Hafidz dan Hafidzah Indonesia Ukir Juara di Musabaqah Brunei Darussalam

Hafidz dan Hafidzah Indonesia Pada tanggal 8-10 Juni 2017, bertempat di International Convention Center (ICC) telah berlangsung Lomba Menghafal Al-Quran atau bisa disebut Musabaqah. Perlombaan ini dihadiri oleh 4 negara anggota MABIMS, yaitu Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Indonesia. Terbagi menjadi 2 kategori, kategori pertama untuk peserta berusia 20 tahun kebawah dengan ketentuan hafalan 10 juz Al-Quran. Sedangkan, kategori kedua untuk peserta berusia 30 tahun kebawah dengan ketentuan hafalan 30 juz Al-Quran.
Sebelum dimulai, lomba dibuka dengan kata sambutan dari Menteri Agama Negara Brunei Darussalam, Pehin Ustaz Hj Awg Badaruddin. Beliau menyampaikan bahwa lomba ini merupakan suatu strategi untuk memperdalam ilmu agama Islam dengan bersumber kitab suci Al-Quran. “Budaya membaca Al-Quran harus kembali dipopulerkan terutama di kalangan generasi muda saat ini. Lomba ini tidak hanya menguji hafalan saja, tapi juga sejauh mana peserta lomba memahami ajaran Al-Quran,” ujarnya dalam pidato.
Nur Asfiyah, berumur 19 tahun, mewakili Indonesia untuk kategori pertama usia 20 tahun kebawah, sementara itu Khobirul Amru yang berusia 21 tahun mewakili Indonesia untuk kategori kedua usia dibawah 30 tahun. Keduanya mahasiswa jurusan Ilmu Al-Quran Tafsir di UIN Sunan Ampel, Surabaya dan datang ke Brunei dengan didampingi oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan, Drs. Muktafi, M.Ag. Di tengah kesibukan UAS mereka di kampus, Nur Asfiyah dan Khobirul Amru harus mempersiapkan diri dalam waktu singkat, tak ayal keduanya merasa penampilan mereka belum optimal.
“Kaget banget. Coba kalau saya diberitahu minimal satu bulan sebelumnya, saya bisa memaksimalkan hafalan saya. Namun saya baru dapat kabar 2 pekan sebelum acara,” ujar Amru ketika ditanya mengenai perasaannya bisa mengikuti lomba ini. Meski begitu, Amru berhasil menyabet penghargaan Juara 3 di kategori kedua dan mendapat hadiah sebesar 4.000 BND atau sekitar Rp 36 juta. Sedangkan Asfiyah mendapat Juara 4 di kategori pertama dengan hadiah sebesar 1.000 atau sekitar Rp 9 juta.
Asfiyah dan Amru sama-sama sudah belajar menghafal Al-Quran selama 3 tahun. Asfiyah sendiri pernah mengikuti lomba serupa di Indonesia, namun ini merupakan pertama kalinya ia mengikuti Lomba Musabaqah yang berskala internasional.
“Yang penting ada keinginan tinggi, semangat, dan juga doa dari orang tua. Ridho orang tua sangat penting dan itu juga yang bisa mengantar saya hingga kesini,” ujar Asfiyah yang ingin mendorong anak muda Indonesia untuk lebih banyak membaca dan mempelajari Al-Quran.
Selain minimnya waktu persiapan, perbedaan antara Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia menjadi hambatan tersendiri dalam memahami soal yang diberikan oleh juri.  Namun, baik Asfiyah dan Amru sama-sama mengakui bahwa lomba ini menjadi motivasi mereka untuk semakin semangat belajar memahami Al-Quran di kemudian hari.
Oleh: Adriana Anjani
(penulis merupakan mahasiswi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan yang tengah menempuh Praktek Kerja Lapangan di KBRI Bandar Seri Begawan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here