Indahnya Berbagi Ala Kopi Dinding

Bagi penikmat Kopi mungkin terdengar aneh dengan Istilah Kopi Dinding yang kini menjadi populer di Kota Padang. Sejak sebuah warung kopi yang bernama Lapau Ongga di Pasa Mudiak Padang menjadi tempat diluncurkannya gerakan berbagi. Gerakannya disebut Kopi Dinding.

Ketika di tempat lain segelas kopi adalah simbol prestise, ego dan keangkuhan peminum atas pencapaian hidup, di Kedai Kopi Ongga, lewat secangkir kopi orang dapat menebar kebahagiaan dan kepedulian kepada mereka yang kurang beruntung.

Berlokasi di Jalan Pasar Mudiak, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat, Program Kopi Dinding menyentak kesadaran publik. Ternyata, berbagi segelas kopi kepada mereka yang membutuhkan itu membahagiakan.

Di Lapau Ongga ini yang bisa dipesan untuk berbagi tak hanya kopi tapi semua jenis minuman dan makanan. Saya sempat bertanya ke pemilik Lapau Ongga, Mas Yoyok, apa pengaruhnya gerakan ini, katanya warung tersebut kini lebih ramai. Banyak wajah baru yang menjadi pelanggan.

Ya, karena Kopi Dinding di Lapau Ongga ini membuat orang penasaran dan ikut berbagi. Ke depannya gerakan Kopi Dinding ini akan dikelola lebih baik dan dikembangkan ke bentuk lain seperti Ampera Dinding, gerakan berbagi di rumah makan.

Kopi Dinding hanyalah cara sederhana dan mudah tapi unik untuk mengasah sikap kedermawanan. Setiap kali kita mau makan atau minum, bisa mengingat orang miskin yang tak punya uang untuk membeli makanan. Dengan cara menempel di dinding juga menjaga keikhlasan dalam beramal, sebab kita tidak tahu siapa yang akan mengambil minuman atau makanan yang dibagi.

Kedermawan bukan hanya soal materi dan kelebihan harta. Tapi ada kemauan kuat dan meyakini bahwa harta yang dimiliki adalah titipan Tuhan. Hanya sesaat bisa digenggam. Sampai kematian menjemput. Enaknya makanan hanya sampai kerongkongan saja. Tapi, banyak orang kaya tak mau berbagi. Pelit dan kikir. Zakat saja tak dikeluarkan. Padahal zakat adalah kewajiban bukan kedermawanan.

“Jadi prinsipnya orang yang membayar tidak tahu siapa yang ditraktir. Dan yang menerima juga tidak tahu siapa yang telah membayar menu yang disantap,” ujar Miko yang sehari-hari berprofesi sebagai pengacara dan dosen.

Miko mengatakan program ini sudah dimulai sejak 27 Februari 2016 dan mendapat sambutan cukup baik dari warga kota. “Dengan berbagi akan membuat hidup lebih bahagia.”

Niat baik para dermawan dalam berbagi di Kopi Dinding harus sebanding dengan kejujuran orang yang mengambil kertas di dinding itu untuk mendapatkan minuman dan makanan yang telah disumbangkan. Jika benar-benar tak mampu ambilah kertas itu. Bila masih mampu tapi nyolong kertas di dinding artinya tidak melaksanakan amanah si penderma dan memakan hak orang lain. Maka Kopi Dinding adalah sarana mengasah kedermawanan dan melatih kejujuran.

Dari kedai kopi tradisional itu lahir kebahagiaan bagi penikmat program dan tentunya lebih berbahagia pengunjung yang mau berpartisipasi mengacu pada prinsip orang bijak, yaitu kebahagiaan tertinggi adalah saat berbagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here