Goenawan Mohamad: Pancasila Dibentuk Dari Percakapan

Peringatan hari lahir Pancasila 2017 demikian istimewa. Presiden Jokowi membuatnya hari libur, upacara peringatan di gelar, serta Pancasila dibicarakan beberapa orang. 

Salah satunya Kuliah Umum ‘Pancasila serta Sejarah’ dengan pembicara jurnalis senior serta budayawan Goenawan Mohamad di gelar di Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (1/6/2017) malam. Dalam paparannya, Goenawan menyebutkan Pancasila lahir tidak dari pemikiran perorangan satu orang saja.

Pancasila tidak dapat dilepaskan dari pidato ‘Lahirnya Pancasila’ : satu ide yang bukanlah formula yang rapi, serta di tawarkan serta dibuat dengan pembicaraan, ” papar Goenawan dari mimbarnya.

” Epistemologi Pancasila bukanlah berdasarkan ‘aku berpikir’, tetapi ‘kami yang buka percakapan’, ” paparnya.

Pancasila yaitu saripati kearifan lokal praktis orang-orang Indonesia. Beberapa orang di negeri khatulistiwa ini memiliki prinsip gotong royong yang kuat. Presiden pertama RI Sukarno mengerti hal semacam ini, serta dia merumuskannya, tetapi sistem perumusan juga tidak sendirian.

” Teks ‘Lahirnya Pancasila’ tersusun dari presentasi lisan, dalam satu pidato yang tanpa ada persiapan tertulis. Ia praktis terbentuk dengan cara interaktif dengan hadirinnya–sekitar 60 orang–di ruangan tertutup di Jalan Pejambon Nomor 6. Dokumen yang berwujud rekaman ini lebih berbentuk satu pembicaraan daripada satu komposisi, ” papar Goenawan.

Presentasi ini diselingi dengan pemutaran rekaman pidato Bung Karno. Terdengar nada tepuk tangan sebagai nada latarnya. Goenawan menyebutkan pidato ini memakai ‘nada basic yang penuh harapan’, walau sudah dijajah kolonialisme. Dalam situasi ini, musyawarah berlangsung hingga lahirnya Pancasila.

Th. bertukar, rezim bertukar. Waktu Orde Baru, kebiasaan dialog yang menghidupi Pancasila itu hilang. Pancasila bukanlah lagi suatu hal yang dialogis, tetapi beralih jadi ideologi dalam pengertian yang kaku. Atau lebih pas lagi, Pancasila jadi doktrin. Walau sebenarnya situasi berikut yang beresiko untuk lestarinya falsafah bangsa, pandangan dunia orang Indonesia.

Dunia bukanlah satu bangunan yang usai serta mandek, demikian halnya pandangan mengenainya. Pancasila bakal mati bila dia jadikan doktrin yang represif, seperti di saat Orde Baru dahulu. Dimaksud diatas, kalau basic Pancasila yaitu community-based epistemology. Ia menolak monolog serta jawaban yang mengklaim diri mutlak serta final, ” papar Goenawan.

Diskusi di gelar, beberapa topik yang menguasai bahasan yaitu rekanan Pancasila dengan agama. Salah seseorang peserta diskusi mengungkap histori Benua Eropa di Era Pertengahan, yang masuk ke masa kegelapan karna doktrin agama yang represif jadikan alat kekuasaan.

Lepas dari keterangan Goenawan serta jalannya diskusi acara ini, falsafah yang membeku jadi doktrin dapat juga jadi alat penindas rezim penguasa. Oleh karena itu, dengan cara akal sehat, Pancasila tidak bisa dilewatkan membeku, mengeras, membatu, serta beresiko apabila menerpa orang. Dia mesti selalu cair serta menghidupi.

Agama saat ditafsirkan untuk politik dapat berisiko jadi ideologi yang sifatnya instrumental belaka seturut yang diinginkan penguasa. Sama seperti dengan filsafat bangsa, apabila dibekukan jadi ideologi jadi dapat jadi instrumen belaka. Tetapi Pancasila berbentuk ideologis tidaklah beku, Pancasila yaitu ideologi terbuka yang dipercaya kebenarannya akan relevan selanjutnya, apa pun jamannya.

Saat ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menandatangai Ketentuan Presiden Nomor 54 Th. 2017 mengenai Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), pada 19 Mei lantas. Pihak Kepresidenan optimis UKP-PIP akan lebih inovatif daripada Dasar Penghayatan serta Pengamalan Pancasila (P4) masa Orde Baru lampau.

Goenawan menyebutkan potensi Pancasila jadi instrumen keras negara akan bergantung aspek yang mensupport. Pancasila di masa Orde Baru dicitrakan represif karna dahulu militer begitu berkuasa. Goenawan menyebutkan situasi seperti itu tidak bakal gampang terulang.

” Untuk dihidupkan seperti itu lagi kan tidak mungkin saja. Namun memanglah bila Pancasila-nya jadi ajaran mati ya bakal jadi dahulu, ” katanya pada detikcom selesai kuliah umum selesai.

Dia mengharapkan UKP-PIP betul-betul tidak sama juga dengan P4 jaman dahulu. Bila Pancasila hanya jadi sebatas hapalan belaka, jadi itu tidaklah keadaan yang ideal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here