IDN Taiwan: Diaspora Dinner and Gathering, Ajang Diskusi demi Menggali Potensi Diaspora Indonesia

Perhelatan agenda Diaspora Dinner and Gathering yang diselenggarakan oleh Indonesian Diaspora Network (IDN) Taiwan berlangsung meriah. Ruang Exhibition Center lantai 1, Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei menjadi saksi sejarah baru untuk pengembangan organisasi para diaspora Taiwan ini. 

Dilansir GNFI, IDN Taiwan: Diaspora Dinner and Gathering Rabu lalu (30/10), mengangkat tema “Menggali Potensi Diaspora Indonesia di Taiwan”. Turut hadir di sana, Amb. Dr. Dino Patti Djalal, founder dari Foreign Policy Community of Indonesia dan Chairman of the Board of Trustee of the Indonesian Diaspora Network-Global (IDN-G). Selain itu hadir pula, Mohamad Al-Arief, Commissioner of Indonesia Infrastructure Finance (IIF), lalu ada juga Amb. Soemadi Brotodiningrat, former Ambassador/Indonesia Permanent Mission to the United Nations in Geneva, Japan and USA, juga Fajar Nuradi, sebagai Perwakilan dari KDEI Taipei, Kepala Bidang Perlindungan WNI dan Penerangan Sosial Budaya, serta Iman Adipurnama, perwakilan diaspora Indonesia di Taiwan dalam bidang penelitian (ilmuwan) juga berbagai tokoh-tokoh publik pegiat diaspora lainnya.

“Pada dasarnya, berkontribusi untuk Indonesia itu bisa dilakukan dari mana saja dan di mana saja, yang penting ada added value bagi Indonesia,” ujar Dino Patti Djalal, saat berdiskusi dalam agenda yang diselenggarakan IDN Taiwan tersebut.

Dalam ulasannya, Dino Patti Djalal juga mengungkap bahwa dalam hubungan ekonomi, Taiwan telah menggeser fokusan kerjasama, tak lagi ke Tiongkok. Kini yang menjadi bidikan mitra adalah negara-negara di ASEAN. Bahkan, berbagai perusahaan Taiwan yang ada di Tiongkok pun berkemungkinan besar akan dipindahkan ke ASEAN. Lewat kebijakan yang baru-baru ini mereka berlakukan di beberapa tahun terakhir, the Southbound Policy. Menurut beliau, sudah saatnya pemerintah Indonesia merancang suatu Badan Nasional yang bisa menaungi kepentingan dan potensi diaspora Indonesia agar hubungan antara diaspora dan pemerintah Indonesia bisa lebih baik lagi. Dengan awalan yang paling penting yaitu, pengadaan database diaspora yang valid, ter-update dan dapat mempermudah pencarian diaspora dengan keahlian-keahlian yang berguna untuk Indonesia di masa sekarang maupun yang akan datang.

Menyambung terkait keahlian diaspora yang sempet disinggung dalam diskusi tersebut, Tricia Iskandar, Vice President Public Policy and Government Relations Gojek yang juga turut hadir malam itu menambahkan, “Pemerintah sekarang ini sangat mendukung keberadaan start up dan wujud-wujud inovasi lainnya, akan tetapi masih kekurangan talenta-talenta di bidang teknologi. Jadi, bagi para diaspora Indonesia yang sekarang ini menetap di Taiwan, yang terkenal dengan teknologinya, kalau punya talenta di bidang itu, yuk pulang aja ke Indonesia!”

Sedikit berbeda dengan Tricia, Iman Adipurnama yang merupakan seorang pengajar dan peneliti muda di salah satu kampus di Taiwan berpendapat, “yang perlu kita lihat itu apakah skill kita bisa dikembangkan di Indonesia dengan segera atau tidak. Jika belum, belajar yang banyak dulu saja di Taiwan. Kumpulkan pengalaman, untuk selanjutnya pulang dengan amunisi yang mumpuni.”

Puluhan audiens dari berbagai kalangan diaspora Indonesia di Taiwan © IDN Taiwan

Dalam diskusi yang turut dihadiri oleh puluhan perwakilan diaspora Indonesia di Taiwan tersebut, pada akhirnya menelurkan sebuah konsensus bahwa peran diaspora Indonesia di Taiwan adalah sebagai (1) Penghubung antara Taiwan dan Indonesia; (2) Inspirator yang bertalenta global dan harus mampu membuktikan kemampuan untuk senantiasa unggul dalam kompetisi global; (3) Kontributor, terutama dalam hal perdagangan, pendidikan, dan masih banyak lagi. Apalagi dengan kondisi Taiwan masih terikat dengan kebijakan One China Policy, maka justru lembaga dan gerakan-gerakan non pemerintahan semacam IDN ini yang seharusnya bisa berperan besar untuk diaspora Indonesia di sini. Penjelasan poin-poin tersebut merupakan kutipan dari pernyataan Mohamad Al-Arief dan Amb. Soemadi Brotodiningrat.

“Agenda diskusinya menarik, cukup membangkitkan pikiran untuk terus berkarya bagi diaspora Indonesia yang jauh dari tanah air,” tukas Anisa Larasati, salah satu audiens dari kalangan mahasiswa Indonesia di Taiwan, yang hadir dalam agenda tersebut.

Selain membangun atmosfer diskusi yang positif, agenda IDN Taiwan: Diaspora Dinner and Gathering tersebut juga bertepatan dengan prosesi serah terima jabatan Ketua IDN Taiwan 2017-2019, Kartika Dewi, kepada Hanas Subakti sebagai Ketua IDN Taiwan 2019-2021.

Dalam sambutannya untuk yang pertama kalinya pasca serah terima jabatan, Hanas menyampaikan, “Jika di periode sebelumnya IDN Taiwan berhasil dengan culture diplomacy di Taiwan, maka untuk dua tahun ke depan kita semua akan berupaya untuk scale up dalam beberapa bidang, seperti business councilyoung and educationsocio-culture and culinarymigrant workers and community affairs & mix marriage.”

Bagi Hanas, prioritas utama saat ini yaitu pendataan talenta diaspora di Taiwan, upgrading skill dengan mengutamakan technology literacy untuk pekerja migran dan profesionalism literacy untuk teman-teman mahasiswa dan pelajar. Selain itu, peningkatan ekonomi melalui bisnis juga akan di optimalisasi dengan memaksimalkan kebijakan Southbound Policy yang diberlakukan oleh Taiwan.

Serah terima jabatan Ketua IDN Taiwan 2017-2019, Kartika Dewi, kepada Hanas Subakti sebagai Ketua IDN Taiwan 2019-2021 (kanan ke kiri: Didi Sumedi, Kepala KDEI Taipei; Dino Patti Djalal; Hanas Subakti; Kartika Dewi; dan Deyantono) © IDN Taiwan

“Apalagi IDN Taiwan telah dikenal sebagai salah satu chapter IDN yang terkompak dibandingkan dengan negara lain, hal ini juga diakui juga oleh pak Dino Patti Djalan beserta rombongan yang hadir kemarin. Sekarang saatnya IDN Taiwan benar-benar connecting the dots dan memberikan kontribusi yang lebih luas lagi bagi diaspora indonesia yang di Taiwan, khususnya, maupun Indonesia secara kolektif,” tutupnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here