Dubes RI di Anugerahi Visiting Professor dari Universitas Tertua di Rusia

Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, M Wahid Supriyadi dianugerahi gelar Visiting Professor of International Relations dari National Research Tomsk State University (TSU). Gelar itu dianugerahkan bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-140 universitas tersebut pada Kamis (6/9) lalu.

 
Visiting Professor adalah dosen tamu yang diberikan universitas kepada seseorang yang memiliki kontribusi. Dikutip dari rilis KBRI Moskow, Minggu (9/9), penghargaan itu diberikan TSU karena Wahid berkontribusi di bidang hubungan internasional khususnya dalam pengembangan kerja sama antara Indonesia dengan Rusia.
“Dubes Wahid adalah dubes asing pertama yang diberikan award tersebut oleh TSU. Acara penganugerahan dihadiri Presiden TSU, Georgiy Mayer beserta jajaran staf dan staf pengajar, serta mahasiswa TSU. Hadir juga Rektor Universitas Pattimura, Ambon dan tamu undangan lainnya,” tulis KBRI Moskow.
“Dalam sambutannya, Georgiy Mayer mengatakan Dubes Wahid berupaya bukan menggunakan bentuk-bentuk pekerjaan standar yang biasa dilakukan, tetapi hal-hal baru yang dapat memberikan hasil signifikan dan nyata dalam pengembangan hubungan Indonesia dengan Rusia,” lanjutnya.
Tari Merak pada Pertunjukan Budaya di TSUTari Merak pada Pertunjukan Budaya di TSU. (Foto:Dok. KBRI Moskow)
Georgiy Mayer mengaku TSU bangga bisa menganugerahkan gelar tersebut. “Tomsk State University senang dan bangga melihat Duta Besar Wahid Supriyadi sebagai guest lecturer,” ucap Mayer.
Setelah penganugerahan, Wahid langsung didaulat untuk memberikan kuliah umum. Tema yang disampaikan adalah ‘Indonesia-Russia: From Image Building to Practical Cooperation’.
Dalam paparannya, Wahid mengatakan salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia dan Rusia adalah image building. Wahid mengungkapkan sebagian besar masyarakat dunia, termasuk Indonesia, masih menganggap Rusia sebagai kelanjutan dari Uni Soviet yang komunis dan masyarakatnya tertutup.
Penyelenggaraan Piala Dunia 2018 di Rusia telah mengubah persepsi banyak orang di dunia terhadap Rusia, termasuk orang Indonesia. Sebaliknya, sebagai negera berpenduduk Muslim terbesar dunia, negera dengan penduduk terbesar keempat dunia, serta perekononian ke-15 dunia, Indonesia kurang dikenal.
Tidak sedikit masyarakat dunia, termasuk Rusia, bahkan lebih mengenal Bali dari pada Indonesia. Wahid menggrisbawahi berbagai langkah yang dilakukan untuk lebih mendekatkan hubungan antara Indonesia dengan Rusia.
Salah satunya adalah dengan menyelenggarakan Festival Indonesia di Moskow yang sudah berlangsung tiga kali. Tak hanya itu, Wahid meyakini festival Indonesia dapat mempersempit jarak kesalahpahaman dan mispersepsi antara Indonesia dan Rusia.
“Hubungan antar masyarakat merupakan kunci utama, sebagaimana peribahasa Indonesia, yaitu tak kenal maka tak sayang”, tegas Dubes Wahid dalam presentasinya.
 Dubes Wahid Supriyadi menyampaikan kuliah umum di TSU Dubes Wahid Supriyadi menyampaikan kuliah umum di TSU. (Foto:Dok. KBRI Moskow)
Wahid lalu dalam presentasinya menjelaskan selama dua kali penyelenggaraan festival sebelumnya, tahun 2017 perdagangan Indonesia dan Rusia mengalami peningkatan 25% menjadi sebesar USD 3,27 miliar. Wisatawan Rusia ke Indonesia meningkat 37% menjadi 110.500 orang dan sebaliknya jumlah wisatawan Indonesia yang pergi ke Rusia sekitar 20 ribu orang.
Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, Wakil Rektor Bagian Hubungan Internasional TSU, Artyom Rykun menanyakan bagaimana Indonesia dengan keanekaragaman yang luar biasa dan wilayah yang kepulauan dengan sekitar 17 ribu pulau dapat bertahan hingga sekarang.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Dubes Wahid mengatakan bahwa pada 28 Oktober 1928, jauh sebelum Indonesia mendeklarasikan kemerdekaanya, kelompok pemuda dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di Batavia mengucapkan ‘Sumpah Pemuda’ untuk berbangsa, bertanah air dan berbahasa satu, yaitu Indonesia.
“Persoalan bahasa persatuan bahkan sudah diselesaikan oleh bangsa Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka, walaupun sekitar 40% orang Indonesia berbahasa Jawa,” jawab Dubes Wahid saat itu.
 
Selain kuliah umum, empat tarian daerah Indonesia yang dipersembahkan oleh Elisabeth Nur Nilasari dan Arianti Dian Nurrosi dari Tim Kesenian KBRI Moskow turut menyemarakan pertunjukan malam budaya. Keempat tarian tersebut adalah tari Gambyong Pareanom, tari Merak, tari Remo Pujanggan dan tari Magrapati.
TSU adalah salah satu Universitas tertua Rusia yang didirikan tahun 1878 dan merupakan Universitas Imperial Siberia Pertama. Saat ini TSU merupakan salah satu Universitas terkemuka di Rusia dan masuk dalam peringkat ke-277 dunia menurut QS World University Rankings 2018. Di TSU belajar mahasiswa asing, termasuk mahasiswa Indonesia.
Saat ini kedua negara sedang mengembangkan kerja sama antar perguruan tinggi. Rektor dari UI, UGM, ITB, IPB, Undip, dan Wakil Rektor ITS, serta perwakilan Unud yang tergabung dalam delegasi PLN berkunjung ke Rusia pada 3-8 September 2018.
Perguruan tinggi Indonesia tersebut melakukan penjajakan kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Rusia, yaitu Moscow Power Engineering Institute (MPEI), National Research Nuclear University MEPhI (Moscow Engineering Physics Institute), dan Gubkin Russian State University of Oil and Gas. Dalam kunjungan tersebut ditandatangani perjanjian kerja sama antara ITB dan UI dengan Russian State Agrarian University – Moscow Timiryazev Agricultural Academy (RSAU MTAA), dan ITB dengan Moscow Aviation Institute (MAI). Sementara UGM dan Unud sebelumnya telah menjalin menandatangani perjanjian kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Rusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here