Diaspora Australia Beraksi Bukan Sekedar Berjanji 2013-2017

Diaspora Australia Beraksi Bukan
Sekedar Berjanji
2013-2017

Executive Committee IDN-NSW

AGM IDN-NSW 19 JAN 2018

DAFTAR ISI
1. Kata Pengantar 6
2. Pendahuluan 7
3. Pembentukan IDN-NSW 9
4. Conference Indonesia Diaspora-II (CID-2) Pulang Kampung 10
5. Kolaborasi Dengan Masyarakat 12
5.1. Sekolah Anak Jalanan 12
5.2. Dari Penjaringan ke Sydney Opera House 13
6. Interactive Angklung For Peace and Unity 14
6.1. Interactive Angklung 15
6.2. Strategi Angklung Interaktif 17
6.3. Membangunkan Garuda Emas 17
6.4. Garuda Emas Membentangkan Sayap 18
6.5. Garuda Emas Memperketat Cengkramannya 18
7. Interactive Angklung For Peace and Unity Proposal 20
7.1. Australian Government 21
7.1.1. Letter To The Prime Minister 21
7.1.2. Response From The Prime Minister 22
7.2. Indonesian Government 23
7.2.1. Letter To The Indonesian Governor 23
7.3. KAIT Plus 25
7.4. Kolaborasi Dengan Universitas 27
7.5. Kolaborasi Dengan Pemerintah Indonesia 28
7.6. Marathon BBQ 31
8. IDN-AU Annual Gathering 2015 32
8.1. Acara Pembukaan 32
8.2. Laporan Kegiatan 33
8.3. Laporan Pertanggung Jawaban President AU 33
8.4. Pemilihan Sekretaris Jendral IDN-AU 33
8.5. Ucapan Terima Kasih 34
8.6. Profile 35
8.6.1. Sekretaris Jendral IDN-AU 2015-2017 35
8.6.2. Wakil 1 Sekretaris Jendral IDN-AU 2015-2017 36
8.6.3. Keynote Speakers 36
9. Congress of Indonesian Diaspora III (CID-3) Diaspora Bakti Bangsa 38
9.1. Diaspora Executive Council 40
9.2. Making Indonesia’s Maritime & Fisheries Sector Thrive 41
9.3. Open Governance Joint Research in Policy and Decision Making 45
9.4. Diaspora Executive Council Planning Meeting 46
9.5. Diaspora Gala Dinner 49
9.6. Diaspora Award 51
9.7. Side Events (DIASPORA GOES TO BANDUNG) 52
9.8. Diaspora Australia Hadir di Upacara 70th Indonesia di Istana 55
9.9. Diaspora Australia Visiting Saung Angklung Udjo 56
10. Pameran Dekranas 2016 57
11. Feeding The Zone 2016 62
12. Pembukaan IDN-Global di Gedung Mayapada Tower I 64
13. Diaspora Night 66
13.1. Sambutan Bapak Duta Besar 66
13.2. Sambutan Bapak Consul General 67
14. Congress of Indonesian Diaspora IV (CID-4) 68
14.1. Pembelajaran Jarak Jauh (Distance Learning) 68
14.1.1. Bahasa Inggris Masuk Desa 69
14.1.2. Kunjungan IDN Australia Ke Cipendawa 69
14.1.3. Mengunjungi Budidaya Jamur Di Cipendawa 70
14.1.4. Mengunjungi Tokoh Masyrakat Di Cipendawa 70
14.2. Teach The Teacher 70
14.3. Taiji and Qigong 72
14.4. Supporting Indonesia Coffee With Taiji 75
14.5. The 8th Indofest 5 Oct 2015 – Adelaide 76
14.6. Pentas di Anjungan Kalimantan Barat 78
14.7. Harmony Walk 80
14.8. Kang Pohon 83
14.9. Adopsi Pohon Rantau 83
14.10. Diaspora Australia In The News 86
14.10.1. Pohon Rantau GKI untuk Indonesia 86
14.10.2. Seorang Diaspora dan Pohon Rantau 88
14.11. Kopi Bajawa dan Kopi Arab 89
14.12. Pendidikan Dan Pelatihan Ekspor Indonesia (PPEI) 91
14.13. Kelinik Delima dan Valerie Giannie Coffee 93
14.14. Super Mentor: Every Dream is Possible 95
14.15. Wonderful Indonesia 96
14.16. Penelitian bersama (Joint Research) 97
14.17. Meningkatkan Ekonomi Pedesaan 99
14.18. Seragam IDN-NSW 103
14.19. Embracing Culture Enriching Nation 104
14.20. Appreciation Letter from Event Organiser 106
15. IDN Australia AGM 2015-2017 Adelaide 108
16. Pelestarian Kota Tua Jakarta 110
17. Diaspora Australia Mendukung Yayasan Lupus Indonesia 112
18. Diaspora Promosi Salah Satu Komoditi Indonesia Yang Terbaik Didunia 114
18.1. Fakta Mengenai Kopi Indonesia 115
18.2. Promosi Kopi Indonesia 116
18.3. Penyerahan MICE Certifikasi 119
19. Aksi Diaspora Australia 121
19.1. Karawang 121
19.1.1. Mengunjungi Karawag Untuk Pertama Kali 122
19.1.2. Mengunjungi Karawag Untuk Kedua Kali 125
19.2. Kepulauan Seribu 128
20. Conference Indonesia Diaspora VI (CID-4) 132
20.1. CID4-JUL – BERSINERGI BANGUN NEGRI 133
20.2. CID4-AUG – Dari Diaspora untuk Indonesiaku 134
20.3. Out-Reach Program 136
20.3.1. Kepulauan Seribu 136
20.3.2. Karawang 139
20.3.3. Benteng Museum Heritage 141
20.3.4. Ambon 142
20.3.5. Kediri 144
21. Kampung IT 152
21.1. Kediri Dapat Penghargaan Kota Cerdas 2017 dari Wapres Jusuf Kalla 156
21.2. Kampung IT Nusantara 157
21.3. Kampung IT Outsourcing Model 158
21.4. Koperasi Model Kampung IT 160
22. Joint Research 163
22.1. UNPAD International Symposium 164
23. Deklarsi Diaspora Indonesia 171
24. AGM 2013 172
24.1. Meeting Agenda 172
24.2. Committee Election 172
24.3. New Committee of IDN-NSW 173
25. AGM 2015 174
25.1. Meeting Agenda 174
25.2. President Report 175
25.3. IDN-NSW Elected Committee Member 177
26. Laporan Keuangan 178
27. Portal IDN-NSW 179
28. IDN-NSW Flyer 180
28.1. IDN-NSW Flyer Front Page 180
28.2. IDN-NSW Flyer Back Page 181
29. Referensi 185
1. Kata Pengantar
Gagasan menulis buku ini adalah untuk mengkompilasi kegiatan dan kontribusi nyata (“Give Back”) kita sebagai Diaspora Indonesia di Australia kepada Ibu Pertiwi semenjak berdirinya Diaspora di Australia pada tahun 2013 hingga akhir kepengurusan IDN-NSW 2015-2017, demikian juga dampaknya kepada rakyat kecil di desa-desa dan juga, baik bagi pemerintah daerah, maupun pusat di Nusantara.

Tidak ada cara yang salah atau benar dalam perjuangan Diaspora ini, karena kita semua berjuang dengan tulus hati untuk tujuan yang mulia, yaitu membuat Ibu Pertiwi berseri kembali.

Dalam kesempatan ini, kami sebagai executive committee IDN-NSW ingin mengucapkan rasa terima kasih kami kepada seluruh ormas dan lapisan masyarakat pengembara Indonesia, juga disebut Diaspora, baik di Australia maupun di Manca negara, yang secara sadar ataupun tidak, telah mendukung gerakan Diaspora, baik secara moril maupun material.

Ucapan terima kasih, juga kami sampaikan kepada seluruh jajaran Kementerian Luar Negeri Indonesia (KEMLU) RI, Kedutaan Besar RI (KBRI), Konsulat Jendral Republik Indonesia, Badan Koordinasi Penanaman Modal Asing (BKPM) dan Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC).

Juga tidak lupa, kami ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Bapak Penggagas Diaspora, Bapak Dino Patti Djalal dan Presiden RI yang ke 6, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang mendukung penuh gagasan Diaspora ini.

Terakhir, kami Diaspora di Australia mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya dari lubuk hati kami kepada seluruh masyarakat dan pemerintah Indonesia, sebab tanpa dukungan bangsa Indonesia, tepukan tangan kami sekuat apapun tidak akan berbunyi.

Salam Diaspora,
Executive Committee IDN-NSW Sydney, 19 January 2018
2. Pendahuluan
Seperti yang kita ketahui, IDN adalah singkatan dari Indonesia Diaspora Network. IDN ini merupakan cermin dari gerakan Diaspora diluar negeri yang dicetuskan oleh Mantan President, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono atau juga dikenal dengan nama akrabnya sebagai SBY dan Mantan Duta Besar Indonesia di Amerika Serikat, Bapak Dino Patti Djalal.

Bapak Dino adalah inisiator dari IDN yang diresmikan pada CID-I di Los Angeles pada tahun 2012. Beliau telah menginspirasi banyak diaspora Indonesia di dunia untuk menyatukan kontribusi positif mereka bagi Indonesia dan negara tempat mereka tinggal (Host Country). Sebagai diaspora Indonesia, kami memandang beliau sebagai ‘Bapak Pendiri Gerakan Jaringan Diaspora Indonesia”. Dalam istilah IDN, kata Diaspora berasal dari kata Junani διασπορά, “scattering, dispersion”. Jadi dengan kata lain, pengembara dari Indonesia adalah Diaspora Indonesia, baik yang bergabung dalam gerakan IDN maupun tidak.

Salah satu yang menjadi kesadaran pemerintah SBY atas pentingnya Diaspora pada saat itu disebabkan adanya laporan dari Bank Indonesia (BI), bahwa pada tahun 2012 jumlah pemasukan (remitansi) devisa negara oleh TKI sebesar USD 7,018 juta1) (USD7.0 millar) atau setara Rp 67.8 trillun dengan kurs USD 1 sebesar Rp 9.670,00 (per Desember 2012).

Bila melihat data remitansi dari negara-negara lain seperti yang tertera pada tabel3) dibawah ini, maka dapat dimengerti mengapa Diaspora dinegara-negara lain seperti India, China, Filipina dan sebagainya dianggap sebagai aset bangsa.

Dari daftar diatas, dapat dibandingkan pemasukan devisa yang sangat signifikan oleh TKI pada tahun 2012 sebesar Rp 67.8 trillun dapat dikatakan setara dengan pengeluaran kas negara pada tahun 2012 untuk pertahanan sebesar Rp 64,4 trilliun. Itulah sebabnya mengapa para TKI mendapat julukan sebagai Pahlawan Devisa.
Besarnya kontribusi TKI terhadap Ibu Pertiwi, dapat kita sadari bila remitansi TKI dibandingkan dengan anggaran pertahanan pemerintah Indonesia dari tahun 2005 hingga 20122) sbb:

Dari data diatas dapat dibayangkan, bagaimana perkembangan ekonomi Indonesia, bila TKI memiliki keterampilan-ketrampilan seperti India, China dan Filipina.
Sebagai aset bangsa, Diaspora sangat berpotensi untuk memberi kembali atau juga dikenal sebagai “Give Back” dengan keterampilan-keterampilan ataupun pengetahuannya yang telah mereka timba diluar negeri, kepada Ibu Pertiwi.

Jadi dapat disadari, mengapa pemerintah SBY mencetuskan konferensi Diaspora yang pertama di LA dan mengapa Diaspora bagi negara-negara seperti China, India, Filipina dan sebagainya dianggap sebagai aset bangsa. Bayangkan TKI dengan pendidikan yang rendah sudah dapat memberikan kontribusi nyata yang sangat berarti kepada Nusa dan Bangsa, apa lagi Diaspora-Diaspora yang berpendidikan tinggi dan juga sudah mapan dinegara dimana mereka berada (host country). Inilah yang membuat negara-negara seperti China, India, Filipina dan lain-lain, dapat maju dengan pesat dalam waktu yang relatif sangat singkat dan tidak perlu menunggu perkembangan dari negara masing-masing yang pada umumnya sangat lamban.
3. Pembentukan IDN-NSW
Sebagai kelanjutan dari semangat gerakan Diaspora Indonesia yang dicetuskan dalam konferensi pertama (CID-1) di LA, maka pada tanggal 6 Juli 2013 terbentuklah IDN Australia (IDN-AU), dimana pembentukan IDN-AU tersebut penuh didukung oleh Bapak Gary Jusup, Konjen KJRI Sydney berserta KBRI Australia, seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini:

Berkat peran Bapak Dino yang sangat aktif dan dukungan Pemerintah Indonesia, IDN kini mewakili lebih dari 50 perwakilan di dunia. Sehingga tidak lama setelah terbentuknya IDN di Australia (IDN-AU), para Diaspora diseluruh manca negara mempersiapkan CID yang kedua (CID-2) di Jakarta dengan tema: “Pulang Kampung”.
4. Conference Indonesia Diaspora-II (CID-2) Pulang Kampung
Pada acara CID-2 yang pertama kalinya digelar di Tanah Air, setiap utusan Diaspora dari manca negara memberi penjelasan berupa wacana dalam seminar-seminar yang diadakan di CID-2 dan dihadiri oleh baik instansi-instansi pemerintah maupun segala lapisan masyarakat di Indonesia. Mereka semua menyatakan bagiamana mereka dapat berpartisipasi dan ikut mengambil bagian dalam membangun Nusa dan Bangsa.

Seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini, Diaspora Australia dengan sangat bersemangat berbondong-bondong “Pulang Kampung” dan menyatakan apa yang dapat mereka sumbangkan bagi Ibu Pertiwi.

Seminar yang disumbangkan oleh Diaspora Australia (IDN-AU) adalah seminar mengenai “Helping Indonesia Grow” melalui Agricultural Economy.

Setelah seminar berachir dengan baik, Bapak Dino, Pendiri Gerakan Jaringan Diaspora Indonesia, menyatakan dengan bersemangat bahwa setelah kita berhasil dengan CID-2, mulai dari sekarang kita harus memikirkan konferensi berikutnya (CID-3) yang direncanakan akan diadakan dipertengahan tahun 2015. Tetapi dalam CID-3 nanti, jangan lagi kita memaparkan wancana-wancana seperti halnya dengan CID-2, tetapi perlihatkan hasil dari wacana yang telah dipaparkan pada CID-2 ini, tutur Beliau.

Sesuai dengan pengarahan Pak Dino, setelah kami semua kembali kenegara masing- masing, kami mulai merencanakan apa yang dapat kami sebagai Diaspora di Australia lakukan untuk Ibu Pertiwi. Salah satu kebijaksanaan yang di ambil oleh Diaspora Australia adalah sebelum kita dapat melakukan sesuatu yang berguna bagi Ibu Pertiwi, belajarlah terlebih dahulu dari rakyat dan pemerintah Indonesia untuk mengetahui apa yang diperlukan untuk membangun masa depan Indonesia. Untuk mempersiapkan CID yang ke tiga pada tahun 2015 sesuai dengan amanat Pak Dino, kami Diaspora di Australia memutuskan dalam
urun dua tahun, untuk mulai mengirimkan wakil-wakil Diaspora untuk berkolaborasi dengan semua lapisan masyarakat, universitas dan pemerintah Indonesia sejak awal tahun 2014.

5. Kolaborasi Dengan Masyarakat
5.1. Sekolah Anak Jalanan
Gambar dibawah adalah pertemuan kami bersama Ibu Dina Sari dengan sekolah SAJA (Sekolah Anak JalanAn). Pertemuan ini juga ditayangkan langsung dalam bentuk life video conference antara para Diaspora di KJRI Sydney, Australia dengan Sekolah SAJA di Jakarta Utara, dekat pelabuhan Sunda Kelapa.

5.2. Dari Penjaringan ke Sydney Opera House

Seperti yang terlihat pada gambar diatas, salah satu solusi yang sedang kami, Diaspora di Australia, lakukan adalah menghapuskan kemiskinan dari Bumi Nusantara dengan berbagai upaya:

1. Promosi Angklung ke Manca negara
2. Membangun Desa agar tidak terjadi urbanisasi
a. Promosi kopi Indonesia ke Manca negara
b. Promomisi Bambu ke Manca negara
c. Membangun Desa Pintar (Smartvillage) di seluruh provinsi Indonesia
3. Mendukung UMKM (Usaha Micro, Kecil dan Menengah)

Mohon dukungan dan doa restu dari teman-teman semua agar kemiskinan di Nusantara pada suatu waktu yang tidak terlalu jauh dapat dikikis abis dari permukaan bumi Nusantara.

6. Interactive Angklung For Peace and Unity
Bunga duka mengisi Martin Place (Sumber: The Sydney Morning Herald, December 18, 2014)

Dalam rangka untuk mengungkapkan belasungkawa kami yang sedalam-dalamnya sehubungan dengan peristiwa yang terjadi tiga (3) tahun yang lalu di Martin Place, Jaringan Diaspora Indonesia (IDN) di Australia, bersama-sama dengan masyarakat Indonesia, merencanakan untuk menjadi tuan rumah acara publik guna membantu menyebarkan pesan persatuan dan perdamaian.

Terinspirasi oleh keberhasilan rekor dunia ‘Terbesar Angklung Ensemble’ yang diadakan di Indonesia Festival pada tahun 2011, (Washington Monument Grounds, 9 Juli 2011), kami berencana untuk menggunakan instrumen yang sama, sebagai alat untuk melibatkan sesama Australia, terlepas dari ras, suku ataupun agama, untuk bersama-sama menyuarakan pesan persatuan dan harmoni.

Angklung adalah instrumen sederhana, alat tradisional Indonesia yang dapat mempromosikan kerja sama dan harmoni sosial, sebab setiap instrumen hanya dapat memainkan satu nada atau chord, sehingga membutuhkan kerjasama dari sekelompok orang untuk menghasilkan melodi yang serasi.

Sebagai bagian dari Hari Harmony Australia (21 Maret), kami dari IDN di Australia ingin memfasilitasi serangkaian pertunjukan Angklung interaktif yang terkoordinasi, terbuka untuk umum. Acara pertama akan digelar di Martin Place, Sydney, kemudian diikuti dengan pertunjukan serupa di kota-kota besar lainnya.
Harmony Day diperingati pada setiap tanggal 21 Maret di Australia. Harmony Day dimaksudkan untuk menunjukkan kohesi dan inklusi di Australia dan mempromosikan masyarakat yang toleran dalam beragam budaya.

Harmony Day dimulai pada tahun 1999, bertepatan dengan Hari Internasional PBB guna menghilangkan diskriminasi rasial. Peringatan ini diwujutkan oleh orang-orang berkumpul bersama-sama dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan lokal.

Masyarakat lokal sendiri yang memutuskan bagaimana mereka ingin berkumpul bersama- sama untuk menandai kesempatan ini, misalnya minum teh pagi bersama, berpakaian kostum nasional, bermain angklung dan sebagainya.
6.1. Interactive Angklung
Angklung adalah alat musik tradisional dari Indonesia yang biasanya dimainkan oleh banyak orang secara bersamaan. Dalam sesi bermain interaktif, konduktor dapat mengatur dengan menggunakan sinyal tangan khusus seperti yang ditunjukkan pada gambar dibawah ini (kiri):

“When you shake that Angklung, shake it hard, shake it and knowing it at your heart and send the message loud and clear to the world, to our future, to our children, that we are one.” — Dino Patti Djalal, former Indonesia’s Ambassador to the United States

Gambar diatas sebelah kanan membuktikan terjadinya Rekor Dunia untuk ‘ Angklung Ensemble Yang Terbesar’ di Festival Indonesia 2011. Acara ini diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC dan Badan Koordinasi Penanaman Modal Indonesia , didukung oleh Saung Angklung Udjo ( Pak Daeng Udjo ) dan House of Angklung DC ( Ms. Tricia Sumarijanto ).
Angklung adalah alat musik yang terbuat dari dua hingga empat tabung bambu yang menempel ke bingkai bambu. Tabung yang diukir memiliki nada resonan bila tergetar yang diatur sesuai dengan skala oktaf. Dasar bingkai digengam pada satu tangan, sementara tangan yang lain menggetarkan instrumen. Hal ini menyebabkan getaran suara terdengar berulang. Masing-masing pemain, dari tiga atau lebih dalam suatu Angklung ensemble bermain hanya satu atau dua angklung, tapi mereka bermain bersamaan untuk melengkapi melodi yang dihasilkan.
Angklung adalah alat musik populer di seluruh Asia Tenggara, namun berasal dari Jawa Barat dan provinsi Banten di Indonesia. Angklung telah dimainkan oleh orang- orang Sunda selama berabad-abad. Angklung dan musik telah menjadi identitas budaya masyarakat Sunda di Jawa Barat dan Banten. Bermain Angklung sebagai orkestra
membutuhkan kerjasama dan koordinasi, dan diyakini untuk mempromosikan nilai-nilai kerja sama tim yang saling menghormati dan menjunjung keharmonisan sosial.

Pada tanggal 18 November 2010, UNESCO secara resmi mengakui Angklung Indonesia sebagai Karya Lisan dan Takbenda Warisan Manusia dan mendorong masyarakat Indonesia dan pemerintah untuk menjaga, meneruskan, mempromosikan pertunjukan dan mendorong keahlian pembuatan Angklung. Menurut sesepuh Sunda, tabung angklung melambangkan kehidupan manusia; dengan tabung itu sendiri melambangkan manusia. Angklung tidak bisa menjadi instrumen yang kita temukan sekarang ini, bila angklung hanya terdiri atas satu tabung.

Ini merupakan perwujudan kenyataan bahwa manusia adalah ‘makhluk sosial’ menurut Aristoteles, dan bahwa mereka tidak dapat hidup baik dalam isolasi. Tabung besar dan kecil yang terletak di samping satu dengan yang lain pada setiap angklung menyatakan pertumbuhan dan kemampuan individu.
Ukuran tabung yang berbeda menunjukkan kenyataan bahwa semua manusia memiliki peran yang berbeda untuk bermain dan menciptakan harmoni di dunia ini.

Motto Australia: “We are one, but we are many”, telah dikenal di Indonesia sejak berabad- abad sebagai ” BHINNEKA TUNGGAL IKA “. Ini adalah motto nasional Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika diambil dari sebuah puisi yang ditulis di abad ke-14 yang mengajarkan toleransi beragama.

