan oleh Paul dan Fritz Sarasin bersaudara ketika mengunjungi Lembah Bada. Keduanya memulai dari Kota Palu, Malili, Gintu, dan Badangkaia, tapi tidak pernah melaporkan hasil perjalanan itu.

Kemudian Schuyt dan Ten Kate mengunjungi Lembah Napu dan Behoa pada 1910 menghasilkan tulisan berjudul “Van dag tot dag op Een Reis Naar de Lanschappen Napoe en Behoa” yang memberikan asumsi bahwa lumpang batu di daerah itu berfungsi sebagai alas tiang. Tahun 1917, Raven mengunjungi daerah Behoa dan baru membuat tulisan pada 1926 dengan judul “Stone Images and Vats of Central Celebes”.

“Ia menyebutkan, telah melakukan penggalian di situs Pokkekea daerah Besoa, tapi tidak jelas wadah kalamba mana yang digali. Raven hanya menyebut, temuannya berupa lumpur, tanah liat, abu kayu, dan pecahan periuk,” ujar Romi.

Tahun 1917-1921, Walter Kaudern melakukan pendataan situs kepurbakalaan di daerah Bada, Napu, dan Behoa yang kemudian diterbitkan pada 1938 menjadi buku berjudul “Ethnographical Studies in Celebes”.

Pada 1976 Haris Sukendar dan tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mengadakan penelitian di Lembah Bada berupa survei di situs Bomba, Pada, Bewa dan Lengkeka serta ekskavasi di Padang Tumpuara. Haris mengemukakan, dalam kalamba terdapat sisa-sisa tulang beserta bekal kubur yang mempunyai sistem penguburan sekunder. Dalam kalamba menunjukkan, penguburan bukan untuk seorang saja, melainkan komunal keluarga.

Menurut Romi, berbagai penelitian yang dilakukan memberikan informasi pentingnya megalitik maupun jejak hunian masa lalu. Data menjadi acuan awal tim kajian delineasi.

Situs megalitik berupa kalamba ini tersebar di kebun warga Desa Bewa, Kecamatan Lore Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Tepatnya di Lembah Bada | Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia

Diusulkan Jadi Warisan Dunia

Anthony J. Whitten dkk, dalam buku Ekologi Sulawesi [Gajah Mada University Press, 1987] menyebut, megalit Sulawesi Tengah merupakan batu besar yang telah dikerjakan menjadi tong berbentuk silinder sangat besar, patung-patung, pasu, dan lumpang. Hiasan pada tong-tong yang kemungkinan kamar kuburan majemuk, berupa wajah, bentuk-bentuk badan, kera, dan kadal yang kebanyakan terdapat di dekat Desa Besoha. Sangat mirip desain yang terdapat di Laos.

Namun menurut Romi, jika di Laos hanya memiliki kalamba, situs megalit di Sulawesi Tengah beragam jenisnya; mulai arca, kalamba, lesung, dulang batu, dan sebagainya. Berdasarkan kajian delineasi Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo, warisan kebudayaan megalitik ini tengah diusulkan menjadi warisan budaya dunia.

“Bahkan yang menarik, ada situs megalitik kalamba Tadulako di Lembah Palu, gambar motifnya alien. Selain unik, masih penuh tanda tanya,” ungkap Romi.

Situs arca Palindo atau Sepe yang paling terkenal dan menjadi ikon di Lembah Bada dan Kabupaten Poso | Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia

Menurut dia, megalitik Lore Lindu selain tertua di Indonesia, juga memiliki sebaran tinggalan benda megalitik yang erat kaitannya dengan kepercayaan masa lalu. Tidak hanya itu, kawasan Lore Lindu, terutama hutannya telah diresmikan sebagai salah satu cagar biosfer pada 1977 yang dikembangkan melalui program Man and the Biosphere[MAB] UNESCO.

“Setiap situs atau kawasan dapat menjadi warisan dunia asalkan memiliki tiga asas sebagai Nilai Universal Luar Biasa atau Outstanding Universal Value [OUV]. Pertama, memenuhi satu atau lebih kriteria OUV. Kedua, keaslian dan keutuhan. Ketiga, pelindungan dan pengelolaan,” jelas Romi.

Saat delineasi megalit Lore Lindu 2018, Romi adalah ketua tim di Lembah Bada. Ia ikut mencari jalur purba dari Lembah Bada ke Behoa. Hingga saat ini, katanya, situs megalit itu memiliki tingkat keterancaman internal dan eksternal.

Faktor internal, bahan batuan penyusun tinggalan megalitik telah termakan usia, mudah lapuk dan rusak. Letaknya juga sebagian besar di puncak hingga kaki bukit, mudah mengalami pergeseran tanah atau longsor.

Sedangkan faktor eksternal, pertumbuhan penduduk, penempatan fasilitas sarana dan prasana pariwisata yang tidak didahului kajian dan koordinasi dengan lembaga terkait.

“Keseluruhan situs megalitik Lore Lindu, dari aspek tingkat keterancaman, masih dalam kategori rendah sampai sedang. Namun, jika tidak ditangani cepat dan tepat, dikhawatirkan rusak dan musnah,” tandasnya.

Catatan kaki: Ditulis oleh Christopel Paino dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here