Doktor UI Ciptakan Aplikasi Untuk Atasi Penyakit Kardiovaskular

Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi demografi muda terbesar di dunia. Namun potensi besar untuk mengantarkan Indonesia menuju masa emas tersebut bisa terhalang dengan permasalahan kesehatan seperti masalah penyakit kardiovaskuler. Penyakit ini adalah salah satu penyakit paling mematikan dengan faktor penyebab utama adalah rokok.Rokok yang merupakan komoditas paling populer di Indonesia tentu saja meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit kardiovaskuler bagi generasi Indonesia. Sebab penyakit ini muncul karena adanya gangguan saluran pembuluh darah yang banyak diderita oleh perokok, penderita obesitas, ataupun diabetes. Berangkat dari kepopuleran penyakit ini, seorang doktor dari Universitas Indonesia berusaha untuk menemukan cara agar dunia medis mampu melakukan diagnosis dan mengobati penyakit kardiovaskuler secara efektif.

Kasus kardiovaskuler di ASEAN (Grafik: Katadata.co.id)
Kasus kardiovaskuler di ASEAN (Grafik: Katadata.co.id)
 Seperti dilansir humas UI, dalam sidang disertasi pada 9 Mei 2018 di Ruang Chevron Fakultas Teknik UI Dr. I Ketut Agung Enriko mengusulkan sebuah sistem berbasis teknologi telemedical untuk pengobatan kardiovaskuler di Indonesia. Sistem ini akan berusaha melaporkan hasil pemeriksaan kesehatan kepada dokter jantung secara jarak jauh melalui aplikasi website dan aplikasi mobil yang diberi nama My Kardio. Aplikasi ini memiliki sistem prediksi auto-rekomendasi yang mampu memberikan rekomendasi pada dokter dalam mendiagnosis penyakit kardiovaskuler yang diderita pasien.

Sistem ini menggunakan algoritma k-Neares Neigbors (kNN) dalam pengoperasiannya yang dinilai cukup baik dalam hal akurasi dan kecepatan pengambilan keputusan. Algoritma ini kemudian menggerakkan sistem untuk mengevaluasi kesehatan pasien.

Dr. I Ketut Agung Enriko usai sidang disertasi (Foto: dok. Humas UI)
Dr. I Ketut Agung Enriko usai sidang disertasi (Foto: dok. Humas UI)

Sistem ini juga telah diuji pada empat lokasi di daerah Jakarta yaitu Kampung Banjarsari (10 pasien), Cibubur (15 pasien), Cimanggis (37 pasien) dan Pancoran (23 pasien) dengan total sejumlah 85 pasien. Evaluasi kuantitatif menunjukkan bahwa rata-rata akurasi  sistem auto-rekomendasi mencapai 76,47%, waktu proses sistem auto-rekomendasi adalah 1 detik, dan performansi waktu transfer data dari lokasi pemeriksaan ke server M2M (machine to machine) adalah 8,97 detik.

Sementara evaluasi kualitatif juga dilakukan dengan melakukan wawancara pada para dokter spesialis jantung. Hasilnya terungkap bahwa aplikasi My Kardio dinilai sangat membantu terutama untuk daerah-daerah yang kekurangan dokter spesialis jantung. Tidak hanya itu, aplikasi ini juga bermanfaat untuk kota besar di mana akses pasien ke dokter jantung juga terkendala oleh waktu praktek dokter yang terbatas dan kemacetan seperti di Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here