Saung angklung Udjo

6.2. Strategi Angklung Interaktif

Gambar di atas menggambarkan strategi Interaktif Angklung yang digunakan untuk menyebarkan pesan “BHINNEKA TUNGGAL IKA “. Angka-angka yang ditemukan pada gambar di atas sesuai dengan strategi berikut :
1. Membangunkan Garuda Emas
2. Garuda Emas Membentangkan Sayap
3. Garuda Emas memperketat cengkramannya
6.3. Membangunkan Garuda Emas

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang multikultural. Ini disebabkan oleh beragamnya suku bangsa, agama, bahasa dan lain-lain. Tercatat sejak abad ke 14, Indonesia sudah menganut semboyan multikulture sebagai “Bersatu dalam Keragaman”, dimana paham ini juga dianut oleh pemerintah Australi sejak dihapusnya “White Policy” pada tahun 1973.

Semboyan “Bersatu dalam Keragaman” dikukuhkan sebagai lambang nasional Indonesia, dimana bagian utama adalah ‘Garuda’ dengan
perisai di bagian dada dan mencengkram sehelai pita suci yang bertulisan: “Bhinneka Tunggal IKA”. Perisai lima emblem mewakili Pancasila, lima prinsip filsafat nasional Indonesia.

Tulisan “Bhinneka Tunggal IKA” ini umumnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai: “Unity in Diversity”, dimana semangat toleransi beragama merupakan elemen penting dalam dasar dan keamanan Republik Indonesia.

Pesan “Bhinneka Tunggal IKA” Indonesia dan pesan “Unity in Diversity” Australia adalah pesan-pesan yang sangat berharga dan tepat bagi Harmony Day dan Hari Internasional PBB untuk diteruskan keseluruh pelosok dunia melalui sarana getaran angklung dengan acara Interaktif Angklung yang akan diawali di Martin Place.

Alunan getaran angklung di Sydney akan disusul oleh seluruh Diaspora Indonesia di setiap negara bagian di Australia yang akhirnya dapat menghasilkan getaran Qi energi yang cukup besar sehingga Garuda Emas terbangun.
6.4. Garuda Emas Membentangkan Sayap
Garuda Emas yang terbangun dari pangkuan Ibu Pertiwi akan membentangkan dan mengepakan kedua sayapnya keseluruh pelosok di Nusantara, sehingga menimbulkan getaran gelombang dahsyat yang melanda keseluruh dunia bagaikan gelombang tsunami.

Aksi Garuda Emas diwujutkan oleh para Diaspora di Indonesia yang bergabung dalam kesatuan Global Diaspora Indonesia dengan menggelarkan acara Angklung Interaktif diseluruh Nusantara pada saat yang sama, sehingga gelombang energi perdamaian dari Australia diperkuat berlipat ganda menimbulkan gelombang getaran Qi yang melanda keseluruh penjuru mata angin didunia.
6.5. Garuda Emas Memperketat Cengkramannya
Melalui getaran Angklung diseluruh Nusantara, kami akan memobilisasi Diaspora Indonesia di seluruh dunia untuk masing-masing memperkuat getaran Qi yg telah didengungkan di Nusantara dan aktif mengambil bagian dalam mengatur dan melaksanakan acara Interaktif Angklung di negaranya masing-masing, sehingga getaran angklung yang dialunkan di Nusantara dapat menjadi getaran resonansi pada skala global.

Dalam hal ini, pengertian memperketat cengkeraman adalah mempertegas “Unity in Diversity” yang di nyatakan dalam “Bhinneka Tunggal IKA”

Rekor Dunia 20.000 Angklung – Lagu We are The World, Sambutan KAA Bandung

Sebuah rekor dunia baru ditetapkan sekitar 20.000 orang berkumpul di Stadion Siliwangi di Bandung pada hari Kamis (23/4/2015) untuk bermain Angklung untuk Peringatan Konferensi Asia Afrika ke-60. Acara tersebut disaksikan oleh delegasi internasional dari seluruh dunia.
7. Interactive Angklung For Peace and Unity Proposal
Bila kita berhasil mencapai rencana interactif angklung sedunia ini dengan memperkuat gelombang getaran asal dari Australia di Nusantara sehingga terjadi gelombang tsunami harmoni yang positif sebelum energi negatif melanda dunia, kita akan dapat mencapai hasil sebagai berikut:

1. Melalui berabad-abad praktek toleransi, Indonesia akan dapat diakui sebagai contoh perdamaian di dunia.
2. Tidak saja kebudayaan Angklung dari Indonesia akan dikenal di seluruh dunia, tetapi juga akan membantu memperkenalkan aspek-aspek budaya Indonesia lainnya termasuk batik, gamelan, kerajinan tangan, kuliner dan parawisata Indonesia. Secara keseluruhan ini akan berdampak positif kepada perekonomian Indonesia dan menaikan martabat bangsa.
3. Peristiwa global yang meningkatkan kesadaran dan popularitas angklung akan dapat mendorong permintaan angklung di dunia. Karena angklung terbuat dari bambu, yang tumbuh berrumpun dari Sabang sampai Merauke, bila kita menjaga keserasian hutan bambu hitam (awi wulung) dan bambu putih (awi temen) yang merupakan bahan mentah angklung dengan permintaan angklung dunia, maka hal ini akan membantu industri angklung Indonesia dan juga memperkuat industri musik Indonesia.
4. Semoga upaya dan kontribusi nyata dari Diaspora Indonesia diseluruh dunia dapat diakui dan didukung oleh seluruh masyarakat di Indonesia, sehingga dapat disadari pentingnya Dwi Kewarganegaraan bagi Diaspora Indonesia untuk membangun masa depan Indonesia.
5. Dengan mempromosi Angklung ke Manca negara, bukan mustahil, pada suatu hari impian anak-anak jalanan untuk dapat mementaskan keachlian bermain angklung di Sydney Opera House dapat terwujud.
7.1. Australian Government
7.1.1. Letter To The Prime Minister
7.1.2. Response From The Prime Minister

7.2. Indonesian Government
7.2.1. Letter To The Indonesian Governor

7.3. KAIT Plus
Selain mengunjungi sekolah SAJA, kami bersama Ibu Dina Sari juga mengunjungi KAIT Plus di kecamatan Pamulang Timur, Tanggerang Selatan. KAIT Plus merupakan kependekan dari Keluarga Akrab Imam Taqwa Plus yang merupakan sebuah program dari Yayasan Alang-Alang yang di ketuai oleh Ibu Melati.

Kerja sama Diaspora Australia dengan KAIT Plus di awali dengan dikenalkannya Ibu Melati dengan Bapak Rudolf Wirawan oleh Ibu Dina Sari, Diaspora di Australia. Bapak Rudolf dan Ibu Dina sudah bertemu sebelumnya dan membahas beberapa kemungkinan kerjasama yang bisa di bangun.

Ibu Melati mendirikan BSB (Bermain Sambil Belajar) berdasarkan filosofi Alang-alang, dimana alang-alang tumbuh kuat mengisi kekosongan untuk mencegah erosi.

Program ini dinamai BERMAIN SAMBIL BELAJAR PLUS karena pengalaman empiris membuktikan bahwa pelajaran apa pun akan diserap dan difahami dengan tingkat keberhasilan yang tinggi manakala materi yang sampai kepada penerimanya diperoleh dalam keadaan ‘stress-free’ atau bebas tekanan.

BERMAIN bukanlah ‘main-main’. Konotasi BERMAIN memang sering diartikan sebagai ‘tidak serius’ atau ‘tidak disiplin’ padahal tidak demikian. Dalam melaksanakan BERMAIN seseorang akan berkonsentrasi penuh – karena ia melakukannya dalam keadaan nyaman dan senang – namun sesuai dengan kemampuan dan kesanggupannya masing-masing, oleh sebab itu jauh dari tekanan
dan paksaan, yang akan menghambat diterimanya sesuatu, apakah itu ilmu atau keterampilan.

BERMAIN adalah suatu kondisi dimana semua pihak, yang terlibat, berada dalam suasana yang nyaman, bersahabat dan menyenangkan. Dan keadaan ini terciptakan melalui ‘ruang’ (space), ‘waktu’ (time), ‘arahan’ (directives), fokus (focus) dan konsistensi (consistency).

BERMAIN disajikan dalam bentuk-bentuk PERMAINAN yang tetap mengacu kepada obyektif tertentu. Misalnya, pengenalan warna-warna melalui gerakan, lagu dan contoh- contoh yang terdapat di sekeliling. Atau pengenalan bentuk melalui menggambar bulatan sebagai bentuk dasar.

Kunjungan IDN Australia_Lagu untuk Mama by murid KAIT Plus Pamulang

Pada kedatangan Diaspora Australia untuk kedua kalinya, Bapak Osco disambut oleh Ibu Karina Maharani yang merupakan Direktur di KAIT Plus. Di akhir kunjungan Bapak Osco, Ibu Karina menyampaikan besar harapannya kepada IDN Australia untuk dapat membantu KAIT Plus. Mereka membutuhkan pengembangan wawasan bagi para kakak pembimbing dan Buku-Buku bekas. IDN NSW sudah mulai dengan Indonesia Pintar e-Library. Bapak Osco berharap IDN dari state lain dapat membantu dalam pengumpulan barang-barang bekas layak pakai untuk membantu keluarga dari ekonomi kurang mampu melalui KAIT Plus.

7.4. Kolaborasi Dengan Universitas
Seperti yang diutarakan diatas, kami juga mengunjungi universitas di Indonesia dan kami mendapat tanggapan yang positif dari Universitas Nasional (UNAS) di Jakarta. Pada gambar di bawah terlihat perbincangan antara team Diaspora (Bpk Olfriady Letunggamu, Ibu Dina Sari) dan UNAS yang dipimpin oleh Bapak TB Massa Djafar, PhD yang menyatakan keinginan dari pihak UNAS untuk bekerja sama dengan universitas di Australia.

Pada pertemuan berikutnya dengan UNAS, dibahas lebih lanjut mengenai keinginan UNAS untuk bekerja sama dengan universitas di Australia dan diputuskan untuk berkerja sama di bidang Open Government dengan mengunakan eGovernment dan Diaspora Australia mendapatkan mandat seperti yang tertera diatas diiringi dengan TOR (Term of Reference) yang bersangkutan dari UNAS dan kami sebarkan keinginan dari UNAS ke seluruh Diaspora di Australia. Dalam waktu yang relatif singkat, kami mendapat jawaban dari Ibu Firda Firdaus, Diaspora dari IDN-SA cabang Adelaide, yang menyatakan bahwa Prof Janet McIntyre dari universitas Flinders tertarik dengan TOR yang dibuat oleh UNAS.

Setelah melakukan beberapa kali pertemuan jarak jauh melalui SKYPE mengenai TOR dan keinginan UNAS untuk berkerja sama dengan universitas di Australia, maka pada tgl 22-24 April 2015, Prof Janet di undang ke Jakarta untuk meresmikan kerja sama (joint research) antara kedua university tersebut. Pada kesempatan ini, ternyata tidak saja universitas UNAS, tetapi UI, UNPAD dan UGM juga tertarik dengan kerja sama tersebut. Achirnya dibentuklah konsortium yang terdiri atas Flinders, Wirasoft, UNAS, UI, UNPAD dan UGM.

7.5. Kolaborasi Dengan Pemerintah Indonesia
Dalam berkolaborasi dengan pemerintah, Diaspora Australia aktif mengambil bagian dalam pembangunan Poros Maritim Dunia seperti yang di canangkan oleh Bapak JKW: “Kita ingin Indonesia menjadi poros maritim dunia. Kita harus memenangkan pertarungan di Samudera dan maritim. kita ingin negara kita berdaulat”

Untuk itu kami, Diaspora Australia bekerja sama dengan Bapak Martono Yuwono, mewujudkan “Poros Maritime Dunia” dengan membuat portal bersama yang disebut “Cunda Calapa”. Tujuan dari portal ini adalah mengumpulkan bukti-bukti sejarah bahwa Indonesia pernah mengarungi samudra dengan kapal-kapal Pinisi. Menurut sejarah, kapal Pinisi telah digunakan di Indonesia sejak beberapa abad yang lalu, diperkirakan kapal Pinisi sudah ada sebelum tahun 1500an. Menurut naskah Lontarak I Babad La Lagaligo pada abad ke 14, Pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading, Putera Mahkota Kerajaan Luwu untuk berlayar menuju negeri Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai.
Sawerigading berhasil ke negeri Tiongkok dan memperisteri Puteri We Cudai.

Sebagai utusan dari IDN-Australia dan untuk memenuhi undangan dari Bpk Martono Yuwono, Bpk Rudolf Wirawan dari IDN-NSW ikut menghadiri dan mengsukseskan hari Peringatan Kelautan Sedunia atau World Oceans Day (WOD 2015 di Jakarta) yang diperingati setiap tanggal 8 Juni. “Tema peringatan tahun ini yakni ‘Healthy Oceans Healthy Planet’ mengandung makna bahwa kita akan menjamin lautan yang memenuhi kebutuhan saat ini harus dijaga kelestariannya agar dapat diwariskan pada generasi yang akan datang”, ujar Sekretaris Dewan Kelautan Indonesia (DEKIN) Bpk Dedi H. Sutisna mewakili Menteri Kelautan dan Perikanan saat memberikan sambutannya pada Sarasehan Nasional dalam rangka World Oceans Day (WOD) di Jakarta, Senin (08/06).

Sementara itu, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB) Bpk Yuddy Chrisnandi yang juga hadir pada Sarasehan Nasional ini mengatakan, peringatan World Ocean Day dijadikan momentum untuk menggelorakan isu poros maritim secara berkesinambungan, untuk bisa menjadikan Indonesia negara yang kokoh. Saat itu, lanjutnya, angkatan laut Indonesia masih sangat lemah, padahal Indonesia memiliki laut yang sangat luas.

Bpk Yuddy sempat bertemu dengan salah seorang konseptor kelautan, Bpk Martono, dan membicarakan mengenai konsep poros maritim. “Beliau menjelaskan tentang sejarah
maritim Indonesia, posisi strategis Sunda Kelapa dan betapa pentingnya kemaritiman Indonesia di mata dunia, yang menorehkan sejarah yang panjang,” sambungnya. Kegiatan peringatan WOD ini tidak diisi dengan seminar tetapi dengan sarahsehan yang dimotori oleh Kesatuan Nelayan Traditional Indonesia (KNTI).

Sore harinya diadakan bedah buku “Kebangkitan Jiwa Bahari Bangsa Indonesia” untuk menggugah semangat kota Joang dalam Visi Jakarta Baru di Era Global oleh Bpk Martono tentang bagaimana membangkitkan kembali budaya bahari yang merupakan salah satu pilar dalam membentuk Indonesia sebagai poros maritim dunia”.

Pada kesempatan tersebut Bpk Rudolf sempat berdiskusi dan memberi informasi mengenai program-program kerja dari IDN-Australia yang akan dijadikan sesi-sesi acara pada Conference Indonesia Diaspora yang ke tiga (CID-3) kepada pengunjung Peringatan Kelautan Sedunia dan sempat menyebarkan formulir pendaftaran untuk CID-3 pada meja- meja peserta. Dari hasil diskusi, ada sekitar sepuluh (10) peserta tertarik dan akan ikut menghadiri CID-3 yang akan diadakan di Jakarta pada tanggal 12-14 Agustus 2015.
Menyadari bahwa spirit Diaspora seirama dengan spirit “Poros Maritim Dunia”, Bapak Martono mengundang Diaspora Indonesia untuk ikut dalam acara “Patriot March” pada tanggal 16 Augustus 2015, yang akan dimulai dari Sunda Kelapa (Patriot Point) to Ancol (Global Point). Dimana “Patriot March” direncanakan akan dibuka oleh Bpk Presiden Joko Widodo.

7.6. Marathon BBQ
Untuk memperisapkan CID-3 di Jakarta, kami tentunya juga tidak melupakan Diaspora- Diaspora yang berada di Luar negeri dengan menghimbau teman-teman kami yang berada di Australia untuk ikut berpartisipasi pada konferensi CID-3 di Jakarta.

Seperti yang terlihat pada gambar diatas, berkat kerja sama yang erat dengan pihak KJRI yang di pimpin oleh Bapak Yayan Ganda Hayat Mulyana, Konjen KJRI di Sydney, Australia, kami mengadakan kampanye keliling yang dimulai dari Sydney, Cambelltown, Wollongong, Newcastle dan berachir di CID-3 di Jakarta.
Pada kampanye tersebut, selain kami mengajak teman-teman agar mau peduli dengan Ibu Pertiwi, kami juga memberi informasi mengenai apa yang telah diperbuat oleh teman-teman Diaspora di manca negara.
8. IDN-AU Annual Gathering 2015
Pada hari sabtu tanggal 24 Januari 2015 pukul 10:30, telah di adakan Annual Gathering Indonesian Diaspora Network (IDN) Australia. Seluruh perwakilan IDN dari masing-masing state di Australia berkumpul untuk memberikan laporan atas apa yang telah, sedang dan akan di lakukan ke depannya sebagai program kerja.
8.1. Acara Pembukaan
Acara di buka dengan kata sambutan dari Konjen RI Sydney, Bapak Yayan Mulyana. Beliau menyampaikan permintaan maaf jika acara Annual Gathering IDN Australia yang seharusnya di adakan di KJRI harus berpindah ke Macquarie University karena mendadak tempat di KJRI akan di pakai untuk kegiatan dari kementrian luar negeri.
Dalam kata sambutannya, Bapak Yayan sangat mendukung setiap kegiatan IDN Australia. Beliau sempat membahas Dwi Kewarganegaraan (DK) dan menginformasikan bahwa sekarang DK sudah terdengar sampai kepada rekan-rekan beliau di Jakarta.
Tak lupa Bapak Yayan juga menghimbau IDN untuk mempelajari benefits yang bisa di dapat dari DK dan juga mempelajari apakah Negara asing tempat kita berdomisi akan juga memberlakukan hal yang sama, jika Negara Indonesia memberlakukan DK.
8.2. Laporan Kegiatan
Setelah kata sambutan dari Bapak Yayan, acara di lanjutkan dengan laporan kegiatan dari setiap state. Di mulai dari IDN WA yang di wakili oleh Bapak Diski Naim, IDN QLD oleh Bapak Noel Pranoto, IDN SA oleh Bapak Andrian Wiguna dan IDN NSW oleh Bapak Rudolf Wirawan. Selain itu representative dari IDN ACT dan IDN VIC juga hadir dan di wakili oleh anggota nya.

8.3. Laporan Pertanggung Jawaban President AU
Secara singkat sebelum istirahat makan siang, Dr. Salut Muhidin kepala R&D IDN Australia membacakan laporan pertanggung jawaban president IDN Australia mewakili Frans Simarmata (President IDN AU tahun 2013) dan Oki Musakti (Acting President IDN AU tahun 2014-2015) yang kebetulan kedua nya berhalangan hadir untuk menyampaikannya secara langsung.
8.4. Pemilihan Sekretaris Jendral IDN-AU
Sehabis makan siang bersama, acara di lanjutkan dengan pemilihan Sekretaris Jenderal (SekJend) IDN AU.

Kali ini format kepengurusan IDN AU berbeda dari yang sebelumnya. President IDN dari seluruh state menyempakati untuk merubah struktur kepengurusan IDN AU yang ada.
Presidium menyetujui untuk menghapus posisi President IDN AU, yang kemudian di gantikan perannya oleh Sekretaris Jenderal IDN AU. Dengan format yang baru ini, SekJend akan membawahi Task Force yang merupakan Agenda Utama perjuangan IDN. SekJend akan berkoordinasi dengan president-president chapter dan bersinergi dalam mensukseskan setiap Task Force yang ada. Penjelasan mengenai struktur yang baru di sampaikan oleh Bapak Diski Naim dan di setujui oleh setiap peserta Annual Gathering yang hadir.

Dengan di setujuinya struktur yang baru tersebut, maka di ajukan ke dalam forum nama calon kandidat SekJend. Dua nama muncul sebagai bakal calon SekJend IDN AU yang akhirnya di putuskan secara aklamasi Bapak Olfriady Letunggamu atau yang kerap di panggil Osco dari IDN NSW untuk menjadi Sekretaris Jenderal IDN AU. Nama kedua yang yang muncul dan terpiih menjadi Wakil SekJend satu (1) adalah Bapak Bernard Tampubolon dari IDN WA.
Sebelum pengajuan nama bakal calon SekJend IDN AU, di sepakati bersama bahwa untuk menjaga optimalisasi kerja SekJend IDN AU, maka di setujui untuk adanya Wakil SekJend dua (2) yang kemudian akan di pilih oleh SekJend dan Wakil SekJend satu (1).

8.5. Ucapan Terima Kasih
Tepat pada pukul 4 sore, Annual Gathering IDN AU tahun 2015 berakhir. Panitia dari IDN NSW mengucapkan terima kasih dan menyampaikan Annual Gathering IDN AU tahun 2015 berjalan sangat demokratis dan sukses dengan penuh nya ruangan di Macquarie University. SekJend IDN AU terpilih, Bapak Olfriady Letunggamu (Osco) menyampaikan terima kasih atas kepercayaan seluruh Diaspora di Australia dan berjanji akan menjalin tali persaudaraan dan komunikasi yang baik kepada seluruh organisasi masyarakat Indonesia di Australia.
Bapak Osco juga mengatakan bahwa walaupun IDN masih sangat muda, namun IDN mempunyai jaringan networking yang Global. Ini merupakan kesempatan bagi setiap organisasi masyarakat Indonesia di Australia untuk bersinergi lebih intensive lagi dengan IDN Australia untuk membangun jaringan yang luas dan saling membantu.

