Hebat, 4 Peneliti Indonesia Raih Penghargaan Olimpiade Penelitian Internasional

4 Peneliti Indonesia Raih Penghargaan Olimpiade Penelitian Internasional

Peneliti muda Indonesia menorehkan prestasi gemilang. Empat peneliti yang masih berstatus pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) berhasil meraih penghargaan Olimpiade Penelitian Internasional.

Berkat hasil karya penelitian tentang psychometer seperti dilansir Kemendikbud.go.id, Rabu (24/5/2017), Made Radikia Prasanta dan Bagus Putu Satria Suarima, dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Bali Mandara Provinsi Bali meraih penghargaan khusus dari American Meteorological Society. Karya penelitian kedua siswa yang berjudul Smart Digital Psychrometer For Forecasting Local Weather merupakan alat untuk memprediksi cuaca dengan radius 10 kilometer yang diharapkan dapat membantu petani di wilayahnya yang sangat tergantung dengan cuaca.

Penghargaan khusus lainnya diraih oleh Azizah Dewi Suryaningsih dari SMA Negeri 1 Yogyakarta dengan judul penelitian Bamboo Forest as a natural Levee of Pyroclastic Flows in Merapi Volcano. Penghargaan khusus yang diterima oleh Azizah diberikan oleh The American Geosciences Institute.

Sementara itu, Latifah Sholikhah dari SMA Negeri 1 Teras Boyolali, Jawa Tengah dengan karya penelitiannya di bidang Social and Behavioral Science yang berjudul Neglected Children. Case Study of Public Attitudes Toward Children with HIV AIDS in Surakarta berhasil menjadi pemenang keempat pada Grand Award Intel-International Science and Engineering Fair (ISEF). Selain penghargaan utama, Latifah juga memperoleh penghargaan sebagai Honorable Mentions dari American Psychological Association.

Sebanyak 1.778 hasil karya penelitian siswa sekolah menengah atas dari 78 negara telah dipamerkan dan dinilai oleh dewan juri pada 14-19 Mei 2017 di ajang Olimpiade penelitian tingkat internasional Intel-ISEF di Los Angeles Convention Center, Kalifornia, Amerika Serikat.

Delegasi Indonesia untuk Intel-ISEF 2017 menampilkan delapan karya penelitian dari SMA yang telah diseleksi melalui kompetisi tingkat nasional, yaitu Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) yang dibina oleh Direktorat Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang dibina oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2016.

“Nuansa kompetisi tidak terlihat selama event kecuali semangat berbagi informasi karya penelitian sekaligus menciptakan networking baru di antara para peneliti muda dari berbagai negara. Inilah dampak terpenting dari keikutsertaan pada event ini”, ujar profesor Tineke Mandang dari Institut Pertanian Bogor yang ikut mendampingi para delegasi Indonesia ke Intel-ISEF.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here