Firzah Farida, Mahasiswa Berprestasi yang Lolos ke Frankfurt Style Award

Firzah Farida menunjukkan hasil rancangannya yang akan berlaga pada ajang Frankfurt Style Award.

Desain busana yang tergambar di atas kertas linen putih berukuran A4 itu terlihat ngejreng. Pada bagian celana, perpaduan warna biru dan hijau muda membuat rancangan busana tersebut terasa segar dipandang.

Perpaduan warna cerah itu juga terlihat pada busana bagian atas. Pada bagian tersebut, muncul motif batik khas Cirebon. Yakni, mega mendung. Desain batik itu terlihat memenuhi bagian depan baju. Bagian punggung dan lengan baju didominasi warna putih polos.

Yang unik, pada bagian pinggang bawah, terlihat lubang-lubang kecil kasatmata. Bentuknya mirip pori-pori di permukaan kulit. ”Bagian ini dibuat khusus untuk sirkulasi udara sehingga pemakainya tidak kepanasan,” jelas Firzah Farida saat memperkenalkan rancangan baju tersebut kepada Jawa Pos, Rabu (31/5).

Di selasar gedung Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Firzah tampak bersemangat. Dia menjelaskan detail baju yang akan tampilkan di Frankfurt Style Award (FSA) pada 8 September 2017.

Ya, pada April lalu perempuan kelahiran 23 Maret 1998 tersebut mendapat e-mail dari panitia FSA. Mahasiswa jurusan pendidikan tata busana tersebut dinyatakan lolos babak 20 besar dalam festival mode kelas internasional itu.

Untuk lolos ke babak tersebut, persaingan yang dihadapi Firzah tidaklah mudah. Dia harus bersaing dengan 380 peserta dari 36 negara. Antara lain, Italia, Amerika, Inggris, dan Jerman.

Pada ajang bertema Modern Reality tersebut, ada tiga kategori yang bisa diikuti peserta. Yakni, working, dating, dan sporting. ”Nah, di antara tiga desain itu, desain saya ini lolos dalam kategori sporting design,” tuturnya. Firzah menyebut desain baju rancangannya itu sebagai energycal modernism.

Desain yang dikonsep selama seminggu tersebut dibuat dengan pertimbangan khusus. Menggunakan bahan-bahan dari kain pilihan. Ada tiga jenis kain yang dia gunakan untuk membuat baju olahraga itu. Yakni, lycra, nylon, dan mesh. Tiga jenis kain tersebut mempunyai fungsi yang berbeda untuk pakaiannya.

Kain lycra digunakan di bagian dada yang memiliki pola batik mega mendung. Tekstur lycra yang melar cocok digunakan untuk kain olahraga. Kain tersebut juga adem saat dipakai.

Baju yang ditaksir menghabiskan biaya produksi sekitar Rp 600 ribu tersebut juga punya manfaat lain selain fungsinya sebagai busana. Yakni, untuk kesehatan tubuh. Memperlancar aliran darah ketika beraktivitas.

Sekilas, baju rancangan putri pasangan Mujiono-Lilik Retnowati tersebut terlihat press body. Namun, jika dipakai, orang akan langsung merasakan kenyamanan. Tidak sesak. ”Baju ini elastis. Beberapa bagian juga dirancang khusus untuk memperlancar sirkulasi darah,” jelas penggemar desainer dunia Alexander McQueen itu.

Kreasi unik lainnya yang dituangkan Firzah dalam baju energycal modernism tersebut adalah warna pakaian saat berada di lingkungan gelap. Ya, baju buatannya secara otomatis akan menyala terang. Glow in the dark.

Nyala pakaian itu berasal dari cat pewarna khusus yang disuntikkan ke dalam kain selama proses penjahitan bahan. Cat pewarna tersebut hanya disuntikkan pada bagian baju yang bermotif batik mega mendung. Lekukan awan pada motif mega yang menyala akan menarik mata setiap orang yang melihat baju tersebut ketika dipakai.

Ide pembuatan desain baju itu bukan tanpa alasan. Firzah bukanlah peserta yang baru kali pertama mengikuti kompetisi FSA. Pada 2016 Firzah juga lolos babak 20 besar FSA. Waktu itu, dia masih tercatat sebagai siswa SMAN 6 Surabaya dan menjadi salah seorang kontestan termuda dalam kompetisi tersebut.

Saat itu dia belum bisa meraih juara. Desain baju buatannya baru bisa menembus 10 besar untuk kategori pilihan dewan juri. Pada kategori public choice award, Firzah sempat masuk tiga besar.

Rasa kecewa saat kompetisi tersebut masih dia pendam hingga kini. Khususnya saat pengumuman kategori public choice award. Ketika itu, penilaian hanya didasarkan pada tepuk tangan paling ramai penonton yang memenuhi ruang pertunjukan. Kontestan dari tuan rumah mendapatkan tepuk tangan paling meriah. Sementara itu, saat dia mempertontonkan busananya, suasana ruang pertunjukan menjadi sepi. Krik…krik…krik…

”Agak jengkel, sih. Soalnya like terbanyak yang diperoleh dalam Facebook paling tinggi adalah desain saya. Eh, di sana ternyata penentuannya cuma pakai tepuk tangan,” tuturnya, lantas tertawa.

Meski belum bisa menggondol piala, Firzah tidak pernah kapok untuk bertanding lagi di ajang bergengsi itu. Bagi dia, selalu ada hikmah dari setiap kekalahan. Dengan melihat pengalaman sebelumnya, dia kini lebih siap untuk bertanding.

Di FSA, desain baju bagus tidak cukup untuk meraih juara. Pada kompetisi tersebut, setiap desainer harus merancang baju dengan sangat detail. Kerumitan pembuatan juga menjadi penilaian lebih pada ajang FSA. Kalau perlu, buat baju seajaib mungkin.

Kelemahan itulah yang dulu belum dia perhitungkan saat mengikuti kompetisi kali pertama. Saat itu desain buatannya sekadar menggabungkan berbagai kebudayaan dalam satu set busana. ”Waktu itu, saya hanya tempel sana-sini. Nah, untuk tahun ini, kesalahan itu tidak ingin saya ulangi,” terangnya.

Saat ini Firzah sibuk mempersiapkan diri untuk merealisasikan rancangan bajunya. Dia harus bergegas. Sebab, baju harus jadi Agustus dan langsung dikirim ke Jerman.

Selain target untuk meraih juara, pada kompetisi FSA 2017, Firzah akan membuat misi lain untuk pengembangan bisnis yang sedang dia geluti. Berbekal komunikasi dengan salah seorang model FSA tahun sebelumnya, dia juga akan melakukan photoshoot untuk produk rancangan lainnya. ”Ya, sambil menyelam minum air. Biar keren, produknya difoto di luar negeri dengan model orang Jerman.” Kali ini, tawanya berderai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here