Di akhir ucapakan terima kasih nya, Bapak Osco mengatakan akan, “Lebih baik bersama dari pada sendiri. Bergotong royong memperjuangkan aspirasi kita yang tinggal di luar negeri. Tidak hanya selalu menerima tapi juga mau memberi kepada saudara-saudara di Indonesia. Walaupun kulit dan warna passport berbeda, namun hati kita tetap Indonesia”.
Himbauan nya kepada organisasi masyarakat Indonesia di Australia adalah “Jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi IDN Australia, kami ada untuk bekerja bersama anda”.
8.6. Profile
8.6.1. Sekretaris Jendral IDN-AU 2015-2017
8.6.2. Wakil 1 Sekretaris Jendral IDN-AU 2015-2017
8.6.3. Keynote Speakers
Migration issues

Bahasa & Budaya Indonesia di Australia

Saints dan Teknologi

Bisnis dan Ekonomi

Sumber Daya Manusia

Miscellaneous Issues
ment (Rudolf Wirawan)

Plenary Session

Our Contact details:
Email : SecGen.IDN.AU@Gmail.com Website : www.indonesiandiaspora.com.au
9. Congress of Indonesian Diaspora III (CID-3) Diaspora Bakti Bangsa
Achirnya atas kerja sama dengan Bapak Tim Hoevenagel dari Garuda Orient Holidays dan dukungan dari Bapak Yayan, Konjen KJRI-Sydney, Diaspora Indonesia di Australia kembali lagi dapat berpartisipasi dalam acara kongres Diaspora Indonesia yang ketiga dengan tema “Diaspora Bakti Bangsa”. Suatu kebanggaan dan kenang-kenangan yang terulang kembali pada setiap dua tahun.
Bila pada kongres yang ke dua, dengan tema “Pulang Kampung”, pada tahun 2013 yang juga diadakan di Jakarta, Diaspora Indonesia di Australia hanya dapat bersemangat dan memberi wacana mengenai bagaimana Diaspora Indonesia, yang merupakan aset bangsa, dapat berpartisipasi bersama rakyat Indonesia untuk membangun masa depan Indonesia, maka pada kongres Diaspora Indonesia yang ke tiga, Diaspora Indonesia di seluruh penjuru dunia, termasuk Diaspora Indonesia di Australia melaporkan hasil nyata dari apa yang telah mereka perbuat bersama warga dan pemerintah Indonesia bagi Ibu Pertiwi sejak 2013, sesuai dengan arahan dari Bapak Dino Patti Djalal.

Semangat berbuat untuk membangun bangsa kita ini selalu membara didalam jiwa raga Diaspora indonesia dimanapun mereka berada dan tidak pernah padam walaupun berada
jauh dari pangkuan Ibu Pertiwi. Seperti yang di ekspresikan oleh Ismail Marzuki secara tepat dalam lagu Indonesia Pusaka: “Di sana tempat lahir beta. Dibuai dibesarkan bunda. Tempat berlindung di hari tua. Tempat akhir menutup mata”.

Semangat membara Diaspora Indonesia ini akhirnya dapat disatukan pada kongres pertama pada tahun 2012 di Los Angeles yang di dibuka oleh Bapak SBY, mantan Presiden RI yang ke 6, di prakarsai oleh Bapak Dino Patti Djalal, mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat yang merupakan ajang bertujuan untuk menginspirasi masyarakat diaspora Indonesia untuk menghubungkan dan menyatukan diri menjadi satu komunitas besar dan menciptakan kekuatan yang nyata dalam rangka mencapai Indonesia yang lebih baik. Acara ini juga bertujuan untuk mendorong dan mengimplementasikan inisiatif nyata untuk memperdayakan masyarakat Indonesia di seluruh dunia.

Semangat Diaspora Indonesia yang dituangkan dalam konferensi Diaspora Indonesia yang ke dua (CID-2) pada tahun 2013, ternyata disambut dengan penuh kecurigaan oleh masyarakat di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh seringnya masyarakat Indonesia kecewa dengan inisiatif-inisiatif baru yang jarang menjadi kenyataan, baik dari kalangan pemerintah maupun dari kalangan swasta, apa lagi dengan inisiatif yang datang dari luar negeri dan belum pernah terjadi di Indonesia.

Tetapi tidak demikian halnya pada konferensi Diaspora Indonesia yang ke tiga (CID-3) kali ini. Sejak tiba di bandara Soekarno-Hatta di Jakarta, walaupun kali ini tidak ada jalur imigrasi khusus bagi Diaspora Indonesia, tetapi pelayanan dan sambutan yang ramah dan hangat kepada diaspora Indoneisa tidak saja oleh petugas-petugas imigrasi tetapi juga dari masyarakat Indonesia pada umumnya selama kami berada di Indonesia, sehingga memberi kehangatan yang sangat mendalam kepada Diaspora Indonesia yang datang dari manca negara.

Sambutan ramah tamah dan kehangatan yang diperlihatkan oleh masyarakat Indonesia, tidak saja disebabkan oleh kesadaran masyarakat di Indonesia, bahwa Diaspora adalah aset bangsa, seperti halnya dengan Diaspora-Diaspora dari China, India, Philiphina dan sebagainya untuk negara mereka masing-masing, tetapi juga karena kontribusi-kontribusi nyata yang telah di tunjukan oleh para Diaspora Indonesia diseluruh penjuru dunia, misalnya Liveable City yang di prakarsai oleh Task Force (Gugus Tugas) Diaspora Indonesia di Belanda, penelitian bersama (Joint Research) antar universitas Flinders di Australia dengan universitas UNAS, UNPAD, UI dan UIN di Indonesia dan Memajukan Maritim & Perikanan Sektor di Indonesia ( Making Indonesia’s Maritime & Fisheries Sector Thrive) yang di prakarsai oleh Task Force Diaspora Indonesia di Australia.
9.1. Diaspora Executive Council

Pada tanggal 11 Agustus 2015, sehari sebelum dimulainya konferensi Diaspora Indonesia yang di buka secara resmi oleh Bapak Jusuf Kala, Wakil Presiden RI di hotel J.S. Luwansa, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, seluruh Diaspora eksekutif mengadakan dewan pertemuan di gedung Kemelu, Jalan Pejambon, Jakarta.

Pada pertemuan Diaspora Executive Council, para pemimpin Diaspora Indonesia dari seluruh penjuru dunia berkumpul untuk melaporkan apa yang sudah dilakukan dan dicapai oleh masing-masing wilayah (region), demikian juga rencana masing-masing wilayah untuk 2015-2017, dimana wilayah adalah istilah yang dipakai untuk mengkoordinasikan aktifitas Diaspora. Struktur yang sudah ditetapkan adalah setiap wilayah dibagi lanjut dalam cabang (chapter). Pada saat ini Diaspora Indonesia terbagi dalam tujuh (6) wilayah (Global, Amerika, Timur Tengah & Afrika, Asia Timur, Eropa, Australia dan Oceania). Masing-masing wilayah diwakili oleh seorang Wakil Presiden dan dipimpin oleh Presiden Global yang berkedudukan di Jakarta Indonesia.

Untuk IDN Australia, pembagian cabang berdasarkan state dan territory yang berlaku di Australia (IDN-NSW, IDN-QLD, IDN-WA, etc). Yang hadir dari Australia dan Oceania pada pertemuan Diaspora Executive Council Meeting adalah Bapak Rudolf Wirawan, Presiden IDN dari cabang NSW, Bapak Noel Pranoto, Presiden IDN dari cabang Queensland, Ibu
Sophie Soejitno, IDN Presiden dari cabang New Caledonia dan Bapak Frans Simarmata, Wakil Presiden untuk wilayah Australia dan Oceania 2013-2015.

Hasil pertemuan Diaspora Executive Council meeting, antara lain adalah pergantian Presiden Global dari Bapak Mohamad Al-Arief kepada Bapak Ebed Litaay dari Belanda untuk masa kerja 2015-2017. Sebelum menerima jabatan baru tersebut, Bapak Ebed adalah Wakil Presiden wilayah untuk Eropa. Juga pada kesempatan tersebut, Bapak Rudolf ditetapkan sebagai Wakil Presiden wilayah untuk Australia dan Oceania 2015-2017 menggantikan Bapak Frans yang sebelumnya bertanggung jawab atas wilayah Australia dan wilayah Oceania.

9.2. Making Indonesia’s Maritime & Fisheries Sector Thrive
Pada hari pertama, tanggal 12 Agustus di ruang Bima, Bidakara Convention Centre, bersama dengan Bapak Martono Yuwono, Ketua Umum Yayasan Pusaka Nusantara Raya (YPNR) dan Bapak Rudolf Wirawan, Presiden IDN di NSW mengingatkan kembali bahwa konon dahulu kita pernah menjadi bangsa bahari dari kerajaan maritim yang besar. Kerajaan Pajajaran, Sriwijaya, Majapahit, Samudra Pasai, Gowa Talau, Ternate dan lain-lain. Hal ini mengingatkan kita pada kejayaan dan kebesaran kerajaan maritim di Nusantara di masa lalu, yaitu pada era pra kolonial. Bagaimana bangsa itu kini setelah lebih dari 350 tahun masa penjajahan?

Ternyata, penjajahan oleh bangsa asing dalam kurun waktu sangat lama, telah sanggup memporakporandakan sikap mental dan budaya bangsa maritim Nusantara, yang menjadikan laut sebagai kekuatan dan sumber kehidupan, yang berpaling dari jati diri asli, menjadi bangsa non maritim, yang mengandalkan sumber kehidupan bangsa di daratan, dari sejak penjajahan hingga kini.

Sudah 72 tahun kita merdeka, namun kita masih lamban membangun kembali semangat maritim bangsa, padahal Deklarasi Djuanda tahun 1957 telah menyatakan Indonesia Negara Kepulauan terbesar di dunia, dengan 2/3 bagiannya adalah lautan yang mempersatukan kawasan NKRI. Sudah saatnya kita bangkit dari keterpurukan bangsa non maritim dan membangun kembali Indonesia sebagai negara Maritim, yang akan menjadi kekuatan kita menghadapi tantangan masa depan.
Tekad Joko Widodo – Jusuf Kalla, kini Presiden dan Wakil Presiden, tanggal 22 Juli 2014, yang mencanangkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia di atas Kapal Pinisi Bugis Tradisional di Sunda Kelapa, merupakan refleksi tekad Indonesia membangun Indonesia Negara Maritim tahun 2025.
Pada sesi tersebut, Bapak Rudolf juga memaparkan kejayaan bangsa Indonesia di masa silam melalui kerajaan-kerajaan seperti Sriwijaya, Majapahit dan lain-lain.
Dalam uraiannya, Bapak Rudolf menyatakan bahwa banyak orang, sudah tidak lagi menyadari ataupun mengetahui bahwa Indonesia adalah bangsa dan negara besar yang tidak kalah dengan negara Tiongkok yang dikenal melalui dinasti-dinasti seperti Tang, Ming, Qin dan sebagainya. Indonesia juga memiliki kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya, Majapahit, Mataram dan lain-lainnya yang tidak kalah besarnya dengan dinasti-dinasti di Tiongkok, tetapi mengapa, bila hal tersebut ditanyakan kepada saudara saudara kita di Indonesia, kebanyakan dari mereka hanya tertawa dan menganggap kenyataan sejarah
tersebut sebagai dongeng belaka. Selain itu banyak orang asing mengetahui keberadaan dinasti-dinasti di Tiongkok, tetapi jarang sekali mereka mengetahui adanya kerajaan Sriwijaya ataupun Majapahit di Indonesia yang membentang dari bagian India Selatan, Ceylon, bagian Indocina, bagian Filipina, Malaysia hingga bagian Australia utara. Banyak orang juga tidak tahu, bila bendera-bendera Malaysia, Inggris dan Amerika adalah terinspirasi dari bendera Sriwijaya dan Majapahit, seperti yang tertera pada gambar diatas.
Tidak hanya itu, seperti yang terlihat pada gambar diatas, kapal Bugis Phinisi terbukti telah sanggup mengarungi samurdra luas melalui jalur-jalur yang disebut jalur rempah (Spice route). Spice Routes, adalah nama yang diberikan ke pada jaringan rute laut yang menghubungkan Timur dengan Barat. Jalur ini membentang dari pantai barat Jepang, melalui pulau-pulau Indonesia, sekitar India ke tanah Timur Tengah – dan dari sana, melalui Mediterania ke Eropa. Ini adalah jarak lebih dari 15.000 kilometer dan, bahkan hari ini, bukanlah merupakan perjalanan yang mudah.

Juga terlihat pada gambar diatas jalur sutera (Silk Route) yang berwarna biru tidaklah sepanjang jalur rempah yang berwarna merah. Ini membuktikan bahwa nenek moyang kita sejak berabad-abad yang silam telah sanggup menjelajahi dunia dan mengarungi samudra dengan hanya menggunakan petunjuk-petunjuk langit, arus laut, arah angin dan sebagainya.
Dalam uraian lanjut, Bapak Rudolf mengatakan bahwa bila ada orang menghubungkan beliau sebagai keturunan Tiongkok, walaupun beliau sendiri, selain bermata sipit, tidak merasa ada kaitan tersebut. Tetapi hal itu membuat beliau merasa bangga dan memberi keyakinan, bahwa beliau itu adalah turunan bangsa besar. Itulah yang mungkin secara tidak sadar mendorong beliau untuk selalu bergerak satu langkah lebih jauh daripada yang lain. Menghadapi kenyataan ini, beliau bertanya-tanya, mengapa kita sebagai bangsa Indonesia tidak dapat merasakan kebesaran bangsa kita seperti apa yang dirasakan oleh keturunan Tiongkok. Setelah beliau tinggal cukup lama di negara Kanguru dan juga telah menjadi warga negara Australia, beliau baru menyadari bahwa kebanggaan bangsa kita ini memang sengaja dihilangkan dan ditutupi oleh penjajah Belanda dengan tujuan agar bangsa kita selalu merasa lebih rendah dibandingkan dengan bangsa kulit putih.
Hal yang sama dilakukan oleh pemerintah Australia terhadap suku Aborigin dengan diberlakukan hukum ‘tidak tertulis’ dimana keluarga orang-orang putih dengan paksa dapat mengambil anak-anak suku Aborigin dari orang tuanya dengan cara mengadopsinya sebagai anak mereka sendiri yang kemudian dikenal dengan nama “stolen generation” atau “pencurian kelangsungan hidup suatu generasi”.
Dengan tujuan yang sama seperti apa yang dilakukan oleh penjajah Belanda untuk melenyapkan jejak-jejak kejayaan dan kebesaran bangsa Indonesia, kultur Aborigin dihapus secara paksa, agar pada generasi berikutnya orang orang Aborigin selalu merasa berhutang budi dan berterima kasih, bahwa mereka sudah di “selamatkan” dari kehidupan yang primitif.
Kehidupan suku Aborigin yang dianggap primitif ini, ternyata jauh lebih tinggi atau cerdas (creative, parallel thinking, right brain, intuition) dari pada pemikiran Barat (logic, sequential, analytical, reasoning, left brain), karena orang Barat tidak memiliki tingkat kesadaran yang lebih tinggi (higher level of consciousness), sehingga mereka mempunyai potensi untuk menghancurkan dunia dalam sekejap mata demi keuntungan pribadi. Sedangkan suku Aborigin melalui Dreamtime (keadaan meditasi), mereka mempunyai kesadaran yang sangat tinggi bahwa seluruh alam semesta terbuat dari getaran. Oleh karena itu mereka
selalu menjaga keseimbangan getaran alam tersebut. Dibawah ini adalah beberapa filsafat suku Aborigin yang diperoleh dari Dreamtime:
We don’t own the land, the land owns us
We don’t have boundaries like fences, as farmers do We have spiritual connections
Menurut Arnold Mindell dalam bukunya yang berjudul Quantum Mind: “The Edge Between Physics and Psychology”, dinyatakan bahwa untuk menangkap pengertian Quantum Mechanics, diperlukan pandangan dan pemikiran dari suku Aborigin. Sebab mereka selalu mempunyai pandangan bahwa setiap benda dialam semesta ini hidup (bergetar). Ini terbukti dengan diketemukannya String Theory, yang mengatakan bahwa setiap benda disemesta alam berrupa getaran yang berosilasi.
Sebagai bangsa Indonesia, kita harus sadar bahwa kita adalah bangsa besar dan tidak kalah dengan bangsa Tiongkok ataupun bangsa manapun juga didunia. Negara kepulauan kita disebut Nusantara –istilah yang diambil dari sumpah Palapa oleh Gajah Mada perdana menteri Kerajaan Majapahit, pada 1336, untuk menyatukan Nusantara. Istilah Nusantara ditulis pada naskah Jawa kuno, yaitu Pararaton dan Negarakertagama. Nusantara dalam bahasa Sansekerta berarti “pulau” untuk menggambarkan Asia Tenggara.
Juga jangan lupa dengan penemuan Pithecanthropus erectus (Java Man) dan Sinanthropus pekinensis (Peking Man), membuktikan bahwa orang Jawa mendahului manusia Peking dan diperkirakan telah menempati Jawa sejak sekitar 1.000.000 sampai 500.000 tahun yang lalu. Ini membuktikan, peradaban di Nusantara dan Tiongkok jauh lebih maju dan tinggi daripada peradaban dinegara-negara lain.

9.3. Open Governance Joint Research in Policy and Decision Making
Pada hari kedua, tanggal 13 Agustus di ruang Nakula, Bidakara Convention Centre, bersama dengan Dr ida Widianingsih dari Universitas Padjajaran, Ibu Novieta Hardeani Sari dari Universitas Nasional dan Bapak Rudolf Wirawan memberi laporan mengenai hasil dari joint research antara universitas di Australia dan di Indonesia.

Join Research ini diawali dengan kedatangan dua Diaspora Indonesia dari Australia, Ibu Dina Sari dan Bapak Olfriady Letunggamu (Osco) ke Universitas Nasional (UNAS) di Jakarta pada tanggal 14 Agustus 2014 yang di sambut oleh tim dari UNAS yang diketuai oleh Dr TB Massa Djafar, kepala program Ilmu Politik di Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional, Jakarta.

Atas inisiatif Bapak Massa untuk dapat mengadakan Joint Research dengan universitas di Australia dalam bidang Open Governance, IDN Australia (IDN-AU) mengirimkan TOR (Term of Reference) kepada seluruh Diaspora Indonesia di Australia. Oleh Ibu Firda Firdaus (IDN- SA), Senior Lecture, Department of Languages and Applied Linguistics dari universitas Flinders, kami diperkenalkan dengan Prof Janet McIntyre Mills, juga dari Flinders University yang sangat tertarik dengan ide dari TOR tersebut.

Hasil dari beberapa pertemuan melalui Skype meeting, pada tanggal 22-24 April 2015, Prof Janet mengunjungi UNAS di Jakarta. pada kunjungan tersebut terbentuk joint research konsortium yang terdiri atas 5 universitas (Flinders, UNAS-Universitas Nasional, Universitas Islam Negeri-UIN, Universitas Indonesia-UI dan Universitas Padjajaran-UNPAD).
Melalui joint research antara universitas di Australia dengan universitas di Indonesia, diharapkan dapat terjadi pertukaran mahasiswa (Student Exchange), sehingga rasa percaya
diri mahasiswa Indonesia dapat ditingkatkan dengan menyadari bahwa sebetulnya tidak ada perbedaan yang berlebihan diantara universitas baik di dalam maupun diluar negeri.

Walaupun banyak pengetahuan yang dapat ditimba dari luar negeri, di dalam negeripun tidak kurang banyaknya yang dapat dipelajari oleh mahasiswa asing dari luar negeri.

Kedatangan mahasiswa-mahasiswa asing dari luar negeri tidak saja akan membuat kita bertambah percaya diri tetapi juga akan lebih sadar dan bangga dengan apa yang telah kita miliki. Misalnya bila orang asing fasih berbahasa Indonesia, menyadari hal tersebut saja akan membuat kita lebih menghargai bahasa kita sendiri. Demikian juga halnya dengan kebudayaan yang beraneka ragam di Indonesia.
9.4. Diaspora Executive Council Planning Meeting
Pada hari kedua, tanggal 13 Agustus 2015, diadakan pertemuan Diaspora Executive Council Planning meeting yang kedua dan dihadiri oleh pemimpin-pemimpin region yang baru saja terpilih untuk bertanggung jawab pada wilayah masing-masing.

Pertemuan ini juga dihadiri oleh Bapak Dino dan bapak Arief yang memberi pengarahan- pengarahan yang harus diperhatikan oleh pemimpin-pemimpin baru.
Selain membicarakan rencana-rencana Diaspora untuk tahun 2015-2017, Bapak Dino juga mengingatkan kembali, bahwa sebagai aset bangsa, Diaspora bukan suatu organisasi, melainkan suatu gerakan, yang bersifat netral dan non politis. Gerakan Diaspora tidak dimiliki oleh parpol manapun, tetapi di dukung oleh parpol.
Selain itu Bapak Arief juga menegaskan bahwa untuk mencapai tujuannya, Diaspora Indonesia perlu didukung oleh ormas mayoritas, terutama dalam mengupayakan dwi kewarganegaraan Indonesia yang perjalanannya dianggap masih panjang. Dwi kewarganegaraan yang diusung oleh Diaspora adalah untuk mempertahankan keindonesiaan seseorang, bukan untuk mengindonesiakan orang asing. tutur Pak Arief. Pada kesempatan tersebut, IDN Australia juga mengajukan pembuatan Portal terintegrasi. Dengan hanya cukup mengetahui nama situs IDN-Global (www.diasporaindonesia.org) peguna portal sudah dapat mengakses portal Diaspora Indonesia diseluruh dunia, baik secara region maupun secara chapter.

Seperti yang terlihat pada gambar di diatas, strukture portal sangat sederhana.

Melalui dropdown menu di situs IDN-Global, dapat di telusuri semua wilayah ( region) dimana Diaspora Indonesia berada. Demikian juga halnya dengan situs-situs region. Melalui dropdown menu di situs suatu wilayah dapat ditelusuri semua cabang (chapter) yang di naungi didalam wilayah tersebut. Karena semua portal terintegrasi dengan baik, maka semua informasi dengan klasifikasi tertentu (public, private, etc) dapat mengalir dari

Global hingga Chapter (top-down). Sebaliknya informasi dari Chapter juga dapat mengalir ke Global (bottom-up).

9.5. Diaspora Gala Dinner
Atas dukungan dari Kementerian Parawisata Republik Indonesia, pada hari penutupan, tanggal 13 Agustus 2015, kami semua dijamu untuk menikmati kuliner Indonesia dan persembahan tari-tarian dari Jember Fashion Carnival (JFC) dengan gerakan-gerakan dan kostume yang sangat menakjubkan dan juga lagu-lagu hit dari The Groove, Nial Djuliarso, Kanya Iwana dan Indonesian Diaspora Choir.

Pada kesempatan tersebut, Bapak Dynand Fariz, Presiden Jember Fashion Carnaval mengatakan bahwa JFC adalah salah satu kebanggaan bangsa Indonesia, sebab prestasinya telah mendunia dan menduduki peringkat keempat terbaik didunia, dibawah Amerika Serikat, Brazil dan Jerman.

