Indonesia Pecah Rekor Dunia Upacara Virtual dan Fakta Menarik Istana Merdeka

Pandemi Covid-19 memang tidak menghalangi negeri ini untuk tetap menyemarakan Hari Ulang Tahun ke-75 Republik Indonesia. Biasanya Istana Merdeka akan dipenuhi dengan para undangan, delegasi, dan barisan-barisan Paskibraka yang menjadi puncak perhatian pada upacara HUT RI.

Namun, pertama kalinya dalam sejarah, tahun ini Indonesia melaksanakan Upacara Kemerdekaan HUT RI ke-75 yang dihadiri para undangan dengan cara virtual. Meski diketahui masih ada 20 undangan yang mendatangi Istana Merdeka untuk mengikuti upacara secara langsung dengan Inspektur Upacaranya adalah Presiden Joko Widodo.

‘’Biasanya, tamu undangan bisa mencapai ratusan orang. Pada saat ini hanya 20 orang tamu undangan yang hadir secara fisik. Di mimbar kehormatan hanya 14 orang,’’ ungkap Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretarian Presiden, Bey Machmudin dikutip Katadata.

Meski begitu, Sekretariat Presiden mengundang 17.845 orang untuk bisa menyaksikan Upacara Kemerdekaan HUT RI ke-75 secara daring. Untuk bisa menyaksikan secara virtual, masyarakat sebelumnya harus menyaksikan acara tersebut.

Upacara Bendera Virtual Pecahkan Rekor Dunia

Upacara HUT RI ke-75

info gambar

Ya. Fakta menariknya adalah jumlah undangan Upacara Kemerdekaan secara virtual tersebut diklaim menjadi satu-satunya dalam sejarah, satu-satunya di dunia, dan menjadi rekor dunia sebagai upacara virtual dengan peserta terbanyak di dunia.

‘’Ini mungkin untuk pertama kalinya 17 Agustus dihadiri oleh para duta besar, para perwakilan, juga warga negara kita di luar negeri,’’ pungkas Bey.

‘’Ini bukan sekadar rekor Indonesia, tapi rekor dunia karena belum pernah penyelenggaraan acara kemerdekaan di manapun, di negara lain yang diselenggarakan secara daring,’’ ungkap Ketua Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), Jaya Suprana, dikutip Katadata.

Sebagai bentuk apresiasi akan kesuksesan berlangsungnya upacara yang dihadiri secara virtual ini, Jaya, sebagai perwakilan MURI pun memberikan penghargaan rekor tersebut kepada Kepala Sekretarian Presiden, Heru Budi Hartono secara langsung.

‘’Di sini ungkin ada 60 sampai 70 putra dan putri yang kami pilih menjadi host atau MC dalam memandu acara kenaikan bendera maupun penurunan bendera secara daring,’’ ungkap Heru.

Meski suasana Istana Merdeka terbilang ‘sangat sepi’, namun upacara yang dihadiri oleh 17.845 itu diakui masih bisa dilakukan secara khidmat, apalagi di tengah pandemi Covid-19 seperti ini. Ini tentu menjadi kisah dan sejarah baru bagi Indonesia.

Fakta Menarik Istana Merdeka yang Menjadi Jantung Kolonialisme

Istana Merdeka Tempo Dulu

Dari tahun ke tahun, Istana Merdeka selalu menjadi pusat peringatan Dirgahayu Republik Indonesia. Namun tahukah bahwa Istana Merdeka dulunya justru menjadi pusat dan jantung kolonialisme Belanda?

Ya. Hal ini diungkapkan oleh sejarawan Universitas Indonesia, Bondan Kanumoyoso.

‘’Padahal Istana Merdeka yang sekarang, dulunya adalah kediaman Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Jadi agak ironi, kita merayakan kemerdekaan kita justru di jantung kolonialisme,’’ ungkapnya kepada Kompas (10/8/2020).

Padahal perlu diingat bahwa Pembacaan Proklamasi yang menandai kemerdekaan Indonesia itu terjadi di sebuah bangunan yang tidak semegah Istana Merdeka kini. Melainkan terjadi di kediaman Soekarno yang dulu beralamatkan di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56.

‘’Atau sekarang bernama Jalan Proklamasi. Tetapi sekarang proklamasi diselenggarakan di Istana Merdeka,’’ pungkas Bondan.

Saking ikoniknya Istana Merdeka sebagai tempat peringatan HUT RI dari tahun ke tahun, tak heran jika banyak anak muda kini kerap membayangkan peristiwa penting itu dilakukan di tempat yang sama. Padahal tidak.

Sayangnya, kini kediaman Soekarno yang menjadi saksi bersejarah itu kini telah berganti dan beralih fungsi menjadi sebuah gedung.

Sekilas Sejarah Istana Merdeka

Istana Merdeka

info gambar

Awalnya Istana Merdeka ini bernama Istana Risjwijk yang mulai dibangun pada 1796. Lalu di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Louden, tepatnya pada tahun 1873, Istana Risjwijk dibangun menjadi lebih besar supaya memenuhi syarat untuk kegiatan administrasi kenegaraan.

Istana Risjwijk dibangun lagi pada tahun 1879 seiring dengan meningkatkan kegiatan pemerintah Hindia Belanda. Dan kala itu penamaan gedung sempat berubah Istana Gambir. Salah satu alasannya karena di sekitar istana banyak pohon gambir.

Pada masa kedudukan Jepang, istana sempat beralih fungsi menjadi tempat kediaman resmi Saiko Shikika atau panglima tertinggi Jepang.

Baru pada 27 Desember 1949, Istana Gambir menjadi saksi penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Pemerintah Belanda. Hal ini tentu menjadi kabar yang membahagiakan karena istana sudah menjadi milik Indonesia seutuhnya.

Kala itu Presiden Soekarno pun memutuskan untuk mengganti nama dari Istana Gambir menjadi Istana Merdeka. Dan pada 1950, pertama kalinya Istana Merdeka dipakai untuk tempat peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.