Dua Siswa Surabaya Peraih Medali Emas di Ajang Global Youth Summit (GSY) Winter 2017

SISWA BERPRESTASI: Yayang Endro Arjuna (kiri) dan Raymond Susanto menunjukkan piala dan medali kemenangan mereka.

Dua siswa SMA Kristen Masa Depan Cerah, Surabaya terlihat dari raut wajah Yayang Endro Arjuna dan Raymond Susanto yang tampak semringah di Graha RA, Jalan Raya Laguna Selatan, Selasa (17/1). Dua siswa tersebut juga masih berkalung medali emas. Piala setinggi 50 cm berhias pita merah putih.

’’Ini hasil kami berdua saat mengikuti ajang di Kamboja kemarin (12–14 Januari, Red),’’ terang Yayang Endro Arjuna kepada Jawapos.

Ya, dua siswa tersebut baru saja berhasil mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional Global Youth Summit (GSY) Winter 2017. Tak tanggung-tanggung, keduanya berhasil menggondol juara I kategori senior dalam perlombaan yang mengangkat persoalan perbaikan lingkungan tersebut.

Dalam kompetisi itu, sekitar 20 tim bersaing. Mereka berasal dari Australia, Tiongkok, Filipina, Singapura, Kamboja, dan Indonesia.

Dalam kompetisi tersebut, Yayang dan Raymond menciptakan alat pengolahan sampah makanan yang dapat dijadikan kompos. Namanya Hygiene Food Sorter (HFS). Prinsipnya adalah sampah makanan dan air agar pengomposan menghasilkan kualitas yang baik.

Dengan mekanisme itu, HFS juga dapat membantu mengurangi bau yang tak sedap. Dengan pengurangan air, pembusukan akan terhambat. Sampah juga tak akan dikerubungi belatung.

Setelah turun ke bak, sampah tinggal dipindah ke bak lain khusus pengomposan. ’’Cukup mudah. Setelah seminggu kompos bisa langsung digunakan,’’ jelas siswa kelas XI MIA 2 itu.

Dari video singkat berdurasi 43 detik itu, bentuk alat ciptaan keduanya terlihat unik. Pipa panjang dengan sudut kemiringan 30 derajat menjulang ke atas. Di tengah pipa ada lubang kecil sepanjang 32 cm. Meluncur ke bawah ada pengunci untuk menahan sampah sementara.

’’Ini proses pertama kami memisahkan sampah dan air. Melalui lubang-lubang kecil itu, air akan keluar dan tertampung dalam ember di bawahnya,’’ jelas putra keempat pasangan Robert Arjuna-Ellen Sinatra tersebut.

Proses selanjutnya, terang penggemar tenis itu, sampah akan diturunkan lagi melalui pipa utama menuju pipa berukuran lebih besar. Sama seperti pipa pertama, pipa kedua memiliki lubang untuk mengeluarkan air.

Untuk mengurangi kadar air secara lebih efisien, keduanya menggunakan alat pres manual dengan memanfaatkan tenaga udara. ’’Setelah masuk semua, sampah kami pres. Dengan metode ini, kadar air dalam sampah bisa berkurang hingga 30 persen,’’ jelas pemuda kelahiran 15 Juli 2000 itu.

Selain bentuk yang unik, kisah keduanya untuk menciptakan HFS tak kalah menarik. Ya, untuk memaksimalkan penilaian kompetisi bertema water and waste management itu, Yayan dan Raymond memilih barang bekas untuk menciptakan produknya. Mulai pipa, akrilik, hingga klep untuk mengurangi keluarnya udara, semuanya mereka cari di pasar loak.

Ide tersebut berawal dari keresahan anak-anak muda itu melihat rendahnya kepedulian masyarakat terhadap pemanfaatkan limbah rumah tangga. Terutama soal sampah makanan yang setiap hari memang selalu diproduksi. Sisa makanan hanya berakhir di tong sampah depan rumah sebelum diambil petugas kebersihan setiap pagi.

Sampah makanan termasuk salah satu limbah yang dikeluarkan manusia setiap hari. Meski belum menemukan data pasti di Indonesia, keduanya menemukan bahwa di Malaysia produksi sampah makanan per hari mencapai 150 ribu ton. ’’Nah, di Indonesia lebih luas. Tentu jumlah sampah makanan yang dihasilkan pasti jauh lebih banyak,’’ jelasnya.

Bisa lolos ke Kamboja dan bersaing di kancah regional tentu tidak mudah. Sebelumnya, tutur Raymond, mereka harus mengikuti kompetisi tingkat nasional dan bersaing dengan banyak sekolah. Ada 40–50 tim yang ikut seleksi. Setelah itu, diambil 20 besar untuk pameran. Lalu, tiga besar dikirim ke Kamboja. ’’Saat itu kami juara II,’’ jelas pemuda kelahiran 2 Mei 2000 itu.

Putra pasangan Risman Sutanto-Yenny Yasan Pranoto itu mengatakan, dengan perjuangan yang berat tersebut, dirinya berharap HFS bisa dimanfaatkan masyarakat secara luas. Terutama dalam menggugah kesadaran masyarakat agar bisa memanfaatkan sampah makanan dengan baik. ’’Jadi, mereka tak jijik lagi dengan hadirnya alat ini,’’ tuturnya.

Untuk terus mengejar manfaat, Yayang dan Raymond juga terus memperbarui HFS. Terutama menyiapkan alat agar bisa digunakan secara otomatis. Sebab, mengunci dan menekan sampah masih menggunakan cara manual.

Siswa kelas XI MIA 1 itu menyatakan berencana menjalankan sistem otomatis dengan menggunakan tenaga angin dan panel surya. Itu dilakukan untuk mengejar produksi listrik yang ramah lingkungan. Agustus nanti mereka kembali diundang panitia GYS untuk melihat perkembangan HFS. ’’Semoga kami bisa menyelesaikannya,’’Ujar Raymond.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here