Pada Gala dinner tersebut, diperagakan kurang lebih 20 model dengan kostum-kostum yang megah, desain-desain yang unik dan spektakular serta aksi koreografi yang memukau digabung dengan tata panggung, suara, dan cahaya membuat para Diaspora Indonesia yang pada umumnya datang dari luar negeri merasa kagum pada setiap sesi penampilannya. Selain itu kita juga dihibur oleh Groove, Nial Djuliarso, Kanya Iwana dan Indonesia Diaspora Choir.

Tentunya pada kesempatan ini, Diaspora Indonesia dari negara Kanguru, juga tidak mau kalah. Tidak saja penampilan tari budaya yang ditampilkan oleh Ibu Christy dan Ibu Tia dari IDN Queensland dalam tarian Nandak Betawi untuk memperkenalkan budaya Indonesia
dalam sesi Kuliner & Budaya untuk mempromosikan pariwisata Indonesia melalui budaya dan kuliner sebagai “Soft Diplomacy”, tetapi juga dipentaskan pada malam penutupan.
Sebagai bukti nyata dari “Soft Diplomacy”, semua penonton diajak kedepan untuk ikut menari tarian Nandak Betawi yang sangat anggun dan mudah diikuti. Malam yang menggembirakan ini diakhiri dengan photo bersama. Sungguh suatu kenangan yang tidak mudah dilupakan.

Pada sesi Kuliner & Budaya, Ibu Astrid Vasile dari IDN-WA juga memaparkan bagaimana Diaspora Indonesia, sebagai aset bangsa dapat digunakan sebagai “Soft Diplomacy” untuk menjembatani Indonesia dengan dunia luar.

9.6. Diaspora Award
Sejak 1981, Bapak Rasyid bersama Ibu Lailawaty, yang namanya sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia di NSW, karena beliau berdua tidak pernah lelah dalam berbagi waktu untuk komunitas masyarakat di NSW. Misalnya mereka aktif sebagai Komite Eksekutif Muslim Council of NSW Inc, aktif sebagai Komite Eksekutif Jaringan Indonesia Diaspora di NSW (IDN-NSW), 24 jam layanan relawan bagi kesejahteraan masyarakat swasta senior Indonesia di Sydney, dan sebagainya.

Honouring Leadership Excellence, Achievement,
Innovation and Dedication
“Kami memutuskan untuk memberi penghargaan ini, karena kami menyadari dibalik keberhasilan seseorang tidak akan jauh dari pendampingnya. Hal ini sudah lama kami sadari dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Diaspora Indonesia, kami memberi penghargaan kepada sepasang suami-istri, karena mereka berdua sebagai Diaspora Indonesia membuktikan sekali lagi, bahwa gerakan Diaspora bukanlah gerakan individual, tetapi merupakan gerakan yang meliputi tidak saja keluarga tetapi bangsa”, tutur Arief.

Penghargaan ini disampaikan dalam Kongres Diaspora yang digelar di Hotel Bidakara pada tanggal 12-14 Agustus 2015.

Diaspora Indonesia di Australia telah berdiri sejak tanggal 6 July 2013 dengan dukungan dari Perwakilan RI di Australia. Karena definisi sederhana Diaspora itu adalah PERANTAU, maka yang dimaksud dengan Diaspora Indonesia adalah semua perantau yang dilahirkan di Indonesia, turunan Indonesia ataupun yang berdarah Indonesia melalui kawin campur, dimana kecintaan mereka terhadap Ibu Pertiwi masih membara didalam lubuk hatinya.
Untuk itu, kami menghimbau agar semua Diaspora Indonesia di seluruh negara bagian dan territories di Australia yang masih peduli dengan Ibu Pertiwi untuk bersatu dan aktif menyebarkan semangat Diaspora.
Seperti yang selalu ditegaskan oleh
pendiri Diaspora Indonesia, Bapak Dino Patti Djalal, Diaspora bukan suatu organisasi, melainkan suatu gerakan, yang bersifat netral, non politis dan Diaspora Indonesia merupakan wadah bagi para perantau tersebut. Seperti halnya dengan Sumpah Pemuda, dimana berawal hanya dari gerakan pemuda yang bertujuan untuk menyatukan Jong Java, Jong Celebes, Jong Minahasa, dan sebagainya, untuk melawan penjajah, akhirnya terlahir Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kami juga ingin menghimbau kepada semua perantau Indonesia, bahwa didalam suatu gerakan, dengan hanya mencantumkan nama, tanpa disertai dengan kontribusi nyata, maka gerakan ini tidak akan berjalan dengan baik ataupun mencapai hasil yang diharapkan.

Nama akan mudah lenyap dihembus angin, Perbuatan nyata akan terukir dilubuk hati Ibu Pertiwi.

9.7. Side Events (DIASPORA GOES TO BANDUNG)
Pada tanggal 16 Agustus 2015, dalam rangka CID-3 Side Events, diadakan peresmian Diaspora Wayfinder di Taman Vanda, Bandung, sebagai bagian dari side event Liveable Cities CID3 ‘Diaspora Goes To Bandung’.

Walikota Bandung Ridwan Kamil, arsitek & mantan Diaspora diprakarsai banyak perbaikan dalam upaya untuk membuat Bandung sebagai pilot Smart City untuk Indonesia.

Mengenai Bandung Command Center yang juga di prakarsai oleh Bapak Ridwan, dijelaskan bahwa fungsi utama dari Command Center ini adalah untuk mengawasi kerja pegawai negeri sipil dalam melayani publik.

Setiba di Taman Bima Bandung, kami disambut hangat oleh kepala desa setempat, dimana Microlibrary didirikan. Microlibrary adalah perpustakaan micro yang unik berbentuk kubus, didesign oleh Ibu Daliana Suryawinata dan Bapak Florian Heinzelman. Mereka berdua adalah Diaspora Indonesia dari Belanda.

Perpustakaan unik berbentuk kubus yang didesign dengan memakai barang bekas yang bisa di daur ulang sehinga menimbulkan daya tarik yang unik.

Pada kesempatan ini, Bapak Ebed Litaay presiden baru IDN Global menyarankan dalam kata sambutannya kepada Bapak Walikota, agar CID-4 dapat diselenggarakan di Bandung! Saran yang diberikan oleh Bapak Ebed, ternyata disambut dengan sangat bersemangat oleh Bapak Walikota.

Beliau membalas sambutan Bapak Ebed dengan menyatakan bahwa, bila Bandung dapat menjadi tuan rumah pada konferensi Asia Afrika dengan baik, mengapa tidak Bandung juga menjadi tuan rumah konferensi Diaspora Indonesia yang ke empat (CID-4).

9.8. Diaspora Australia Hadir di Upacara 70th Indonesia di Istana
Indonesia Diaspora Network (IDN) sebagai suatu gerakan nonpolitik yang bertujuan memperluas koneksi, menggandakan peluang, dan meningkatkan kesejahteraan diaspora dan rakyat Indonesia di tanah air, pada tanggal 17 Agustus 2015 diundang untuk menghadiri upacara Hari kemerdekaan Indonesia ke-70 di Istana Merdeka, bersama dengan Presiden Republik Indonesia dan jajaran Kabinetnya.
Suatu pengalaman yang membanggakan dan memotivasi kami untuk bekerja lebih baik bagi anak-anak bangsa yang membutuhkan kesempatan dan peluang yang lebih baik.

MERDEKA, SEKALI INDONESIA TETAP INDONESIA!!!
9.9. Diaspora Australia Visiting Saung Angklung Udjo
Sebagai bagian dari Hari Harmony Australia, kami dari Indonesia Diaspora Network di NSW bersama Saung Angklung Udjo yang di dukung oleh KJRI Sydney merencanakan untuk memfasilitasi serangkaian pertunjukan Angklung interaktif yang terkoordinasi sedunia dan terbuka untuk umum. Acara pertama akan digelar di Sydney, kemudian diikuti dengan pertunjukan serupa di kota-kota besar lainnya didunia.
Angklung adalah instrumen sederhana, alat tradisional Indonesia yang dapat mempromosikan kesatuan dalam harmoni, sebab setiap instrumen ini hanya dapat memainkan satu nada atau chord, sehingga membutuhkan kerjasama yang terkoordinir dari sekelompok orang untuk menghasilkan melodi yang serasi.
Pada tanggal 17 Agustus 2015 siang, Bapak Rudolf Wirawan. Presiden IDN-NSW Australia bersama Kang Sam Udjo dan kawan kawan membicarakan rencana tersebut di dalam rumah unik yang indah khas Sunda yang terbuat dari bambu.
10. Pameran Dekranas 2016
Pameran yang berlangsung mulai tanggal 17-20 Mei 2016 dengan mengangkat tema “Perajin DEKRANAS kreatif di Dunia Digital”. Tema ini sejalan dengan mulai berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sejak 1 Januari 2016.
Pameran ini diharapkan dapat mendorong produk kerajinan indonesia untuk bersaing dengan produk sejenis yang berasal dari negara ASEAN lainnya, seperti Thailand dan Vietnam.
Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) menjadi wadah berhimpunnya para penggiat industri kerajinan nasional dan dapat dikatakan sebagai salah satu pioner. Sejak berdirinya tanggal 3 Maret 1980, Dekranas menjadi elemen penggerak di industri kerajinan dan telah menjalankan perannya sebagai mitra pemerintah dalam membina dan mengembangkan tradisi dan warisan budaya dalam membuat kerajinan yang semakin bermutu dan berdaya saing di seluruh wilayah nusantara.
Dekranas memberi / menambah wawasan dan pengetahuan kepada pegiat, pemerhati, para perajin dan dunia usaha hasil produk kerajinan Indonesia yang indah dan beragam. Pada HUT ke 36 ini Dekranas mengambil tema “Pengrajin Dekranas Kreatif di Dunia Digital”, tema ini sejalan dengan berlakunya pasar bebas ASEAN yang dikenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dimana produk kerajinan Indonesia akan bersaing dengan produk sejenis di negara ASEAN seperti Thailand dan Vietnam. Peningkatan kemampuan pengrajin dalam pengusaan teknologi digital menjadi tidak terelakan.

Pameran Dekranas diadakan di SME Tower jalan Gatot Subroto kavling 94 Jakarta Selatan. Pameran ini menjadi momen penting untuk perubahan konsep pameran secara signifikan dengan mengedepankan edukasi dan pelatihan.
Selain menyajikan produk – produk unggulan Dekranas yang berasal dari seluruh Indonesia, diadakan juga pameran produk icon, workshop dan pembelajaran tentang serat alam seperti yang nampak dari disebelah kanan.

Pada gambar diatas terlihat Bapak Tomo, ahli serat Indonesia yang sudah berusia 79 tahun, Bapak yang luar biasa ini mendedikasikan hidupnya untuk mengolah berbagai serat pepohonan menjadi kain.
Dekranas juga berkomitmen untuk mengangkat tenun Indonesia dalam berbagai programnya. Para perajin tenun yang kerajinannya sudah termasuk langka atau kurang diminati karena berbagai hal seperti regenerasi yang mandek, kurang promosi maupun kurang pelatihan di berbagai wiayah di nusantara yang sangat membutuhkan pendampingan maupun sentuhan promosi dari Dekranas akan diberi perhatian lebih dan dibina.

Dekarnas juga mendukung pengunaan zat perwarna alam, dimana sebagian besar zat warna dapat diperoleh dari tumbuhan.
Oleh karena itu juga diberi pelatihan mengenai teknik eksplorasi pengambilan zat warna dari tumbuhan menjadi larutan zat warna alam untuk pencelupan bahan tekstil.

Proses eksplorasi dilakukan dengan teknik ekstraksi (penyarian/pengambilan zat) menggunakan pelarut air. Proses pembuatan larutan zat warna alam adalah proses untuk mengambil pigmen–pigmen penimbul warna yang berada di dalam tumbuhan baik yang terdapat pada daun, batang, buah, bunga, biji ataupun akar.
Proses eksplorasi pengambilan pigmen zat warna alam disebut proses ekstraksi. Proses ektraksi ini dilakukan dengan merebus bahan dengan pelarut air.

Berikut adalah contoh bahan pewarna alam yang diekstraksi dengan perebusan:
a) Daun (Mangga, Alpukat, Ketepeng, Jambu, Bakau, talok, Jati)
b) Kulit Kayu (Jambal, Tinggi, Mahoni)
c) Kaju (Tengeran, Secang)
d) Akar (Mengkudu
e) Buah dan Kulit Buah (Jalawe, rambutan, Kelapa, Manggis)
f) Biji Buah (Sombo, Rambutan)
g) Bunga (Srigading, Sedap malam, Kumis Kucing)

Informasi lanjut dapat dilihat pada situs sbb:
http://amiafiyati.blogspot.com.au/2012/01/all-about-proses-pewarnaan-alami.html

11. Feeding The Zone 2016

Pada hari Sabtu, tanggal 14 May 2016, Bapak Ebed, Presiden IDN-Global dan Bapak Rudolf, Vice President IDN-Global untuk Australia and Oceania dan juga merangkap sebagai President IDN-NSW diundang oleh Bapak Dino Patti Djalal untuk menghadiri Feeding The Zone 2016 di Jakarta
Di Zona 2016 bertujuan untuk menciptakan forum yang menarik dan koheren yang membahas beragam tema produksi pertanian dan tema keamanan pangan.
Ini akan memberikan pandangan condong ke depan mengenai tren ekonomi dan demografis regional, mengidentifikasi area dan sektor utama dari kebutuhan saat ini dan masa depan yang paling tinggi.

FEEDING THE ZONE
International Cooperation, Innovation and Investment in Indo-Pacific Agriculture
You can download the 2016 event brochure here for more information on speakers and to review the conference program.

12. Pembukaan IDN-Global di Gedung Mayapada Tower I
Setelah ditunda beberapa kali, achirnya pada tanggal 19 May 2016 IDN Global dibuka secara resmi di gedung Mayapada Tower 1 19th floor, unit 02, Jl. Jendral Sudirman Kav. 28 Jakarta Selatan 1292 oleh Bapak Luhut Panjaitan, Bapak Ebed Litaay, President IDN Global dan Bapak Dino Patti Djalal.
Acara pembukaan juga dihadiri oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia, Bapak Paul Grinson.
Pada gambar diatas terlihat Diaspora dari Belanda, Ibu Daliana Suryawinata, leader dari Liveable City task force dan Diaspora dari Australia,Bapak Rudolf Wirawan, Vice President IDN-Global for Australia and Oceania dan juga merangkap sebagai President IDN-NSW.

Dengan Hormat,

Bapak Rudolf Wirawan
We are pleased to extend an invitation to you to a small reception to open the Indonesian Diaspora Network Global office in Jakarta, which also house the office of The Chairman of The Board of Trusted of IDN Global, Dr. Dino Patti Djalal and His Executive Director Meta Sukma, the small reception will take place at the IDN Global Office at the following address:

Mayapada Tower 1 19th floor, unit 02
Jl. Jendral Sudirman Kav. 28 Jakarta Selatan 12920 On the 19th May 2016
Time: 17:00 – 18:00 WIB

RSVP: Meta +62-821-2288-4430

I look forward to seeing you at the reception. Salam,
Dr. Dino Patti Djalal,

Dress code: smart casual/batik
13. Diaspora Night
Pada tanggal 30/10/2016, bertempat di Punchbowl Community Centre, Australia, sekitar 400 anggota diaspora dan masyarakat Indonesia menghadiri acara Diaspora Night. Acara ini merupakan kali pertama dilakukan oleh Indonesian Diaspora Network Australia sejak pembentukannya pada Juli 2013. Dubes RI untuk Australia, Bpk. Nadjib Riphat Kesoema beserta isteri, dan Konjen RI Sydney, Dr. Yayan G.H. Mulyana beserta isteri hadir sebagai tamu kehormatan.
Kegiatan dengan tema “Jauh di Mata, Tetap di Hati, Cinta Indonesia” ini terselenggara atas dukungan KBRI Canberra, KJRI Sydney, organisasi-organisasi kemasyarakatan Indonesia di Australia, dan para sponsor lainnya. Tujuan utama acara ini untuk memperluas jejaring kerja sama, menjajaki peluang, mempromosikan kesejahtaraan bersama bagi Indonesia dan para diaspora Indonesia.

13.1. Sambutan Bapak Duta Besar
“Malam ini saya sangat, sangat bangga. Bukan saja karena wajah Indonesia yang lengkap ditampilkan melalui peragaan busana dan pertunjukan seni budaya dari Sumatera di ujung barat hingga Papua di ujung timur negeri tercinta, Indonesia. Lebih dari itu, saya sangat bangga melihat besarnya rasa cinta Bapak/Ibu kepada Indonesia, meskipun sebagian besar diaspora Indonesia sudah menjadi warga negara Australia ataupun memiliki status sebagai permanent resident”, Dubes Nadjib menyampaikan dalam sambutannya dengan mimik serius.
Ya, pada malam itu rangkaian acara Indonesian Diaspora Night diatur sedemikian rupa untuk showcase wajah Indonesia yang begitu beragam budaya, bangsa, dan bahasanya. Sebut saja dari Sumatera Utara, ditampilkan busana Ulos yang merupakan ciri khas Batak. Ditampilkan juga busana khas dari Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, hingga busana tradisional Papua. Selain itu, telah dipertunjukkan tari Yapong dari Betawi, Tari Panen dari Minang, dan tari tradisional dari Alor, NTT.
“Saya berharap melalui kegiatan seperti ini, rasa persaudaraan sebagai bangsa Indonesia di perantauan tetap terpelihara. Saya juga berharap, bahasa Indonesia sebagai salah satu elemen penting penyambung rasa ke-Indonesia-an tetap diajarkan kepada para anak cucu, yang di masa depan akan menjadi jembatan kokoh penghubung kerja sama Indonesia dan Australia”, tutur Dubes Nadjib menutup sambutannya.
13.2. Sambutan Bapak Consul General
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh (May the peace, mercy and blessings of God be with you)

At the outset, I wish to extend my congratulations to IDN-NSW on its initiative to hold “Diaspora Night” event. Its theme “Jauh di Mata, Tetap di Hati, Cinta Indonesia” is very pertinent. We are indeed far away from our Tanah Air Indonesia, not that far in fact. No matter how long we live in Australia, we will always treasure our Tanah Air with its spectacular cultural diversity and archipelagic splendour.
I share the event’s spirit and objective, aiming to galvanize silaturahim (closeness and togetherness) among Indonesian perantau (diaspora) in Australia, in particular in New South Wales.
I have always been impressed with IDN-NSW, especially under the chairmanship of Bapak Rudolf Wirawan, which is rich in ideas and initiatives and replete with programmatic activities. Its “giving back to Indonesia” programmes are highly commendable. It is an honour and privilege for me to have the opportunity to collaborate with IDN-NSW on various activities.
I fervently hope that IDN-NSW will continue to contribute to the vibrant and dynamic Australian social tapestry and multiculturalism, as well as to the deepening of friendship between Indonesia and Australia.
18 October 2016 Dr. Yayan GH Mulyana
Indonesian Consul General for NSW, QLD & SA based in Sydney
14. Congress of Indonesian Diaspora IV (CID-4)
Sekali lagi, sepulang kami dari CID-3 pada bulan Agustust 2015, kami mempersiapkan CID yang ke empat, kali ini, selain meneruskan program-program yang sudah disiapkan sejak pertengahan 2014 misalnya:

1. Pembelajaran Jarak Jauh (Distance Learning)
2. Penelitian bersama (Joint Research)
3. Meningkatkan ekonomi pedesaan (Improving villages economy)
4. Teach The Teacher (T3) Program
5. Poros Maritim Dunia
14.1. Pembelajaran Jarak Jauh (Distance Learning)
Tujuan dari pembelajaran jarak jauh adalah untuk mengoptimalkan pendidikan yang bermutu dengan biaya yang sangat efektif dan dapat diakses diseluruh Nusantara dengan mengunakan jaringan Internet.

Sebagai contoh, untuk pendidikan bahasa, dalam hal ini bahasa Inggris, dapat dilakukan secara silih berganti oleh teman-teman Diaspora yang berbahasa Inggris, baik di Australia, UK, Canada maupun USA.
Melalui Indonesia Pintar eLibrary seluruh study materials dapat diunduh melalui aplikasi web berupa file PDF ataupun YouTube video seperti yang tertera pada gambar di samping ini.
Dengan demikian buku-buku yang berupa file PDF akan dapat dengan segera diunduh melalui aplikasi web dan dapat diunduh berulang kali tanpa memerlukan biaya.
Selain bahasa, tentunya pendidikan-pendidikan lainnya juga dapat di sampaikan melalui pendidikan jarak jauh, misalnya pendidikan IT.
14.1.1. Bahasa Inggris Masuk Desa
IDN Australia mendapatkan permintaan kursus bahasa Inggris dari pemerintah daerah desa Cipendawa Jawa Barat melalui kepala desa, H. Acep Ganda Permana.
Program pembelajaran bahasa Inggris jarak jauh ini akan menggunakan platform yang disediakan oleh IDN Australia.
Kursus bahasa Inggris akan dilangsungkan secara online dan interaktif, yang artinya guru yang berlokasi di Australia setelah menghantarkan materi pelajaran kepada
murid-murid di desa Cipendawa, dapat langsung bertanya jawab. Jadi ada dua arah komunikasi, jelas Osco O. Letunggamu, pemprakarsa program ini yang juga Sekretaris Jenderal IDN Australia.

Ide ini berawal dari rasa suka menolong dan membagi kepada sesama dan melakukan hal yang “simple” namun bermanfaat bagi banyak orang.

Visi besarnya untuk membawa “Bahasa Inggris Masuk Desa”, yang akhirnya dapat terwujud dengan adanya surat permintaan langsung dari Kepala Desa Cipendawa untuk merealisasikan visi tersebut. Program ini dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama, “Cipendawa Berbahasa Inggris”. Sasaran program ini adalah anak-anak jalanan, anak-anak putus sekolah dan seluruh masyarakat desa Cipendawa tak terkecuali desa-desa sekitarnya.

