Gerakan Kebaikan Indonesia dan Mewujudkan Aspirasi Kewarganegaraan Ganda (*)

Indah Morgan (foto pribadi)

Setibanya dari muhibah ke Eropa pada September-Oktober 2015 lalu, Gerakan Kebaikan Indonesia (GKI) memiliki alasan yang makin kuat untuk mengawal aspirasi Kewarganegaraan Ganda (KG). Implementasinya melalui berbagai kegiatan yang koordinatif antara masyarakat Indonesia di dalam dan di luar negeri.

Beberapa teman yang belakangan mendirikan GKI mengetahui bahwa saya (Indah Morgan) pada 2010 sudah memiliki aspirasi tentang kewarganegaraan ganda sebagai perbaikan atau revisi dari UU No. 12/2006. Saat itu saya menulis di mailing list pelaku perkawinan campuran komunitas “Melati World Wide” (Komet) untuk menyebarkan dan advokasi ide tentang kewarganegaraan ganda. Tulisan itu berkembang menjadi diskusi dengan beberapa peserta komunitas yang aktif antara lain Eli Hakim Silaban dan Tresya Yuliana Fitri.

Diskusi tersebut sebenarnya menyimpan sebuah impian untuk membuat petisi kewarganegaraan ganda. Akhirnya, ia menjadi kenyataan pada akhir tahun 2011, tepatnya pada 10 November 2011. Petisi itu diprakarsai oleh Eli Hakim Silaban, seorang pengacara hukum dari Pontianak yang istrinya berkewarganegaraan Kanada, melalui media: www.change.org. Petisi tersebut diisi dan ditanda tangani oleh masyarakat Indonesia yang berasal dari berbagai negara, agar Indonesia memberlakukan kewarganegaraan ganda. Petisi ini di koordinir oleh 29 orang dari 18 negara, semuanya ditunjuk oleh Eli Hakim Silaban secara bergilir untuk memantau jumlah petisi yang masuk dan secara regular melakukan meeting online melalui Skype.

Jumlah pengisi petisi kebanyakan dari pelaku kawin campur. Petisi dengan penandatangan hampir 6.000 orang itu telah diserahkan ke pemerintah pada momentum Congress Indonesia Diaspora pertama (CID1) tanggal 6-8 Juli 2012 di Los Angeles, Amerika, oleh Indah Morgan, yang didampingi oleh Nuning Hallet dan Renny Mallon.

Sebelum berlangsung CID 2 di Jakarta, sesuai persetujuan dari Kementerian Luar Negeri, Pendataan Petisi Kewarganegaraan Ganda (PPKG) telah menjadi bagian dari program Indonesia Diaspora Network (IDN), dibawah Task Force Imigrasi & Kewarganegaraan (TFIK). Kesuksesan sesi TFIK pada CID 2 merupakan kerja keras antara team Kewarganegaraan Ganda, pemerintah RI dan doa para pendukung dari seluruh dunia yang tidak bisa menghadiri kongres. Hasil dari deklarasi penting CID2 sesi Imigrasi dan Kewarganegaraan adalah :

Mendorong pembentukan Focus Group, yang terdiri dari pemerintah, parlemen, diaspora,dan akademisi, untuk membahas mengenai beberapa aspek dari kewarganegaraan ganda.
Menyusun naskah akademik mengenai kewarganegaraan ganda yang hasilnya akan disampaikan kepada pemangku kebijakan.

Untuk menindaklanjuti deklarasi CID 2, saya selaku koordinator global Task Force Imigrasi dan Kewarganegaraan mengawal jalannya enam seminar di enam universitas di Indonesia. Pembiayaan seminar berasal dari seluruh diaspora Indonesia di luar negeri yang digalang melalui Indonesia Diaspora Network Global.

