Inilah Seniman Indonesia yang Mendapat Undangan Dari Venice Art Biennale

Seniman Indonesia Handiwirman Saputra, 44, telah diundang untuk memamerkan karya-karyanya di Venice Art Biennale (La Biennale Arte di Venezia) yang akan datang, dijadwalkan berjalan mulai 11 Mei hingga 24 November di Italia.Menurut situs web resmi biennale, artis tersebut adalah salah satu dari 79 seniman internasional yang diundang oleh acara tersebut.

“Saya akan menjadi seniman Indonesia ketiga yang berpartisipasi dalam Venice Biennale,” kata Handiwirman seperti dikutip dari Jakarta Post di studionya di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, pada hari Selasa.
Seniman Indonesia pertama yang diundang oleh Venice Biennale, yang diadakan sejak 1895, adalah Affandi pada tahun 1954. Sebuah buku berjudul Seni dan Mengoleksi Seni: Kumpulan Tulisan Dr. Oei Hong Djien, mengutip bahwa setelah Affandi, seniman Indonesia lain yang diundang ialah Heri Dono pada tahun 2003.
Butuh waktu 49 tahun untuk undangan kedua setelah undangan Affandi.Handiwirman mengatakan akan memamerkan lima karya seni di biennale.

Handiwirman Saputra | Hari Ini Kemaren Esok (Seri Tak Berakar Tak Berpucuk) | Sumber: Art Basel
Handiwirman Saputra | Hari Ini Kemaren Esok (Seri Tak Berakar Tak Berpucuk) | Sumber: Art Basel

“[Karya-karya itu terdiri dari] lukisan [untuk dipajang] di paviliun di situs Giardini, dan empat karya tiga dimensi [untuk dipajang] di ruang Arsenale,” katanya.

Venice Biennale tahun ini, yang merupakan yang ke-58 sejak pertama kali hadir, akan berjudul “May You Live in Interesting Times“, dikatakan diambil dari kutukan Tiongkok kuno yang apokrif.

Merefleksikan judulnya, Handiwirman akan mempersembahkan lukisan akrilik 3 x 4 pada kanvas berjudul Hari ini Esok Kemaren (Today Tomorrow Yesterday) dan empat karya tiga dimensi, yaitu Menahan Letakan di Bawah Sangkutan, Tak Berakar dan Tak Berpucuk No. 8, Tak Berakar dan Tak berpucuk No. 7, dan Pemangkasan.

Semua karya seni tiga dimensi tersebut berasal dari seri Tak Berakar Tak Berpucukyang dibuat antara 2010 dan 2019.

“[Lukisan] Hari ini Esok Kemaren adalah sekuel dari seri ini,” kata Handiwirman, yang merupakan alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa Tak Berakar Tak Berpucuk menawarkan perspektif dalam memahami proses sejarah. Sejarah terkadang harus “melengkung” dan tidak bergerak secara linier sesuai dengan rencana atau keinginan seseorang. Ada kekuatan lain yang mungkin tidak terlihat tetapi mereka berdampak dan menyebabkan perubahan dalam sejarah.

“Kurator [The Venice Biennale] melihat [perspektif tersebut] dalam karya-karya ini dan tampaknya itulah yang mereka cari,”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here