Program ini didukung oleh seluruh diaspora di Australia. Mereka sangat antusias untuk mendaftar menjadi guru. Noel Pranoto, President IDN chapter Queensland bahkan juga menggandeng PPI Queensland untuk berperan aktif pada program ini. Firda Firdaus, Senior Lecturer di salah satu University di South Australia juga tertarik untuk berbagi kontribusi mengajar jarak jauh. Ani Blenkinsopp, seorang Professional dari New South Wales siap memberikan waktunya untuk mengajar dan juga masih banyak teman-teman yang lainnya yang bersedia mendukung program ini.

Pada awalnya Program ini dirancang untuk dijalankan satu (1) kali dalam seminggu, namun karena antusias yang sangat tinggi, maka program akan berjalan dua (2) kali dalam seminggu setiap hari sabtu dan minggu. Untuk platform dalam pembelajaran bahasa Inggris ini, Rudolf Wirawan yang juga President IDN chapter NSW membantu dengan sangat intensif.

14.1.2. Kunjungan IDN Australia Ke Cipendawa
Tepat tanggal 17 Juni 2015, hari terakhir sebelum bulan Puasa dimulai, Bpk Rudolf dan Osco memulai perjalanannya menuju desa Cipendawa. Kedatangan mereka berdua disambut hangat oleh kepala desa Cipendawa dan staff.
Tujuan kunjungan untuk melihat secara langsung media yang pemerintah daerah desa tersebut miliki serta memberikan arahan bagaimana cara menggunakan platform tersebut sekaligus melihat dan meng-test jaringan Internet yang ada di desa tersebut.

14.1.3. Mengunjungi Budidaya Jamur Di Cipendawa
Setelah banyak berdiskusi mengenai program bahasa Inggris bersama kepala desa, Bpk Rudolf dan Bpk Osco menyempatkan waktu untuk menjalin tali silaturahim dengan warga desa Cipendawa. Mereka juga mengunjungi budidaya jamur milik keluarga Martha Bandaso yang masih berlokasi di desa tersebut.
14.1.4. Mengunjungi Tokoh Masyrakat Di Cipendawa
Kemudian kunjungan terakhir diterima oleh Bpk Josafat Katiang, salah satu tokoh masyarakat desa Cipendawa, di rumah kayu khas Sulawesi Utara dengan suguhan sederhana pisang dan talas goreng yang nikmat.
Bpk Josafat Katiang bercerita bagaimana kehidupan rukun dan toleransi umat yang sangat tinggi di desa tersebut dan juga bercerita bagaimana rumah kayu tersebut dibawanya dari Sulawesi utara langsung ke desa Cipendawa. Tak lupa diakhir kunjungan sebelum pulang kembali ke Jakarta, Bpk Rudolf dan Bpk Osco
menyempatkan untuk berfoto di depan rumah kayu.
Sangat terasa kesederhanaan dan keramahan aparat desa, warga sekitar dan juga tokoh masyarakatnya. Ternyata ini rasa sebenarnya “Pulang Kampung yang bermanfaat” tutup Bpk Rudolf dalam perjalanan pulang kembali ke Jakarta.

14.2. Teach The Teacher
Sebagai contoh untuk mendukung gerakan Adopsi Pohon dan mempersiapkan guru- guru dalam bidang IT, Diaspora Australia berkerja sama dengan Wirasoft Pty Ltd untuk mengadakan program T3 yang juga di sebut “Teach The Teacher” seperti yang terlihat pada gambar di samping ini.
Dengan pendidikan IT di Australia, diharapkan kedepan, Indonesia dapat menjadi IT Outsourcing dunia seperti India pada saat ini.

Total dana sebesar Rp5,000,000.00 yang terkumpul untuk pendidikan T3, 100% disumbangkan kepada aksi ADOPSI POHON RANTAU di Indonesia.

Posisi pohon rantau dapat di lihat melalui GOOGLE MAP sebagai berikut:

GIF Tree Adoption Program

14.3. Taiji and Qigong
Untuk menjaga kesehatan dan menghindarkan stress, latihan Taiji dan Qigong dapat diikuti oleh setiap peserta secara cuma-cuma. Taiji dan Qigong di pimpin oleh Master Qigong, Rudolf Wirawan. Rudolf telah menekuni Taiji dan Qigong sejak berumur lima (5) tahun dari ayah dan kakeknya yang merupakan tradisi bagi marga Yang. Itulah mengapa sering terdengar beberapa Taiji style, misalnya Yang style, Chen style, Wu style, dan sebagainya.
Style yang berbeda-beda tidaklah penting. Yang paling penting adalah gerakan harmoni yang berkelanjutan. Itu berarti, setiap gerakan akan mempengaruhi gerakan yang selanjutnya, bagaikan rangkaian mutiara. Bila salah satu mutiara dirubah posisinya, maka mutiara-mutiara yang lain akan mengikutinya. Dalam mengerakan badan, harus dibayangkan bahwa ada benang semu yang selalu mengangkat kepala kita. Dengan
demikian posture tubuh akan selalu tegak lurus dengan bumi.
Gerakan Taiji bila dilakukan dengan seksama, lama kelamaan akan terasa getaran yang mengalir melalui jalur-jalur tertentu yang dikenal sebagai meridian. Kadang-kadang getaran tersebut dimulai dari titik Dantien (3 inch dibawah pusar) dan akan dirasakan panas.
Getaran tersebut juga dikenal sebagai aliran Qi.
Bila Qi dapat berhasil digerakan dan getaran tubuh dapat dirasakan, maka tubuh akan bersatu dengan getaran alam semesta sehingga rasa damai dan nyaman akan mengisi seluruh tubuh kita. Itulah mengapa latihan ini memberi dampak positif kepada kesehatan tubuh pada setiap orang yang berlatih Taiji.

Selain gerakan harmoni Taiji yang dapat menyatukan kita dengan alam melalui getaran Qi yang mengalir didalam tubuh kita, demikian juga halnya dengan gerakan kuas yang harmony mempunyai efek yang sama. Bersamaan dengan Taiji dan Qigong, Rudolf juga mempunyai hobby menggambar dengan kuas dan cat air.

Taiji 24 forms front view Taiji 24 forms posterior view

Ba Duan Jin Complete Demonstration

Seperti halnya dengan ADOPSI POHON RANTAU, total dana yang terkumpul dari latihan TAIJI & QIGONG 100% disumbangkan ke kas IDN-NSW.
14.4. Supporting Indonesia Coffee With Taiji

Seperti yang terlihat pada poster diatas, untuk mendukung kopi Indonesia, Diaspora Australia mengadakan latihan Taiji dan Qigong bertepatan dengan lokasi dimana dapat ditemukan Aslan Specilaity Indonesian Coffee Roasters di Camdenville Park St Peters, NSW, Australia.
14.5. The 8th Indofest 5 Oct 2015 – Adelaide

Adelaide INdofest 2015
On 5th of October 2015, Rudolf Wirawan, President of IDN-NSW as well as Vice President of IDN-Global for Australia and Oceania visited the 8th Indofest in Adelaide. The main objective of the visit is to learn from the success of IDN-SA in promoting Indonesia to South Australia.
Indofest-Adelaide is a vibrant community festival celebrating all things Indonesian. The local Indonesian community has been bringing the cuisine and culture of one of Australia’s closest and most important neighbours to Adelaide since 2008. Indofest Adelaide is now one of the state’s outstanding multicultural events and is widely regarded as one of the most successful Indonesian cultural festivals in the southern hemisphere.
Indofest is a collaborative effort of South Australia’s Indonesian community groups and is presented by the not-for-profit Australian-Indonesian Association of South Australia (AIASA). Established in 1967, this year sees the AIASA celebrate 50 years of fostering engagement with Indonesian culture and promoting people-to-people diplomacy in South Australia.
AIASA is a non-partisan organisation that works to unite our community as one.
Indofest Main Objective
To introduce Indonesia to the South Australian public by showcasing traditional and contemporary Indonesian art, dance, music, food and language
To actively engage members of the South Australian community and stimulate people-to-people connections that strengthen the Indonesia-South Australia relationship.
To encourage interest in, and promote study of Indonesian culture and language, to build educational links with Indonesia, and to foster youth ties between Indonesia and South Australia.
To help create and consolidate opportunities for commercial transactions, business dialogue and tourism ventures between Indonesia and South Australia.
In recent years, the Indofest program has expanded well beyond its traditional single day focus, incorporating a wide range of linked events under the Indofest banner throughout the year, including a successful schools program, cabaret performances, a symposium organised in partnership with Flinders University.

[FOR MORE CLICK HERE]
14.6. Pentas di Anjungan Kalimantan Barat
PENTAS di Anjungan Kalimantan Barat – Taman Mini Indonesia Indah (TMII) – Jakarta Timur, Sabtu (15/10/16) malam, meriah. Malam itu digelar aksi apresiasi memajukan permuseuman Indonesia dengan tema “Harmony in Diversity”.

Sejumlah kalangan diundang dalam acara itu. Mantan Deputy Gubernur DKI Jakarta bidang Pariwisata dan Kebudayaan, Sylviana Murni hadir dan didapuk menjadi salah satu pemain operet bertajuk Bilung dan Ling Ling. Sylvi berperan sebagai sosok masyarakat Betawi dan Rudolf Wirawan, Diaspora dari Australia, berperan sebagai ayah Ling Ling.

Cerita operet yang ditulis Kang Dipa (anggota Lembaga Sensor Film) , itu berkisah tentang pemuda dayak bernama Bilung, yang jatuh cinta kepada gadis Tionghoa Lingling, berlatar cerita lisan khas Mempawah – Kalimantan Barat, yang terjadi sekira tahun 1780-an.

Bilung tak mudah mendapatkan Lingling, karena tentangan keluarga dua belah pihak. Selain itu, situasinya juga sedang tidak tepat, lantaran kedua keluarga berlainan etnis itu sedang harus menghadapi pasukan penjajah di bumi Galaherang.

Berganti masa, orang tua Lingling yang dimainkan oleh Rudolf Wirawan berdagang ke Jakarta dan jumpa dengan perempuan Betawi yang dimainkan oleh Sylviana Murni.
Pertemuan terjadi beberapa saat setelah orang tua Lingling mendarat di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Sosok Bilung juga dikenal dalam cerita wayang yang berkembang di Nusantara, terutama di Jawa. Bilung berada di antara para punakawan. Bilung bak sisi keping mata yang tak berbeda dengan Togog. Keduanya selalu berpasangan dan menjadi contoh persahabatan abadi. Sampai kini belum ditemukan kisah wayang yang membinasakan pasangan Togog dan Bilung.

Bilung diandaikan sebagai representasi kaum Melayu dalam setting punakawan Jawa. Wataknya berbeda dengan Palui, yang juga sosok jenaka, dari tradisi lisan Banjar yang hidup di Kalimantan Selatan dan Timur. Karenanya, dia Bilung disebut sebagai punakawan Sabrang dengan postur tubuh yang lucu, bersuara cempreng.

Cerita lisan dalam tradisi wayang Jawa menyebut, Bilung turun dari Kahyangan, seperti halnya Togog, Semar, dan juga Batara Guru, yang mempertemukan manusia dari dunia di atas dengan manusia dengan dunia tengah dan dunia bawah. Bilung beroleh gelar Batara Sarawita, dan bersama Togog memainkan peran sebagai pendamping para raja negeri seberang.
14.7. Harmony Walk
Pada hari Minggu, 8 Nopember 2015 IDN NSW bekerja sama dengan KJRI Sydney telah berpartisipasi bersama dengan beberapa komunitas Diaspora lainnya di Sydney dalam
mengisi acara Harmony Walk bertempat di Francis Park, Blacktown, Western Sydney New South Wales.
Harmony Walk merupakan proyek dari Asosiasi Moving Forward Together (Maju Bersama), dan didukung oleh Diaspora Indonesia, KJRI-Sydney, NRL, pemerintah NSW, polisi NSW, Blacktown Council, Australian Catholic University dan banyak organisasi lainnya. Ini membawa kebersamaan orang-orang dari semua lapisan
masyarakat dan latar belakang budaya dan agama yang beragam guna memperjuangkan masyarakat yang inklusif sekitar prinsip-prinsip keadilan, harmoni dan rasa hormat. Acara dimulai jam 1.00 siang dan dibuka oleh Ketua Panitia Mr Ernie Flinder dan dihadiri para undangan dan tokoh masyarakat setempat antara lain Senior Consetta Anna F.W , Assistant Minister for Multicultural Affair, Mr Laury Fergusson, Federal Member for Werriwa, Liverpool dan Major City of Blacktown.

Panitia mengucapkan terima kasih dan menghargai kepada semua pihak khususnya kepada Team Harmony Walk dari Konsulat Jenderal R.I. di Sydney yang telah membantu dan memberikan sumbangan seni budaya dari Indonesia yaitu mempergelarkan Tarian Traditional (Tari Pendet Bali dan Tari Merak Jawa Barat dari Sanggar Nusantara), dan beberapa Lagu Traditional dari Jawa Tengah dengan iringan alat musik Anglung dan Gamelan binaan KJRI Sydney, uniknya pergelaran tsb. ditutup dengan lagu Australia Waltzing
Matilda dengan dibawakan cara pasinden Jawa yang diikuti oleh semua penonton yang diakhiri dengan sangat2 meriah dan antusias!

Harmony Walk telah dilakukian sejak 4 (empat) tahun yang lalu didaerah Googee Beach, Sydney Esatern Suburbs dan kegiatan ini adalah suatu gerakan bersama secara rutin setiap tahun untuk mendorong kerukunan hidup bersama antar etnis, kelompok dan ummat beragama di Australia.
Gerakan ini telah dimotori oleh sebuah LSM dengan menjalin kerjasama dan mendapat support dari
pemerintah local dan dari beberapa komunitas lainnya, dengan tujuan Harmony Walk adalah jalan bersama secara harmonis menunjukan kehidupan yang Multicultural, Unity Diversity untuk meliminir segala bentuk Diskriminisasi, Ethnic, Bahasa, Agama dan Ras dan memperjuangkan prinsip-prinsip keadilan dan saling hormat menghormati bersama multicultural Australia dengan Motto: Harmony Day – Every Day.

Harmony Walk tahun ini telah berhasil dengan baik dan sukses dengan suasana yang special dan berbaju kaos ORANGE sebagai warna lambang Harmony yang telah dipakai baik oleh semua anggota Team Panitia maupun semua peserta/penonton yang hadir dan akhirnya acara selesai dan ditutup oleh Panitia pada jam 5 sore.

Harmony Walk – Moving Forward Together Association


14.8. Kang Pohon

14.9. Adopsi Pohon Rantau

Trees for Tunggilis adalah program adopsi pohon yang berlokasi di dekat Cianjur, Jawa Barat, dimana organisasi maupun individu yang sadar lingkungan dapat mengadopsi pohon produktif dan menanamnya di lahan milik petani Tunggilis. Pohon yang anda tanam akan dirawat oleh orang seperti Pak Sujana (kanan), yang nantinya akan menerima hasil panen pohon tersebut. Ini akan menciptakan zona penyangga agroforestri, yang mendukung lingkungan dan petani lokal.

Mengapa mengadopsi pohon?
Mengubah penggunaan lahan: Jawa hanya mewaliki 7% dari lahan di Indonesia, tetapi 67% dari populasi penduduk Indonesia ada di Jawa, hanya sedikit hutan yang tersisa di wilayah ini. Sedikitnya hutan yang tersisa ini dapat menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, kekeringan di musim kemarau dan banjir di wilayah Jabodetabek pada musim hujan.

Kemiskinan petani: Rata-rata petani di Tunggilis menanam 0,2 ha lahan dan memiliki pendapatan rumah tangga sekitar Rp 30.000/hari. Oleh sebab itu mereka tidak dapat menginvestasikan produktivitas pertanian mereka, karena lingkaran kemiskinan dan terkadang mengambil jalan lain dengan membuka area lahan baru untuk mengatasinya.

Dengan mengadopsi pohon Anda akan membantu kami untuk memutus rantai kemiskinan tersebut. Kami akan membantu petani mengembangkan pertanian produktif, yang tidak hanya membantu melindungi lingkungan lokal, tetapi juga memiliki potensi untuk meningkatkan pendapatan lebih dari dua kali lipat, membantu petani yang sebelumnya menanam satu jenis tanaman, dan hanya bergantung pada satu sumber pendapatan menjadi petani yang mengolah pertanian dan peternakan, dengan sumber pendapatan yang lebih bervariasi dan tidak lagi dibawah garis kemiskinan.

Menanam pohon bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, caranya pun bisa bervariasi. GIF, sebagai sebuah gerakan publik non partisan yang bertujuan membangun jejaring kebaikan antara orang-orang atau kelompok orang Indonesia di dalam negeri dengan yang tinggal di luar negeri, menjadikan program pohon rantau sebagai satu cara silaturahim orang-orang rantau dengan bumi Indonesia. Meski mereka tidak tinggal di bumi Indonesia, mereka dapat menanam kebaikan. “Pohon rantau diharapkan akan menjadi tradisi adopsi
pohon orang-orang rantau di berbagai tempat di Indonesia. Untuk itu, tanam dan budidaya pohon untuk kelestarian lingkungan jelas tidak cukup dilakukan sekali saja. Butuh kreativitas agar program pohon rantau bisa terus bergulir.

Makan siang sambil memperbincangkan rencana penanaman pohon kopi bersama Pak Nugroho Dewanto ( Dede), Pak Tosca Santoso, ahli Kopi Nusantara, Pak Syarif Sarongge (Pengurus Yayasan Prakarsa Hijau – Green Initiative Foundation).

14.10. Diaspora Australia In The News
14.10.1. Pohon Rantau GKI untuk Indonesia
Penulis rahmansyah – September 20, 2016

Gerakan Kebaikan Indonesia menyelenggarakan program adopsi pohon yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia di luar negeri, dengan nama pohon rantau, yang ditanam pada Hari Kasih Sayang 14 Februari 2016.

Kini telah banyak fakta bukti terjadinya perubahan iklim yang melanda Dunia. Tanda-tanda umum antara lain: jumlah CO2 mencapai level lebih tinggi dibanding kehidupan bumi selama 650 ribu tahun; peningkatan suhu yang lebih cepat; musnahnya beberapa spesies binatang; perubahan pola hujan; peningkatan ketinggian air laut. Yang juga mengerikan adalah dampak terburuk perubahan iklim menimpa sektor pertanian. Menurut World Food Program, pada 2015 total orang yang terkena akibat perubahan iklim bisa mencapai 350 juta jiwa per tahun; dan harga makanan menurut Oxfam, akan meningkat 50 hingga 60 persen pada 2030.

Suka atau tidak, setuju atau tidak pemanasan global memang terjadi. Pilihan ada pada kita, yaitu menjadi bagian yang peduli pada bumi, biasa-biasa saja atau tidak sama sekali.
Gerakan Kebaikan Indonesia memilih peduli. Cara yang dilakukan adalah memulai program pohon rantau, yaitu adopsi –pohon-pohon ditanam di Indonesia– oleh orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri, atau di tanah rantau. Nah, tradisi pohon rantau ini
dimulai pada 14 Februari 2016, bertepatan dengan Hari Kasih Sayang. Pohon-pohon yang ditanam di Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ini merupakan kerjasama GKI dengan Green Initiatives Foundation (GIF), sebuah lembaga yang sejak 2009 bergerak di bidang rehabilitasi hutan dan pemberdayaan petani salah satunya dengan cara tanam pohon.

Menanam pohon bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, caranya pun bisa bervariasi. GKI, sebagai sebuah gerakan publik non partisan yang bertujuan membangun jejaring kebaikan antara orang-orang atau kelompok orang Indonesia di dalam negeri dengan yang tinggal di luar negeri, menjadikan program pohon rantau sebagai satu cara silaturahim orang-orang rantau dengan bumi Indonesia. Meski mereka tidak tinggal di bumi Indonesia, mereka dapat menanam kebaikan. “Pohon rantau diharapkan akan menjadi tradisi adopsi pohon orang-orang rantau di berbagai tempat di Indonesia,” kata Ketua Gerakan Kebaikan Indonesia, Nusantio Setiadi. “Rayakan penanaman pohon, rayakan kebaikan.”

Untuk itu, tanam dan budidaya pohon untuk kelestarian lingkungan jelas tidak cukup dilakukan sekali saja. Butuh kreativitas agar program pohon rantau bisa terus bergulir. Teman-teman di luar negeri demi mengumpulkan donasi untuk adopsi pohon juga melakukan berbagai hal unik memanfaatkan komunitas-komunitas orang-orang Indonesia yang ada di berbagai kota dan negara, hingga berhasil mengumpulkan 910 pohon.

Banyak yang menarik dari cerita di balik layar dalam mengumpulkan para adopter pohon rantau hanya dalam waktu sekitar satu bulan –sejak program ini diluncurkan, yaitu pada 10 Januari 2016, bertepatan dengan peringatan Hari Tanam Pohon. Diorganisir oleh Koordinator GKI Luar Negeri, Indah Morgan dan Eva Reinhard, teman-teman yang tinggal di Eropa berkumpul di Milan, Italia untuk sosialisasi sekaligus mengumpulkan para penyumbang pohon rantau. Kelompok yang mayoritas terdiri dari para perempuan itu sempat diterima Duta Besar Indonesia di Italia, August Parengkuan pada pertengahan Februari lalu.