Adapun tempat pelaksanaan seminar tersebut adalah:

Universitas Sam Ratulangi, Manado, 29 September 2014. Pembicara: • Dr. Iman Santoso • Dr. Devy Sondakh, SH, MH., • Williem J.F. Alfa Tumbuan PhD. • Letkol Laut (KH) Ir. Floranda V.L Jakobus MSi.
Universitas Udayana, Bali, 14 Oktober 2014. Pembicara: • Dr. Iman Santoso, SH, MH., MA. • Prof. Yohannes Usfunan • Dr. Maruarar Siahaan • Dr. I Dewa Gede Palguna.
Universitas Indonesia, Depok, 22 Oktober 2014. Pembicara: • Prof. Satya Arinanto • Dr. Iman Santoso, SH, MH., MA.
Universitas Negeri Medan, 6 November 2014. Pembicara: • Dr. Iman Santoso, SH, MH., MA. • Prof. Koerniatmanto Soetoprawiro • Majda El Muhtaj • Dra. Yusna Melianti, MH.
Universitas Brawijaya, Malang, 13 November 2014. Pembicara: • Dr. Iman Santoso, SH, MH., MA. • Muktiono, SH. MHum • Dr. Lucky Endarwati, SH., MH • Dr. Iwan Permadi, SH., MH • Dra. Alida Handau Lampe Guyer. MSi.
Universitas Padjajaran, Bandung, 24 Februari 2015. Pembicara: • Prof. Koerniatmanto Soetoprawiro • Prof. Bagir Manan • Drs. Alida Handau Lampe Guyer, MSi.

Seusai pelaksanaan seminar keenam di Unpad, tepatnya pada 6 Maret 2015, saya mengundurkan diri sebagai koordinator Task Force Imigrasi dan Kewarganegaraan dan kemudian bergabung mendirikan Gerakan Kebaikan Indonesia (GKI) dan website kabar-rantau.com. Organisasi ini dideklarasikan pada 18 September 2015 di Gedung Arsip Nasional, Jakarta. Deklarasi GKI antara lain dihadiri oleh Kepala Staf Kepresidenan Bapak Teten Masduki, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri dan sejumlah tokoh masyarakat.

GKI bergiat untuk mempromosikan kebaikan Indonesia di dalam dan luar negeri serta terbuka untuk bekerja sama dengan semua pihak yang peduli kewarganegaraan ganda. Hal ini telah disepakati pada rapat kerja GKI di Jakarta bulan November 2015.

Di GKI, saya menjadi salah satu koordinator perwakilan di luar negeri. Saat ini saya berdomisili di Tiongkok. Sebelumnya saya pernah menetap di Hong Kong, Melbourne – Australia dan Nottingham – Kerajaan Inggris Raya. Saya ikut dalam kunjungan muhibah GKI ke sejumlah negara di Eropa pada September-Oktober 2015. Sepulang dari Eropa, dua pembina dan pengurus GKI menyambangi keluarga saya di Tiongkok, tepatnya di kota Ningbo, Provinsi Zhejiang. Kunjungan tersebut disamping untuk menjalin tali silaturahmi juga memvalidasi keberadaan saya beserta keluarga.

Petisi kewarganegaraan ganda bukanlah hal baru dan menjadi bagian dari perjuangan untuk meminta pemerintah RI memberikan pelayanan yang lebih baik bagi warganya. Berikut hanyalah sebagian dari petisi yang terangkum dalam catatan kami:

2001 – 2006. Perjuangan Kewarganegaraan Ganda Indonesia pada era reformasi dimulai oleh pelaku perkawinan campuran. Mereka juga membuat surat terbuka kepada presiden. Perjuangan tersebut menghasilkan UU Kewarganegaraan No.12/2006 yang mengadopsi asas Kewarganegaraan Ganda Terbatas bagi anak hasil perkawinan campuran. UU tersebut juga mengatur asas Ius Sanguinis dari garis ibu.
Tahun 2005 Secara paralel Paguyuban Aerospace Indoenesia di Eropa juga melakukan petisi Kewarganegaraan Ganda.
Tahun 2010 Gusmang Oka Mayura di Italia juga melakukan petisi serupa.
Bulan November 2011, UU No.12/2006 dinilai belum memenuhi semua aspirasi dan karenanya muncul evolusi kedua yang dimotori oleh Indah Morgan dan Eli Hakim Silaban melalui Pendataan Petisi Kewarganegaraan Ganda (PPKG).

* Catatan Pribadi Indah Morgan (Dewan Pengurus GKI, tinggal di Ningbo, Tiongkok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here