Dari Belanda, Kapten Klub Sepakbola Utrecht, Mark van der Maarel, yang memiliki darah Indonesia, melelang jersey bertandatangan beberapa pemain klub sepak bola tersebut untuk dana adopsi pohon rantau. Sedangkan benua paling selatan, Jaringan Diaspora Indonesia (IDN) Australia yang dikomandani Rudolf Wirawan, memberi tajuk pohon rantau dengan Kangpohon: 1000 Trees for Indonesia. Menurut Rudolf program ini layak diteruskan dengan kerjasama makin banyak pihak.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya pun memberi apresiasi terhadap pohon rantau. Menteri Siti yang mengikuti acara tanam di Desa Sukatani pada 14 Februari 2016 menyebut bahwa program ini sangat baik, membuktikan diaspora Indonesia mendukung lingkungan berkualitas. “Saya akan bicara dengan Menteri Luar Negeri dan semua KBRI kita di dunia,. Kita dorong terus inisiatif adopsi yang sangat bagus ini,” jawaban Menteri Siti secara tertulis. (BB)

Dikutip dari: https://www.kabarrantau.com/pohon-rantau-gerakan-kebaikan-indonesia- indonesia/
14.10.2. Seorang Diaspora dan Pohon Rantau
Rudolf Wirawan dan pohon jeruk limo yang diadopsi nya

05 Mei, 2016
Seorang Diaspora dan Pohon Rantau
Kabar-rantau.com – Tiga bulan lalu Rudolf Wirawan menyambut antusias program PohonRantau yang digagas Gerakan Kebaikan Indonesia (GKI). “Saya akan ajak teman- teman di Sydney dan sekitarnya untuk ikut serta,” ujar nyalewat grup Whatsapp. Program ini terutama mengajak para diaspora Indonesia di luarnegeri – juga warga Indonesia di dalam negeri— untuk menanam pohon di Indonesia. Untuk kali ini yang dipilih adalah di kaki Gunung Gede- Pangrango, Cipanas, Jawa Barat.Setiap diaspora membayarRp 100 ribu untuk satu pohon. Sebagian kecil uang itu dibelikan bibit pohon, sebagian besar digunakan untuk memberdayakan ekonomi masyarakat kampung tempat pohon-pohon itu ditanam.
Pemberdayaan ekonomi itu misalnya melatih masyarakat untuk beternak domba, ayam, ikan, menjadi pemandu wisata alam, dan lain- lain. Dengan demikian masyarakat diharapkan tak lagi menebang pohon di hutan untuk dijual kayunya.
GKI bekerjasama dengan Yayasan Prakarsa Hijau yang sudah berpengalaman menanam pohon dan memberdayakan ekonomi masyarakat di Sarongge, Cipanas, Jawa Barat. Untuk program Pohon Rantau GKI, Yayasan Prakarsa Hijau mengarahkan untuk menanam di Kampung Sukatani, Cipanas –di sebelah Kampung Sarongge. Di Kampung Sukatani, warga mulai kesulitan air di musim kemarau karena mata air menyusut. Sebaliknya di musim kemarau banyak debu beterbangan ditiup angin. GKI akhirnya berhasil mengumpulkan 945 pohon dan ditanam pada Februari 2015 lalu pada acara yang juga dihadiri oleh Menteri Kehutanan Siti Nurbaya.
Rudolf sudah 30 tahun lebih tinggal di Sydney dan menjadi warga negara Australia. Tapi kecintaannya terhadap Indonesia tak pernah pudar.Pria yang masih terlihat segar di usia 65 tahun ini menjadi Presiden Indonesia Diaspora Network (IDN) New South Wales dan Wakil Presiden IDN Global untuk Australia dan Oceania. Dalam waktu singkat dia berhasil mengumpulkan dana untuk mengadopsi 50 pohon. “Sebagian besar berasal dari murid tai chi saya,” katanya. Lewat grup Whatsapp, dia berharap bisa menengok pohon-pohon itu bila kelak datang ke Indonesia. Secara spontan saya jawab, silakan datang dan saya akan ajak menengok pohon-pohon yang dia dan kawan- kawan adopsi.
Minggu lalu Rudolf datang ke Jakarta, kami segera bertelepon dan mengatur janji untuk pergi ke Cipanas.Selasa kemarin, Rudolf, saya, Galih dan Tosca Santoso bersama-sama pergi ke Cipanas. Kami menengok pohon-pohon yang ditanam di Kampung Sukatani.Ngobrol panjang lebar dengan Tosca, Syarif dan Wiwiek dari Yayasan Prakarsa Hijau tentang pemberdayaan masyarakat dan rencana promosi kopi Indonesia di Australia. “Saya senang melihat apa yang dilakukan teman-teman di sini,” ujarnya. “Ini kerja konkrit untuk membantu rakyat Indonesia.”
Di perjalanan Rudolf bercerita bahwa ketika dulu mengajak teman-temannya ikut program PohonRantau dia sempat ditegur seorang penasehat IDN Global di Australia. “Saya dianggap terlibat kegiatan organisasi lain dan diberi kartu kuning,” ujarnya. Tapi Rudolf tak peduli dan maju terus. Dia menganggap tak ada masalah bekerjasama dengan siapapun
selama untuk kebaikan rakyat Indonesia.Saat berada di Jakarta, dia bertemu dengan Ketua Dewan Penyantun IDN Global Dino Patti Djalal danPresiden IDN Global EbedLitaay. Dia senang karena Dino tak mempersoalkan kerjasama itu. Sedangkan Ebed hanya tersenyum. “Pak Dino malah minta kegiatan itu diberitakan,” ujarnya.
Nugroho Dewanto (Cipanas, Jawa Barat)

Dikutip dari: http://kabar-rantau.melsa.net.id/read/406/Seorang-Diaspora-dan-Pohon- Rantau
14.11. Kopi Bajawa dan Kopi Arab
Bersama Pak Iwan Setiawan (kanan depan), Bapak Nugroho Dewanto dan Bapak Rahman (kiri belakang) membicarakan kopi asal Bajawa di Flores.

Bajawa datang dari kata Bhajawa, yang datang dari dua kata “Bha” serta Jawa”. Bha mempunyai artik “piring”, serta Jawa mempunyai makna “perdamaian”. Bhajawa mempunyai makna sebagai piring perdamaian atau daerah yang mengawali perdamaian untuk mempersatukan keseluruhnya Flores jadi utuh.

Flores Bajawa mempunyai daerah yang subur serta alami. Kopi Flores yaitu kopi dengan type Arabika. Perkebunan kopi di Bajawa mempunyai ketinggian di atas 1300 mtr. di atas permukaan laut. Makin tinggi daerah perkebunan jadi kopi yang dihasilkan bakal makin baik.

Semua kopi Flores Bajawa adalah kopi organik, tanpa ada bahan kimia. Ini satu diantara argumen kenapa kopi Flores mempunyai citarasa yang kuat serta harum.

Bapak Iwan adalah pemilik kopi Bajawa merek Oleto, Keunikan Kopi Oleto berasal dari racikan seimbang wangi cokelat Arabika organis Bajawa, Flores dengan Robusta super dari Gunung Argopuro, Jawa Timur yang melegenda,

Mas Iwan dengan modal terbatas tetap berusaha melaksanakan Fair Trade dengan membeli biji kopi dari petani dengan harga layak. Sebab dengan insentif harga yang layak, petani dapat memperbaiki kualitas produksi kopi on-farm dan off-farm.

Pada kesempatan lain, Bapak Rudolf sempat berbincang dengan Ibu Galih Permata mengenai Kopi Arab dari Cirebon, bersama Bapak Nugroho Dewanto. Kelebihan Kopi ini karena dicampur dengan berbagai rempah, seperti jahe, pala, lada dan cengkeh.

14.12. Pendidikan Dan Pelatihan Ekspor Indonesia (PPEI)

Pada tanggal 30 May 2016, Bapak Rudolf diundang oleh Bapak Wijaya, Kepala Seksi Promosi dan Publikasi PPEI. Pad pertemuan tersebut Bapak Rudolf bersama team PPEI
membicarakan upaya untuk mengexport produk-produk Indonesia ke Manca negara, terutama ke Australia.

Salah satu penrajin, Ibu Silvya Haryanto, juga pemilik gerai kerajinan tangan di Ruko Cendana Residence, Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Namanya Pasar Unik 80. Gerai ini mengerjakan sepatu lukis, tas lukis, kaos lukis dn kerajinan lainnya, seperti yang diperagakan oleh Ibu Silvya pada gambar disamping ini.

Penrajin lain yang tergabung dalam PPEI adalah Bapak Hanggie. Beliau menekuni produk Raya Bahari.

Produk Raya Bahari, merupaka produk camilan Ikan. Seperti yang terlihat pada gambar disamping
ini, seperti Ikan Kalapan, Ikan teri nasi dan sebagainya. Gerai camilan ikan adalah hasil produl UMKM Java Timur.

14.13. Kelinik Delima dan Valerie Giannie Coffee

Pada kesempatan lain, Bapak Rudolf juga berbincang dengan Dr Eliya mengenai Ramuan Kesehatan Wanita yang terdiri atas
Delima (Punica granatum, L) mempunyai aktifitas astringens pada flour albus (keputihan), efek astringennya dapat menciutkan selaput lendir serviks dan vagina, sedangkan Kayu rapet (Parameria barbata) berguna untuk mengecilkan rahim sehabis bersalin.

Kunir putih (Kaempteria rotunda L) senyawa aktifnya dapat meningkatkan jumlah limposit, meningkatkan antibody spesifik dan mengendalikan pertumbuhan sel kanker dan juga sebagai antioksidan yang dapat melindungi tubuh dari kerusakan sel kanker.

Adas (Foeniculum vulgare Mill) senyawa aktif Limonen nya menghambat jamur Candida albicans penyebab keputihan dan menambah daya tahan tubuh, sedang senyawa rutinnya dapat merangsang semangat dan gairah serta menunda penuaan.

Pulosari (Alyxia stellata) berguna untuk sakit perut (stomachic) dan juga sebagai antispasmodic, obat ini digunakan untuk mengurangi tegangan tinggi dari jaringan
otot polos. Jeruk nipis (Citrus Aurantium) mempunyai aktifitas melancarkan air kencing, mengobati demam dan menghilangkan bau badan

MRamuan ini membantu mengurangi lendir yang berlebihan dan bau tidak sedap pada organ kewanitaan,

Pada saat yang bersamaan, Bapak Rudolf juga berbincang mengenai kopi Gayo milik Ibu Irma Pamela Engelen yang pada saat itu menjabat sebagai KADIN.

Diatas adalah contoh-contoh produk Kopi Gayo dari Valerie Giannie Coffee milik Ibu Irma.

14.14. Super Mentor: Every Dream is Possible
Pada tgl 9 April 2016, Diaspora Australia mendukung kehadiran Supermentor yang ke10 di prakasi oleh Bapak Dino Pati Djalal dengan keynote speakers Mantan President RI, Dr.
Susila Bambang Yudhoyono (SBY), Iwan Sunito dan Dr. Dino Patti Djalal sendiri.
Nilai unik dari Supermentor adalah selalu mengingatkan orang-orang muda dan masyarakat umum bahwa di tengah meningkatnya rasa sinisme dan negativisme, masih ada banyak orang-orang baik dan memiliki niat baik dalam masyarakat, sehingga dapat memotivasi mereka untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Banyak dari orang-orang muda yang hadir di Supermentor secara terbuka menyatakan di media sosial bahwa mereka telah menjadi lebih positif dan lebih memiliki harapan sejak menghadiri sesi Supermentor tersebut.
14.15. Wonderful Indonesia

Seperti yang terlihat pada gambar diatas, Diaspora Australia di Sydney, ikut mendukung Wonderful Indonesia Festival and Travel Fair yang berlangsung dua hari, 30 April – 1 Mei 2016 di Tumbalong Green, Darling Harbour.
Pada acara pembukaan digelar karnaval bunga, gamelan Bali dan parade komunitas Indonesia. Selain itu akan ada berbagai pertunjukkan seperti tari Saman, tari Sunda, musik dari Indonesia, peragaan memasak dan pentas musik dari band Australia. Penyanyi Indonesia yang akan tampil adalah Tompi. Sedangkan koki yang akan memperagakan keahlian memasaknya adalah Callum Hann, pemenang kedua dalam acara televisi Master Chef Australian musim kedua.

Tumbalong Park sendiri merupakan satu ruang terbuka hijau di Sydney yang terletak di kawasan tetenger yaitu Darling Harbour. Dengan suhu udara musim gugur yang mulai sejuk tapi tetap bermatahari, Indonesia Festival and Travel Fair dapat dinikmati dengan menyenangkan.

14.16. Penelitian bersama (Joint Research)
Tujuan dari penelitian bersama ini di dasarkan pada buku Transformation from Wall street to Wellbeing yang dikarang oleh Prof Janet McIntyre dari University Flinders.

Penelitian Transformation from Wall street to Wellbeing meliputi penelitian dalam penataan demokrasi arsitektur dan penataan pemerintahan yang berimbang berdasarkan kebutuhan individu secara kolektif melalui partisipasi yang dipadu dengan aksioma bahwa manusia harus disadari untuk dapat berfikir bebas dan beragam, selama kebebasan dan keberagaman tersebut tidak mengganggu hak orang lain.

Seperti yang terlihat pada gambar diatas, hasil dari penelitian bersama dirangkumkan pada bulan September 2016 di universitas UNPAD, UNAS dan UI oleh Professor Janet dari Flinders universitas dan Prof Bambang dari Universitas Indonesia (UI).

Peneltian bersama ini tidak mungkin terjadi bila tidak dimulai dengan pengarahan Bapak Dino Patti Djalal usai CID-2 di Jakarta, agar pada CID-3 jangan lagi hanya wacana, tetapi laporan hasil kerja sama yang nyata antara Diaspora, Pemerintah dan Rakyat Indonesia.

Pengarahan Pak Dino ini memberi semangat bagi Diaspora Australia untuk mengunjungi UNAS yang di inisiasi oleh Ibu Dina Sari sebagai alma mater UNAS didampingi oleh VP IDN-NSW, Bapak Osco.

14.17. Meningkatkan Ekonomi Pedesaan
Diaspora Australia selalu berpegang pada prinsip “Give a man a fish, and You Feed Him for a Day. Teach a Man To Fish, and You Feed Him for a Lifetime”. itulah sebabnya mengapa Diaspora berpegang untuk membagi ilmu dengan cara yang se-efisien mungkin, misalnya dengan pendidikan jarak jauh, penelitian bersama antar Australia dan Indonesia universitas, bertukar pikiran melalui konferensi jarak jauh (conference call), dan sebagainya.

Hasil yang kami capai untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran di Indonesia dengan cara berkolaborasi secara langsung dengan masyarakat yang membutuhkannya dengan prinsip yang diutarakan diatas ternyata sangat naif, karena untuk dapat merubah sesuatu, diperlukan sumber (resource), baik berupa dana maupun waktu yang cukup besar. Apalagi semua aktivitas yang kami lakukan sampai saat ini terbatas hanya di Jakarta dan Jakarta bukanlah Nusantara. Sedangkan tujuan Diaspora adalah Nusantara.

Dari kegagalan yang kami alami, kami kembali ke papan gambar (drawing board) dan mulai mendesign cara-cara baru agar Diaspora dapat ikut berpartisipasi mengangkat ekonomi dari Sabang hingga Merauke. Untuk dapat berhasil secara nasional, harus ada kerja sama
antara Diaspora dengan orang- orang kecil dan pemerintah setempat dari Sabang sampai Merauke yang sudah berhasil ataupun semi berhasil.

Ide baru yang timbul adalah mendukung UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) di Nusantara. Sebab dengan mendukung UMKM, maka bila idea Diaspora ini berhasil, UMKM tersebut akan berkembang dengan baik dan mereka dapat memperbesar usaha mereka dan penduduk disekitar UMKM akan secara otomatis mendapat kerjaan sehingga mereka dapat membiayayai anak-anaknya untuk sekolah.

Untuk itu pada bulan 21-25 Oktober, tahun 2015 kami Diaspora Australia bersama Bapak
Yayan, Konjen KJRI Sydney, Bapak Najib Riphat, Dubes RI untuk Australia, Bapak Agung Haris Setiawan, Direktur ITPC, Ibu Sri Moertiningroem (Nunuk) dari BKPM Sydney, mengunjungi Trade Expo Indonesia (TEI-2015) di Jakarta untuk mencari produk-produk unggul Indonesia yang berkualitas tinggi yang apa yang dapat dipromosikan ke Australia.

Atas kerja sama antara Diaspora Australia dan Bapak Yayan, Konjen RI di Sydney, Australia, maka dari hasil kunjungan ke Trade Expo Indonesia (TEI2015), dapat dibuat eCommerce smes-indonesia.com.au portal misalnya untuk fashion seperti yang terlihat pada gambar dihalaman sebelumnya.

Tujuan dari eCommerce portal ini adalah untuk mempromosikan produk-produk unggul Indonesia dengan bekerja sama dengan SMESCO (Small and Medium Enterprises and Cooperatives”, atau KUKM – Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah) Indonesia.

SMESCO selain menyediakan sarana dan fasilitas pameran bagi KUKM, ia juga mempromosikan dan memasarkan produk-produk unggulan Indonesia ke luar negeri melalui kegiatan Trading House, melaksanakan kegiatan pelatihan bagi KUKM dan menampilkan produk-produk unggulan KUKM Indonesia di dalam gerai ritel UKM GALLERY. 10)

Pada Trade Expo Indonesia yang ke 31 (TEI2016), sekali lagi team Diaspora bersama dengan team KJRI, team BKPM dan team ITPC mengunjungi TEI2016 di Jakarta.

Dari informasi yang didapat melalui Kementerian Perdagangan, penandatanganan kontrak dagang misi pembelian di hari ke-2 didominasi oleh importir asal Australia, dengan produk makanan dan minuman sebesar USD 7.99 million.

Secara total, penandatangan hingga hari ke-2 ini telah dilakukan sebanyak 37 kali antara 30 importir dari 16 negara dengan 34 perusahaan eksportir Indonesia.
14.18. Seragam IDN-NSW
Pada persiapan untuk CID-4 Di Jakarta, IDN-NSW telah mendisign baju seragam yang direncanakan akan dikenakan pada CID-4.
Selain seragam, T-shirt ini juga dapat dipakai untuk mengisi kas IDN untuk dijual sebagai IDN merchandise

Seperti yang tertera pada gambar diatas, logo yang digunakan adalah logo IDN dengan harapan design ini juga dapat diterima sebagai seragam untuk IDN sedangkan T-shirt yang polos tanpa logo direncanakan untuk di beri logo yang specifik IDN Chapter masing-masing.
Karena berbagai alasan, impian untuk memiliki pakaian seragam IDN masih belum dapat dicapai. Tetapi kami tetap akan meneruskan ide ini dengan harapan pada suatu hari impian ini dapat terjadi.
14.19. Embracing Culture Enriching Nation
Acara ini berlangsung semarak dengan dihadirkannya beragam pertunjukan seni, tidak hanya dari budaya Tionghoa Peranakan, tetapi dari berbagai kebudayaan di Indonesia.
Salah satu pertunjukan yang ditampilkan ialah pentas angklung yang memainkan musik daerah dan nasional Indonesia serta lagu khas Peranakan Tionghoa di Indonesia.
Tak hanya itu, dalam perayaan ini juga ditampilkan pertunjukan naga (liong), seni bela diri, hingga tarian dari berbagai daerah di Indonesia seperti Sumatera, Jawa, dan Bali.
Acara ini tidak hanya dihadiri oleh komunitas diaspora dan masyarakat Indonesia di Perth tetapi juga masyarakat Australia setempat yang ingin menikmati pertunjukan seni maupun makanan khas Indonesia.

Konsulat Jenderal RI Perth, BapakAde Padmo Sarwono juga terlihat hadir bersama dengan Prof David T. Hill, Direktur Australian Consortium for ‘In–Country’ Indonesian Studies (ACICIS).
Turut hadir pada acara ini Bapak Udaya Halim, seorang aktivis sejarah Tionghoa dan pendiri Museum Benteng Heritage serta Bapak Anthony Liem yang merupakan anggota Australia Indonesia Association yang menggagas penelitian sejarah mengenai Black Armada di Australian National Maritime Museum.
Untuk menyimak informasi lanjut mengenai acara Indonesian Imlek Capgomeh, silahkan click ini atau disini.

Indonesian Imlek Capgomeh in Western Australia: Taiji and Qigong
14.20. Appreciation Letter from Event Organiser

15. IDN Australia AGM 2015-2017 Adelaide

May 10, 2017 – Andrian Wiguna, President of the Indonesian Diaspora Network in Australia spoke about the AGM of Indonesian Diaspora Network – Australia, that was held in Adelaide on 18-19 March 2017.
What activities were conducted at the recent AGM of Indonesian Diaspora Network? What problems do the different Australian state branches face in achieving their aims? What are the main agenda items of the network (IDN)? Andrian Wiguna addresses the issues.
Source: Diaspora Network AGM | SBS Your Language

16. Pelestarian Kota Tua Jakarta
Diaspora Australia, Bapak Rudolf Wirawan bersama dengan Bapak Martono (kedua dari depan kiri) dan team Pelestari Budaya Betawi, membahas pelestarian Kota Tua Jakarta.

Membedah buku “Kebangkitan Jiwa Bahari Bangsa Indonesia, Menggugah Semangat Kota Joang dalam Visi Jakarta Baru di Era Global” dengan Kata Pengantar Gubernur Propinsi DKI Jakarta Joko Widodo (Martono Yuwono etc al, Dinas Pariwisata & Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Pusaka Nusantara Raya, 2013).

Substansi buku ini seirama dengan dukungan kepada lestari nya Budaya Betawi sebagai Budaya Inti yang harus dirancang dalam Master plan pembangunan kota.

Para peserta diskusi dari kiri ke kanan: 1. Martono Yuwono. 2. SD Darmono. 3. Dorodjatun K Jakti (Pimpinan Diskusi) 4. Komaruddin Hidayat. 5. Romo Mudji Sutrisno. 6. Darmawan Prawirohardjo. 7. Bambang Ismawan diwakilkan oleh Eko Apriantono (tdk tampak pd foto). Di ujung kiri ibu Katharina, Sekretaris Prof. Dorodjatun K Jakti.

Buku ini dibahas oleh para Intelektual UI seperti Prof. Dorodjatun K Jakti, dan dari luar UI yakni Prof. Komaruddin Hidayat, Romo Mudji Sutrisno dll pada 10 Nov 2017 yang merekonendasikan agar Bapak Martono memberi Kuliah Studium Generale di dua Fakultas UI yakni Fakultas Ilmu Budaya dan Fakultas Arsitektur UI.

Buku Ini dijual dengan cara “Prabayar” Rp 150,000, – / buku melalui rekening BCA 7060398105 atas nama: Martono Yuwono (martonoyuwono2@yahoo.com).
17. Diaspora Australia Mendukung Yayasan Lupus Indonesia
Pada hari Jumat, 31 Maret 2017 jam 18:00-20:00, Ibu Tiara dan Ibu Ayu Bisono dari Yayasan Lupus Indonesia mengsosialisasikan Apakah LUPUS itu kepada masyarakat Indonesia di Sydney.
Lupus adalah penyakit peradangan(inflamasi) kronis yang disebabkan oleh sistem imun atau kekebalan tubuh yang menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh sendiri. Penyakit seperti ini disebut penyakit autoimun. Lupus dapat menyerang berbagai bagian dan organ tubuh seperti kulit, sendi, sel darah, ginjal,paru-paru,jantung, otak, dan sumsum tulang belakang.
Pada kondisi normal, sistem imun akan melindungi tubuh dari infeksi. Akan tetapi pada penderita lupus, sistem imun justru menyerang tubuhnya sendiri. Penyebab terjadinya lupus pada seseorang hingga saat ini belum diketahui. Sejauh ini, diduga penyakit yang lebih menyerang wanita dibandingkan dengan laki-laki ini dipengaruhi oleh beberapa faktor genetik dan lingkungan.

Untuk mengetahui informasi mengenai LUPUS lebih jauh, silahkan click di sini.
18. Diaspora Promosi Salah Satu Komoditi Indonesia Yang Terbaik Didunia
Selain mempromosikan produk-produk unggul Indonesia yang berkualitas tinggi, Indonesia juga masih memiliki banyak keunggulan yang sangat kompetitif lain. Misalnya, bila dibandingkan dengan negara-negara lain didunia, terutama bila dilihat dari sudut keunikan USP (Unique Selling Proposition), kepulauan di Nusantara diperkirakan melebihi dari 17,000 kepulauan5) dan Indonesia juga memiliki lebih dari 1300 suku bangsa.6)

Secara geografis, asset unik yang terbesar Indonesia adalah posisi Nusantara yang terletak tepat pada perpotongan antara cincin api (the ring of fire) dan garis khatulistiwa. Memang, dengan adanya cincin api, maka akan sering terjadi musibah ketika ada gunung berapi meletus. Selain berdampak negatif, letusan gunung berapi juga mempunyai dampak positif, misalnya sembuaran magma yang keluar dari perut bumi melalui gunung berapi yang kaya dengan mineral membuat tanah disekitar gunung berapi tersebut menjadi subur secara alamiah, sehingga timbul istilah: “Tanam tongkat, keluar pohon”. Selain tanah yang subur untuk pertanian yang memiliki kandungan mineral yang sangat berlimpah, lokasi di daerah- daerah gunung berapi juga pada umumnya menjadi wisata alam yang indah terkadang dilengkapi dengan danau dan sumber air panas (geyser) yang dapat dimanfaatkan untuk kesehatan.

REMARKABLE INDONESIA COFFEE – FROM EAST TO WEST

18.1. Fakta Mengenai Kopi Indonesia
Bila kita fokus pada salah satu komoditi dari hasil pertanian yang merupakan komoditas yang paling sering diperdagangkan, kedua setelah minyak jaitu kopi dan Indonesia juga merupakan sumber penghasilan kopi keempat terbesar didunia, setelah brazil, Vietnam dan Colombia maka dapat dibayangkan berapa besar perkembangan ekonomi di Nusantara, bila Indonesia dengan kesuburan alam dan lokasi yang sangat unik, karena Nusantara merupakan perpotongan antara cincin api dan bean belt (sabuk kopi) seperti yang tertera pada gambar dibawah ini:

Kopi Indonesia, walaupun tumbuh pada lokasi terbaik, dari hasil penelitian, kami mendapatkan kesan dari industri ahli kopi spesial di Australia, bahwa para ahli kopi Australia menilai kopi Indonesia memiliki reputasi yang kurang baik. Hal ini sangat mempengaruhi volume ekspor Indonesia ke Australia secara negatif.

Selain tantangan infrastruktur ditambah dengan kurangnya kesadaran konsumen kopi Indonesia di Australia, maka hasil kopi dari berbagai daerah di Indonesia yang ‘dilabel ulang’ dengan kopi yang telah terkenal dan diminati banyak orang seperti kopi dari Sumatera (Gayo, Linton, Sidikalang, dst). Namun, kopi dari daerah yang kurang terkenal, misalnya kopi Preanger, Bajawa, Kintamani, Wamena, dan sebagainya yang sering terbukti menawarkan kualitas yang tinggi dan sangat unik. Tentunya kopi-kopi ini
akan dicari oleh konsumen bila mereka diberi kesempatan untuk mencicipi (cupping) rasa kopi dari masing-masing daerah penghasil kopi terbaik di Nusantara.

Oleh karena itu, praktek-praktek pemberian label kembali adalah praktek-praktek yang melemahkan citra rasa kopi Indonesia dan sangat tidak membantu untuk mempromosikan kesadaran rasa yang unik dari setiap regional di Indonesia.

Setelah mengamati peluang bisnis kopi Indonesia di Australia lebih dari satu tahun dan mempromosikan kopi Nusantara bersama Bapak Yayan, Konjen KJRI di Sydney dan Bapak Agung Haris Setiawan, ITPC di Sydney, kami berpendapat bahwa pasaran untuk biji kopi hijau (green bean) dengan qualitas standard yang konsistent adalah peluang yang terbaik untuk mempromosikan kopi Nusantara.

18.2. Promosi Kopi Indonesia
Oleh karena itu untuk mempromosi kopi Nusantara ke Australia, utusan team kopi Australia, Bapak Rudolf dan Bapak Julius bersama utusan team kopi Indonesia Ibu Bina Bektiati dan Ibu Laura Astri Ivo Sitohang pada bulan september tahun 2016, bertemu dengan Bapak Agus Muharram, Sekretaris Menteri Koperasi dan UKM, Bapak Muhamad Taufiq, Staf Ahli Menteri Koperasi dan UMKM, Bapak Bagus Rachman Direktur Pengembangan Dan Pemasaran LLP KUKM Smesco RumahKu, Ibu Ir Niniek Agustini, MBA, Assistant Deputy Tata Laksana Koperasi & UKM di Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia.
Sebagai kelanjutan dari pertemuan di Jakarta pada bulan September 2016, Bapak Achmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat, mengirimkan team expert kopi yang terdiri atas team pemerintah dan petani kopi pada pertengahan bulan Desember 2016 yang di pimpin oleh Bapak Arief Santosa, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat ke Sydney Australia. Hasil cupping kopi jenis Arabica Java Preanger dari Jawa Barat yang diadakan di KJRI Sydney dengan team achli kopi kami di Australia, menghasilkan pertemuan lanjut kerja sama antara team kopi Java Barat dan team kopi Australia yang diwakili oleh Bapak Tony dan Bapak Rudolf untuk mempromosikan kopi Preanger dengan cara di adu di MICE (Melbourne International Coffee Expo) pada tgl 31 March 2017 di Melbourne.

Pada gambar diatas terlihat team kopi Jawa Barat dan team kopi Australia bertemu pada tanggal 17 Desember 2016 di Waterfront Church Point restoran milik Tony Macri (dari kiri ke kanan: Ibu Neni Sutiana, field processing, marketing and business plantatnin, Bapak Dudung Ahmad Suganda, planseed development center, Bapak Arief Santosa, Head of Department of plantation of West Java Province, Bapak Tony Macri, Director Coffee Brothers, Q Grader, Coffee Judge, Bapak Rudolf Wirawan, Founder and CEO of Wirasoft Pty Ltd , Bapak Sammy Broery Jusuf Lech and Bapak Tedy Sunandar Kosasih, both are West Java Coffee Businessman). Pada pertemuan tersebut, dibicarakan cara strategi bagaimana kita bersama dapat mempersiapkan kopi Preanger untuk dikompetisikan di MICE pada bulan Maret di Melbourne.

Seperti yang terlihat pada gambar di bawah, kopi Preanger ternyata berhasil mendapatkan medali perunggu, setelah berkompetisi di MICE pada tanggal 31 Maret 2017 dengan lebih dari 80 peserta dari manca negara. Dibawah ini adalah koment dari Bapak Tony:

Gents,

Certificate for coffee award, only 1.35 points away from a Silver.

Will bring certificate to our meeting on Thursday.

Judges Notes: “Spiced dried fruit aroma, flavours of nutmeg caramel, cocoa powder finish, silky body food citric acidity”.
Regards, Tony Macri,
Licensed SCAA/CQI coffee Q Grader NSW AASCA Judge 2013-14
RAS of NSW Associate Judge 2014 AICA/RASV Judge 2014

18.3. Penyerahan MICE Certifikasi
Pada hari Sabtu, tanggal 20 Mei 2017, Pemprov Jabar khususnya Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Bapak Arief Santosa, yang secara langsung menerima sertifikat Bronze Medal (medali perunggu) untuk kategori ‘Espresso single origin’ yang diserahkan oleh S.J.G (Ebed) Litaay, LLM selaku president Indonesian Diaspora Network didampingi oleh Rudolf Wirawan, MSc, MACS, CSM kepada Kepala Dinas Perkebunan,

Keberhasilan Indonesia dalam mempromosikan produk kopinya di ajang MICE 2017 ini merupakan hasil kerja sama yang baik antara pelaku usaha kopi dan pemerintah Republik Indonesia, khususnya dukungan yang sangat luar biasa dari Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) Sydney yaitu telah memfasilitasi keperluan promosi termasuk booth yang cukup luas, sehingga
produk kopi Indonesia dapat dipromosikan di ajang pameran kopi bergengsi tersebut. Adapun para pelaku usaha kopi Java Preanger yang ikut terlibat dalam event MICE adalah Wildan dengan brand Frinza Coffee asal kopi Gunung Halu untuk Cappucino-Milk Blend dan Samm dengan brand Gedogan Coffee asal kopi Gunung Manglayang untuk Espresso single origin. .
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Bapak Arief Santosa, sangat meyakini bahwa sertifikasi Indikasi Geografis Kopi Arabika Java Preanger No. ID G 000000022 yang diraih pada tanggal 22 Oktober 2013 lalu, telah turut memberi andil dalam diraihnya berbagai kesuksesan para pelaku usaha kopi Jawa Barat khususnya pelaku yang tergabung dalam Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Java Preanger. Ini menjadi bukti nyata bahwa Kopi Arabika Java Preanger yang telah mendapat perlindungan Indikasi Geografis (IG) perlu menjadi identitas dunia.

Lebih lanjut dikemukakan Arief, bahwa peran pemerintah khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat dalam upaya membangkitkan kembali agribisnis perkopian di Jawa Barat, telah banyak dilakukan aktiviats yang bersifat memfasilitasi para pelaku usaha kopi.
Sebagai contoh, di tingkat off farm hulu; pembangunan kebun sumber benih, melakukan inventarisasi varietas unggul lokal, mengembangkan teknologi perbenihan, penyediaan benih kopi gratis melalui bantuan Gubernur Jawa Barat yang saat ini sudah mencapai 10 juta benih, memberikan pelayanan sertifikasi benih kopi.

Sedangkan di On Farm, dilakukan aktivitas peningkatan produksi dan produktivitas melalui intensifikasi, ekstensifikasi, peremajaan, rehabilitasi, optimasi dan diversifikasi. Aktiviats lain, penetapan kelas kesesuaian lahan kopi, pemberian bantuan pupuk, pengendalian hama penyakit dan penerapan Good Agricultural Practices (GAP).

Untuk Off Farm Hilir, dilakukan aktivitas bimbingan pengembangan rantai nilai, pengawasan mutu hasil untuk peningkatan nilai tambah petani, peningkatan promosi dan pemasaran baik
dalam negeri maupun pemasaran ke Luar Negeri, bimbingan teknis penerapan GMP dan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Sebagai penunjang aktivitisa Hulu hingga Hilir, dilakukan pengawalan kesesuaian pemanfaatan lahan, menata kelembagaan petani kopi melalui pemberdayaan petani, penguatan organisasi petani, pemberian informasi yang memadai, penciptaan Wira Usaha Baru (WUB) perkopian dan aktivitas lainnya yang mampu meningkatkan posisi tawar petani dan pelaku usaha skala kecil, memberikan bantuan Unit Pengolahan Hasil (UPH) kopi berikut perlengkapan peralatannya, melakukan pengujian kualitas kopi berstandar SNI.

Kebanggaan tak ternilai bagi Pemprov Jabar khususnya Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, yang secara langsung menerima sertifikat Bronze Medal (medali perunggu) untuk kategori ‘Espresso single origin’ yang diserahkan oleh S.J.G (Ebed) Litaay, LLM selaku president Indonesian Diaspora Network didampingi oleh Rudolf
Wirawan, MSc, MACS, CSM kepada Kepala Dinas Perkebunan, Arief Santosa beserta jajarannya di Gedogan Coffee and Tea tadi malam, Sabtu (20 Mei 2017).
19. Aksi Diaspora Australia

19.1. Karawang

PREDIKAT Kabupaten Karawang sebagai kota lumbung padi nasional yang disandang sejak puluhan tahun lalu nampaknya bakal bergeser.

Status sebagai kota penghasil padi terbesar nomor dua setelah Indramayu terancam hilang akibat alih fungsi lahan yang terus terjadi setiap tahunnya.

Kabupaten Karawang yang agraris dalam sepuluh tahun terakhir berubah menjadi kota industri dengan 1.500 perusahaan mancanegara bermukim di sejumlah kawasan industri yang dibangun Pemkab Karawang.

Semula perubahan ini seperti membawa kebanggaan masyarakat Karawang karena tanahnya menjadi primadona bagi indsutriawan mancanegara. Tak heran ketika Karawang menyandang status ganda sebagai kota lumbung padi nasional sekaligus kota industri tidak ada protes dengan status itu. Hanya saja belakangan ini sejumlah elemen masyarakat di Karawang menyadari dampak negatif masuknya indsutri besar di Karawang adalah habisnya lahan pertanian yang ada di Karawang terutama di zona industri.

Berdasarkan data Dinas Pertanian, Kehutanan, Perkebunan dan Peternakan (Distanhutbunak) Kabupaten Karawang, selama kurun waktu 10 tahun terakhir ada sekitar 182 hektare lahan pertanian beralih fungsi menjadi nonpertanian setiap tahunnya. Dari hasil sensus tani (ST) luas keseluruhan lahan baik lahan kering maupun sawah adalah 175.327 hektare. Itu terdiri dari 97.529 hektare areal persawahan produktif dan sisanya merupakan lahan kering, termasuk pekarangan.

“Karawang sendiri dibagi menjadi tiga zona, yaitu zona industrial, zona kota untuk perumahan dan usaha lain, dan zona utara untuk pertanian dan perikanan,”paparnya. Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) Karawang menyebutkan, berdasarkan luas lahan, jumlah rumah tangga usaha pertanian yan menguasai lahan kurang dari 0.50 hektare mengalami penurunan cukup tajam , yakni dari sebanyak 205.043 rumah tangga hasil sensus tahun 2002 turun menjadi 66.099 rumah tangga hasil sensus 2013.

Diaspora Australia mengunjungi Karawang untuk mempelajari kemungkinan membangun ecotourism di daerah Karawang yang berbasis kopi, bambu dan IT.

19.1.1. Mengunjungi Karawag Untuk Pertama Kali
Bapak Julius Wijaya bersama dengan Bapak Rudolf Wirawan, merupakan team Diaspora Australia yang mengunjungi Karawang dan bertemu dengan Camat Batujaya, Karawang, Bapak Rohmana S.
Dalam pertemuan ini dibicarakan mengenai upaya mempertahankan Kabupaten Karawang sebagai Lumbung Padi Nusantara.
Karawang adalah daerah yang subur dan dilewati oleh Sungai Citarum, sungai terbesar dan terpanjang di Propinsi Jawa Barat ini, yang menjadi batas wilayah Kabupaten Karawang dan Bekasi. Sungai Citarum sangat penting keberadaannya bagi Kabupaten Karawang, karena hampir seluruh wilayah area pertanian Karawang mendapatkan sumber air dari sungai ini.
Dari luas wilayah Kabupaten Karawang yaitu 1.753,27 kilometer persegi atau 175.327 hektar hampir separuhnyayaitu 98.346 hektar adalah lahan pertanian.Pertanian di Kawarang mendapatkan sumber air dari 3 (tiga) saluran irigasi yang airnya bersumber dari Sungai Citarum yang dialirkan melalui Saluran Induk Tarum Utara, Saluran Induk Tarum Tengah, dan Saluran Induk Tarum Barat dimanfaatkan untuk pengairan sawah, tambak dan pembangkit tenaga listrik.
Namun disayangkan pertumbuhan perumahan dan industri dikawasan Kabupaten mengancam penyempitan luas lahan pertanian. Kabupaten Karawang yang lokasinya sangat dekat dengan Bekasi, Jakarta dan Bandung membuat kawasan ini menjadi daya tarik sendiri untuk para investor untuk mengembangkan ekpansinya baik untuk perumahan maupun untuk kepentingan industry.

Pada kunjungan tersebut, team Diaspora didampingi oleh Bapak Rifki Habibi, President Karawang Youth Movement, meninjau kemungkinan untuk mempromosikan Karawang sebagai ecotourism ke Manca negara, termasuk Australia.

Pada peninjauan Situs Batujaya ini, kami diberi tahu oleh Bapak M. Kaisin, achli sejarah percandian di Karawang, bahwa Situs Batujaya ternyata lebih tua usianya dari pada Candi Borobudur.

Situs Batujaya secara administratif tepatnya berada di dua desa yaitu desa Segaran, kecamatan Batujaya dan desa Telagajaya, kecamatan Pakisjaya, kabupaten Karawang Propinsi Jawa Barat. Secara astronomi situs ini terbentang antara 107o.09’.01,00” hingga 107o.09’.05,91” Bujur Timur serta antara 06o.02’.52,10” hingga 06o.03’.34,17” dan luas lahan diperkirakan memiliki tinggalan arkeologi sekitar 5 km persegi.

Situs ini terletak pada areal-areal persawahan dan sebagian pada pemukiman penduduk, berada tidak jauh dari garis pantai utara Jawa Barat (pantai ujung Karawang) sekitar 6 km di sebelah selatan dan pada jarak 500 m di sebelah selatan mengalir Sungai Citarum yang alirannya membujur dari arah tenggara ke barat laut. Keberadaan sungai Citarum sangat mempengaruhi air tanah di daerah Batujaya sehingga pada musim kemarau tidak terjadi kekeringan air tanah bahkan sepanjang tahun basah oleh genangan dan resapan air.

Pada kesempatan ini, Bapak Rifki juga mengajak kami mengunjungi rumah bersejarah di Rengasdengklok, dimana Bung Karno dan Bung Hatta sempat di “culik” oleh para pemuda (Adam Malik, Chaerul Saleh, Sukarni) yang menuntut agar kemerdekaan Indonesia segera diproklamasikan.

Pada photo diatas, terlihat cucu Djiaw Kie Siong, pemilik rumah (tengah) yang bersejarah tersebut. Djiaw adalah seorang petani kecil keturunan Tionghoa. Ia merelakan rumahnya ditempati oleh para tokoh pergerakan yang kelak menjadi “Bapak Bangsa”. Hingga kini rumahnya masih dihuni oleh keturunannya.

Babah (sebutan untuk laki-laki Tionghoa) Djiaw pernah berwasiat, keluarga yang menempati rumah bersejarah itu harus bersabar. Tak dibolehkan merengek minta- minta sesuatu kepada pihak mana pun. Bahkan, harus rela setiap hari menunggui rumah mereka demi memberi pelayanan terbaik kepada para tamu yang ingin
mengetahui sejarah perjuangan bangsa.

Djiaw meninggal dunia pada 1964 dan namanya praktis hampir tidak dikenal ataupun tercatat dalam sejarah. Mayjen Ibrahim Adjie pada saat masih menjabat sebagai Pangdam Siliwangi, pernah memberikan penghargaan kepada Djiaw dalam bentuk selembar piagam nomor 08/TP/DS/tahun 196116.

19.1.2. Mengunjungi Karawag Untuk Kedua Kali
Diaspora Australia bersama warga dan kepada desa Karawang membicarakan rencana
bersama untuk mempromosi budaya, wisata, kuliner Sunda ke manca negara dan mem- pertahankan Karawang tetap sebagai desa Lumbung Padi.

Karawang adalah sebuah Kabupaten yang berada di sebelah utara Provinsi Jawa Barat,
Karawang letaknya berbatasan langsung dengan Laut Jawa di utara, Karawang merupakan Kabupaten Terlengkap Sumber Daya Alamnya yang melinkupi hamparan pesisir laut
utara, pesawahan yang luas sehingga Karawang mendapatkan julukan Lumbung Padi. Karawang juga terkenal dengan candi-candi sejarah yang konon lebih tua dari candi
Borobudur. Pegunungan yang terhampar diselatan Karawang dengan
beberapa gunung terkenal dengan berbagai sumber hasil alamnya diantaranya Gunung SANGGABUANA
yg terkenal didalamnya banyak mengandung kandungan Logam Mulia/Emas.
Sehingga tidak heran jika di karawang terdapat tempat-
tempat wisata pantai, wisata sejarah, wisata Religi dan Wisata Purbakala yang sangat
indah yang sering mendapat kunjungan para wisatawan yang berlibur ke tempat wisata yang ada di Jawa Barat.

Beberapa ide yang muncul dari pertemuan diatas adalah mempromosikan Karawang sebagai ecoturism, dimana para wisata asing dari Manca negara dapat belajar menanam padi, belajar seni dan budaya Sunda, Pencak Silat dan tentunya juga kuliner Sunda.

Dibawah ini adalah undangan dari Yayasan Budaya Mandiri, Saung Beureum bagi peserta Conference Indonesia Diaspora yang ke 4 (CID-4) dibulan Agustus 2017:

19.2. Kepulauan Seribu
Pada kunjungan Diaspora dari Australia ke pulau Harapan dan Kelapa Dua, Bapak Rudolf bertemu dengan warga dan kepala desa Kepulauan seribu. Pada kesempatan itu dibicarakan mengenai kerjasama dengan Diaspora Australia untuk mempromosikan wisata kepulauan Seribu ke manca negara seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini:

Hasil pembicaraan di Kep. Seribu, adalah membuat kep Seribu sebagai GATEWAY wisata destinasi di Nusantara melalui kopi. Rencana pertama adalah membuat pulau Kelapa Dua
sebagai GATEWAY bagi turis-turis baik lokal maupun manca negara yang mengunjungi kepulauan seribu sambil mencicipi kopi dari berbagai daerah di Nusantara.

Tentunya setiap kopi yang datang dari daerah penghasilan kopi seperti Gayo, Preanger, Toraja dan sebagainya dilengkapi dengan informasi wisata daerah asal kopi tersebut.
Saran yang diajukan oleh Diaspora Australia adalah membangun Saung Kopi Bambo di pulau Kelapa Dua seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini:

Dimana para wisata dari manca negara tidak saja dapat menikmati keindahan alam Kepulauan Seribu sambil menikmati kopi-kopi Indonesia yang terbaik didunia di Saung Kopi Bambu, tetapi juga dapat menikmati bangunan arkitek bambu terkini ciptaan anak bangsa seperti yang tertera pada gambar dibawah ini.

Dengan demikian dapat diperkirakan, pencinta-pencinta kopi tidak saja akan mengunjungi tempat-tempat asal kopi-kopi di Nusantara tersebut, tetapi juga dapat melihat contoh-contoh nyata rumah terbuat dari bambu yang dibangun secara tradisional architektur Indonesia, sehingga selain kopi, rumah jadi bambu, wisata, budaya dan kuliner dari setiap daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia dapat dipromosikan ke manca negara.

Dari hasil kunjungan ke kepulauan Seribu terjalin kerja sama antara Diaspora di manca negara dengan warga kepulauan Seribu yang di pimpin oleh Ibu Ivonne Zakaria, ketua GERAKAN1000 sbb:

20. Conference Indonesia Diaspora VI (CID-4)
Seperti yang kita ketahui bahwa gerakan Diaspora terinspirasi oleh Sumpah Pemuda yang dilakukan pada tanggal 28 Oktober 1928 untuk menyatukan gerakan individu-individu melawan kolonial, seperti halnya dengan Wong Java, Wong Celebes, Wong Ambon, dll.

Pak Dino dan Pak SBY menyerukan CID yang pertama di LA, sesuai dengan niat untuk menyatukan kontribusi-kontribusi dari para Diaspora di manca negara. Itulah sebabnya kita juga menucapkan Sumpah Diaspora pada setiap konferensi Diaspora.

Kita semua sebagai individu tentunya memiliki kekuatan dan kelemahan, tapi bila kita bersatu yang ada hanyalah kelebihan. Oleh karena itu seperti yang di katakan oleh JFK: ” Ask not what your country can do for you – ask what you can do for your country”.

Sesuai dalam kehidupan ini ada banyak cara untuk mencapai tujuan yang sama. Demikian juga dengan Indonesia Diaspora Network (IDN).

Pada saat ini ada dua IDN. IDN versi July, yang di ketuai oleh Bapak Mark Gerlad Eman sebagai President IDN dan IDN versi August yang diketuai oleh Bapak Herry Utomo, juga sebagai President IDN. Sedangkan kami di Australia, terutama di NSW, tidak memihak ke IDN-JUL ataupun IDN-AUG, tetapi kami menghormati keputusan dari kedua organisasi ini. IDN-NSW masih tetap melakukan visi/misi IDN yang telah dicetuskan pada Deklarasi Diaspora Indonesia di Los Angeles, 8 Juli 2012.

20.1. CID4-JUL – BERSINERGI BANGUN NEGRI
Kongres keempat versi July diselenggarakan pada tanggal 1 – 4 Juli. Kali ini, Kongres tersebut mengambil pendekatan baru. Dari segi format, Kongres sebelumnya adalah “Diaspora-ke-diaspora”, atau “diaspora-ke-pemerintah”, atau kombinasi keduanya. Apa yang berbeda kali ini adalah bahwa sebuah konvensi publik akan diadakan, yang akan menjadi pertama kalinya sebuah “D to P” – diaspora ke publik – diadopsi.

Secara signifikan, Konvensi tersebut dibuka oleh Presiden Barack Obama. Konvensi ini memfasilitasi sesi “meet and greet” untuk memungkinkan masyarakat untuk bertemu dengan diaspora secara langsung dalam suasana ramah.

Hari kedua dan ketiga (2 dan 3 Juli) menjadi pertemuan internal IDNG dan rapat umum diaspora yang bertujuan untuk membahas dan menentukan arahan strategis diaspora, dan memilih struktur kepemimpinan baru IDNG.

Setelah sambutan pembukaan, untuk pertama kalinya Kongres mengadakan konvensi selama satu hari yang bersifat terbuka untuk umum. Konvensi terdiri dari 12 sesi yang menghadirkan pembicara-pembicara ternama dari berbagai kalangan di Indonesia; pejabat pemerintah, tokoh korporat, pemuka agama, politisi, selebriti, seniman, aktivis, atlet, inovator, akademisi, pemimpin muda, dan lainnya.

Dari Australia juga hadir pembicara & panelis: Iwan Sunito (Sydney), Iwan Wibisono (Melbourne) dan juga pemenang MKR 2016 Tasia dan Gracia (Melbourne). IDN Australia yang dipimpin Andrian Wiguna (Adelaide) juga mempresentasikan kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan selama ini, baik di tingkat National chapters, juga di local-local chapters.

Rangkaian acara Kongres CID4, diakhiri dengan farewell gathering di Bengkel Diaspora yang berlokasi di Sekretariat IDNG di Jakarta, sambil menikmati nasi padang bersama- sama.

Secara keseluruhan, Delegasi Australia mengambil peran penting dan ikut berkontribusi besar bagi suksesnya Kongres Diaspora CID4 kali ini.
20.2. CID4-AUG – Dari Diaspora untuk Indonesiaku
IDN versi Augustus diselangarakan pada tanggal 21-22 Augustus 2017 memaparkan berbagai program terobosan nyata untuk pembangunan Indonesia. Program-program itu disampaikan dalam kegiatan Congress of Indonesian Diaspora (CID) 4th Global Summit 2017 di Hotel J.S. Luwansa dari tanggal 21-22 Agustus 2017.

Mengikuti tradisi sebelumnya, kongres Indonesian Diaspora Network bertajuk Global Summit kembali digelar di bulan Agustus. Tidak kurang dari 2000 diaspora yang berasal dari puluhan negara memadati kongres yang berlangsung pada 21-22 Agustus di hotel JS Luwansa.

Dalam sambutannya, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) mengakui potensi dahsyat diaspora dan meminta agar para diaspora terus berkontribusi terhadap Indonesia. JK berpesan bila para diaspora membawa ilmu, keahlian, jaringan, investasi, serta remitansi ke Tanah Air maka hal-hal tersebut akan berdampak signifikan terhadap pembangunan di Tanah Air.

Pada hari kedua digelar 32 sesi yang terdiri dari 120 topik bahasan yang dipresentasikan oleh 110 pembicara diaspora yang ahli di bidang masing-masing beserta partnernya. Sesi- sesi tersebut menampilkan strategi serta kontribusi nyata diaspora di berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, pengembangan usaha kecil dan menengah, energi, liveable cities dan teknologi pengembangan, pekerja imigran serta advokasi terhadap diaspora.

Seperti yang dapat dilihat pada gambar-gambar dibawah ini, Diaspora Australia memberi kontirbusi sesi-sesi dengan topik sebagai berikut: Tourism, Coffee, Bamboo, Culture, IT Education, IT Outsourcing, Health (LUPUS), Cassava plastik and Batik.

Global Summit akhirnya ditutup dengan 30 Out-reach Program ke seluruh penjuru Nusantara dalam bentuk kunjugan lapangan dan pendampingan ke berbagai desa, mulai dari Papua, Ambon, Sulawesi, Jawa, Sumatera, hingga Pulau Seribu.

20.3. Out-Reach Program
20.3.1. Kepulauan Seribu
Berpartisipasi di Kep Seribu sebagai konserve Trip / Trip Budaya & Konservasi perdana yang memberi efek langsung kepada tujuh (7) UMKM (Tourism and Conservation Base).
Program ini melibatkan kerja sama dengan sembilan (9) kementerian dan institusi lainnya, yaitu UMKM Ekowisata (Kuliner Siap Saji, Kuliner Kemasan, Kapal Ojek, Homestay (Rumah Panggung), Lulur Tradisional, Film
Dalam aktivitas ini, Diaspora Australia berkerja sama dengan Gerakan 1000 yang di ketuai oleh Ibu Ivonny Zakaria.
Pada kesempatan ini, kami juga melihat hasil metode dan fasilitas pengajaran bahasa Inggris jarak jauh di Kepulauan Seribu untuk pemandu wisata setempat.

Dialog tentang hasil program pelatihan industri Creatief Economie di masyarakat.
Menyusun program berikutnya di sembilan (9) Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) lainnya antara GERAKAN 1000 dan Diaspora. Sembilan (9) KSPN adalah Tanjung Lesung, Morotai, Wakatobi, Mandalika, Danau Toba, Labuan Bajo, Tanjung Kelayang, Borobudur dan Bromo, Semeru, Tengger.

Menyusun program pengembangan pemasaran KOPI NUSANTARA ke pasar global.
Laporan terachir dari Ibu Ivonny, menyatakan Saung Kopi di Pulau Kelapa Dua, sudah tersedia empatbelas (14) type kopi Arabica Nusantara.

20.3.2. Karawang
Pada tanggal 25-26 Agustus, Diaspora dari manca negara mengunjungi Karawang. Lingkup dan tujuan dari kunjungan / proyek
Konferensi Diaspora di Karawang 2017 “Bersama Diaspora Membangun Indonesia” digelar pada tanggal 25 Agustus 2017. Acara ini berlangsung di Aula Universitas Singaperbangsa. Pembicara untuk acara ini adalah Rektor UNSIKA, Bupati, Ketua KYM dan Diaspora. Setelah itu program akan dilanjutkan mengunjungi Tugu Proklamasi dan Batu Raja.
Pada hari kedua (26 Agustus 2017) ada sesi sharing tentang budaya dan sejarah di Saung Bereum, kami mengunjungi Desa Mekarbuana untuk mengidentifikasi potensi pariwisata dan UMKM di desa ini.

Indonesia Diaspora Network Global melaksanakan CID-4 (Conference on Indonesia Diaspora ke-4) di Jakarta pada tahun 2017, tidak hanya konferensi namun Diaspora Global sesuai dengan komitmennya bersinergi bersama dengan segenap masyarakat
dan pemerintah dalam membangun desa – desa di nusantara agar lebih baik dan maju,
.

20.3.3. Benteng Museum Heritage

Bersama Diaspora dari manca negara, kami mengunjungi Benteng Heritage Museum,
Benteng Heritage Museum adalah museum di Tangerang, Banten, Indonesia. Ini adalah museum keturunanTionghwa pertama dan satu-satunya di Indonesia yang terletak di Pasar Lama Tangerang dekat Sungai Cisadane.
Museum pribadi milik Udaya Halim ini merupakan hasil restorasi dari sebuah bangunan tua berarsitektur tradisional Tionghoa yang diduga dibangun pada sekitar abad ke-17.
Bangunan yang terletak di Jalan Cilame, Pasar Lama, Tangerang, ini merupakan bangunan tertua di Tangerang dengan unsur Tionghoa yang amat kental.
Mengunjungi Museum Warisan adalah untuk lebih memahami akar dan kontribusi semua etnis di Indonesia yang unik dan berkontribusi dalam setiap aspek kehidupan. Begitu juga dengan Slogan Nasional Bhineka Tunggal Ika.
20.3.4. Ambon
Mengunjungi Ambon, membuat kami sangat bersedih hati dan terharu melihat “Ambon Manise” tidak lagi seperti yang kami bayangkan sewaktu kami masih duduk di bangku sekolah lima puluh (50) tahun yang lalu. Seperti yang terlihat diatas, teluk Ambon sudah dipenuhi dengan sampah-sampah plastik yang tidak akan hilang bila tidak ada turun tangan dari masyarakat dan pemerintah setempat di Ambon.
Beberapa alternative telah direncanakan bersama dengan Diaspora dari manca negara, salah satunya adalah mempromosikan ecoplast yang terbuat dari bahan plastik berbasis
cassava (ubi kayu) dari PT Harapan Interaksi Swadaya (Greenhope).
Ecoplas adalah plastik berbasis bio dan degradable yang terbuat dari singkong yang didapat secara wajar (Fair Trade Certified), dan berdampak lingkungan dan sosial yang positif. Ecoplas telah mendapatkan banyak penghargaan baik nasional maupun internasional sebagai salah satu bahan berbasis bio yang paling kompetitif menuju plastik hijau yang berkelanjutan.
Ecoplas plastik ramah lingkungan – Net Feature

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah daerah, misalnya dengan menerapkan sistem 3R yakni Reuse, Reduce, dan Recycle. Sistem ini dapat menjadi salah satu solusi dalam menjaga lingkungan agar tetap bersih di samping mengolah sampah menjadi kompos.
Diperkirakan setiap hari sebanyak 140 ton sampah diangkut petugas kebersihan dengan mobil truk pengangkut sampah, ini jumlah yang sangat banyak. Pengolahan sampah ada di dua lokasi: Laha dan Passo. Tetapi sayang nya pengolahan sampah pada saat ini tidak seimbang.
DIASPORA NETWORK BERKUNJUNG KE INSTANSI PENGOLAHAN SAMPAH
20.3.5. Kediri
Dalam kereta api Sembrani bersama Team Santi Paguyuban Kediri (Sanyuri), dari kiri ke kanan, Ibu Aminah, Bapak Catur dan Prof Dr Muladno, turun di Cepu menuju peternak sapi di Bojonegoro pada tanggal 18 November 2017.
Perjalanan ini berawal dengan pertemuan pertama dengan Ibu Aminah di Perth pada waktu diadakan perayaan Capgomeh 2017 pada tanggal 27 Februari 2017 di Perth. Pada pertemuan tersebut, Rudolf sebagi President IDN-NSW dan VP IDN-Global untuk Australia dan Oceania, memaparkan visi/misi perjuangan Diaspora dan sejarah perkembangan Diaspora sejak 2012 yang di dirikan oleh Bapak Dino Patti Djalal dan didukung penuh oleh pemerintah SBY.

Setelah berkenalan dengan Ibu Aminah, Diaspora dari WA-IDN di Perth, Bapak Rudolf diperkenakan kepada dua teman dekat dari Ibu Aminah yang kebetulan mereka juga adalah anggauta Sanyuri Kediri, Ibu Tanti Koentjara (kiri) dan Ibu Henny Koco (kanan) di Jakarta.

Dari hasil pertemuan tersebut, Bapak Rudolf secara resmi diundang ke Wisma Singgah Kediri di Jakarta pada tanggal 12 Agustus 2017 untuk perkenalan dan ramah tamah dengan Pengurus SANYURI Kediri di Jakarta.

Pada perkenalan dan ramah tamah tersebut, Bapak Rudolf di undang ke Kediri untuk memberi ceramah mengenai Gerakan Diaspora Australia agar dapat memberi motifasikepada pemuda pemudi dan mahasiswa majasiswi Kediri pada tanggal 20 November 2017 dengan judul: “Bersama Diaspora Merajut Potensi & Konsistensi Kota Kediri” dengan Prof Dr Muladno, Pengurus Sanyuri Kediri.

Pada pertemuan dengan Prof Dr Muladno, Bapak Rudolf juga memberi dukungan IT Technology guna menjukseskan pertenakan di Nusantara yang sudah dirintis oleh Bapak Rudolf sejak 2010 guna memenuhi panggilan Bapak SBY untuk swasembada daging sapi.

20.3.5.1. SPR-111 Program Pemuliaan Sapi
Bersama Prof Dr Muladno, Diaspora Australia ikut mendukung pemuliaan ternak melalui IT Technology.
Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA adalah guru besar genetika dan pemuliaan ternak fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Prof Muladno adalah pendiri Sekolah Peternak Rakyat (SPR)-111 dan Kemitraan Mulya-60 (KM-60).
Upaya yang harus dilakukan agar program pemuliaan dapat diterapkan pada peternak rakyat adalah menghimpun peternak dalam satu kawasan tertentu untuk berjamaah mengelola ternaknya berdasarkan ilmu pengetahuan dan IT technology yang berorientasi pada bisnis yang menguntungkan.
Dalam konsep SPR-111, makna angka 111 adalah pada setiap unit SPR memiliki 1000 sapi indukan dan maksimal 100 sapi pejantan pemacek yang dikelola mengunakan minimal 10 strategi untuk mewujudkan satu visi peternak yaitu mandiri dan berdaulat.
Untuk menghasilkan populasi sapi yang standard dalam aspek produktivitas dan reproduktivitasnya, minimal harus ada sepuluh (10) strategy yang harus diterapkan sbb:
(1) Setiap tahun sapi indukan beranak satu pedet, (2) perbanyak jumlah sapi indukan, (3) reproduksi ternak indukan dipantau dan dicatat process maupun perkembangannya, (4) sediakan pangan sesuai takaran dan minum secara berlebih (ad libitum), (5) semua limbah
pertania sebagai bahan pakan, (6) racik bahan pakan untuk menghasilkan pakan sesuai takaran, (7) susun rencana bisnis kolektif berdasarkan aset yang dimiliki, (8) produktivitas sapi dicatat sejak lahir sampai siap potong atau siap jadi indukan baru, (9) reorientasi dalam usaha peternakan dan revitalisasi kelembagaan yang ada, (10) ikuti petunjuk berharga dari pihak manapun untuk suksesnya program pemuliaan di SPR.
Diharapkan satu visi peternak untuk mewujudkan kemandirian dan kedaulatannya akan terwujud jika peternak berkomitmen tinggi dan didampingi aparat pemerintah maupun akademisi.
Diaspora bersama dengan Prof Dr Muladno mengunjungi salah satu SPR bimbingan Prof Dr Muladno di Bojonegoro.

20.3.5.2. Merajut Potensi Dan Konsistensi Kota Kediri
Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar mengundang untuk pertama kalinya dalam rangka mempererat tali silaturahmi sesama warga Indonesia khususnya warga asli Kota Kediri yang tergabung dalam ikatan Diaspora Indonesia. Acara yang bertajuk Bersama Diaspora Merajut Potensi Dan Konsistensi Kota Kediri ini dihadiri oleh anggota Diaspora yang sukses dan saat ini tinggal di luar negeri.
Bersama Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA Dirjen Peternakan Dan Kesehatan Hewan, acara digelar pada Rabu (20/09) bertempat di Ruang Joyoboyo Balai Kota Kediri didukung oleh Santi Paguyuban Kediri (Sanyuri) dan Kadin Kota Kediri.
“Diaspora ini adalah sarana untuk menyatukan seluruh komunitas – komunitas UMKM khususnya bidang perdagangan Kota Kediri, untuk mengembangkan inovasi bersama Diaspora dari negara asing agar bisa berkembang di kota ini,” terang Mas Abu, sebutan Wali Kota Kediri dalam sambutannya.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Djoko Raharjo mendukung kegiatan ini. “Keberadaan semua UMKM di Kota Kediri saat ini sudah mulai berkembang, namun kekurangannya adalah dalam pemasarannya walaupun kita sudah mencoba menjual melalui jasa online dan even-even tertentu, rasanya masih kurang dan masih bisa berkembang lagi dalam pemasarannya,” terang Djoko Raharto sangat peduli atas keberadaan UMKM di Kota Kediri.

Usai acara Gathering Diaspora Merajut Potensi Dan Konsistensi Kota Kediri, dilanjutkan penandatanganan MOU terkait pembelajaran IT kepada pelaku UMKM dan pemasaran produk dalam negeri bersama Sanyuri, Kadin Kota Kediri dan Pemerintah Kota Kediri.

21. Kampung IT
Sesuai dengan pengarahan Wali Kota Kediri, Bapak Abdullah Abu Bakar dan penandatanganan MOU terkait pembelajaran IT kepada pelaku UMKM dan pemasaran produk dalam negeri bersama Sanyuri, Kadin Kota Kediri dan Pemerintah Kota Kediri, pada tanggal 13 September 2017, pendidikan IT selama dua minggu mulai di exekusi.

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar meresmikan Kampung IT di kampus Politeknik Kediri, Jawa Timur, sebagai media pelatihan bagi para programmer agar mampu menghadapi persaingan global dan kecanggihan teknologi. Beliau mengemukakan program ini awalnya tercetus dari ide bersama dengan berbagai pihak. Pemkot menggandeng berbagai pihak, seperti dari Kampus Poltek Kediri serta Diaspora Network Australia untuk mendidik anak- anak menjadi tenaga yang lebih terampil terutama tentang teknologi informatika: “Kami bekerja sama mendidik anak-anak di daerah terutama Kediri, sehingga ke depan mereka bisa lebih berkembang. Ini nanti jadi semacam kampung, komunitas, yang bahkan bisa menerima pesanan program,” katanya.

Sementara itu, Direktur Kampus Politeknik Kediri Bambang Soekodiono mengatakan untuk Kampung IT Kediri ini memang dipusatkan di kampus untuk pendidikannya. Salah satunya, karena dari sisi sarana, prasarana, maupun tenaga mampu. Ia juga menambahkan, kampung IT nantinya sekaligus sebagai tempat pendidikan. Para programmer bisa masuk
dan mengikuti pelatihan yang telah disiapkan, sehingga bisa lebih memahami tentang IT. Lama pendidikan yang disiapkan sekitar dua pekan.

“Kami menyiapkan sarana, prasarana sesuai dengan yang direkomendasikan. Kampung IT Kediri ini membidik para programmer agar kompetensinya lebih meningkat sesuai dengan kebutuhan, terutama industri ataupun bisa mandiri,” kata Bambang. Lebih lanjut, ia mengatakan di kampus poltek ini ada 29 dosen tetap. Mereka nantinya akan diatur jadwalnya lagi untuk memberikan dampingan di program Kampung IT Kediri tersebut.
Peluncuran itu juga didukung sepenuhnya oleh CEO Wirasoft Consulting sekaligus Vice President Indonesia Diaspora Network Australia Rudolf Wirawan.

Peluncuran kegiatan tersebut selain dihadiri Wali Kota, juga dari Kadin Kediri, Sanyuri Kota Kediri, serta sejumlah tamu undangan lainnya. Selain peluncuran Kampung IT Kediri, juga terdapat Workhsop “Java Programming Batch I” yang diikuti para dosen dari berbagai kampus di Kediri.

Pada acara ini juga digelar penandatangan MoU antara Poltek Kediri dan Wirasoft. Sementara, dengan pelatihan ini maka materinya mengarah pada IT Enterprice.

Workshop IT ini diselenggarakan dalam dua tahap, di mana sesi pertama antara tanggal 13- 17 November 2017 di Poltek Kediri. Lalu, sesi kedua diadakan pada tanggal 20-25 November 2017 di Universitas Nasional PGRI (UNP) Kediri.

Acara ini juga dihadiri Ketua Kadin Kota Kediri, HM. Sholikin, perwakilan dari Bank Indonesia Perwakilan Kediri, Perwakilan Bank Jatim Cabang Kediri, dan Ketua Sanyuri Kota Kediri, Setyohadi. Ada pula perwakilan Diskominfo Kota Kediri, Haris Candra Purnama, Direktur Politeknik Kediri Bambang Soekodiono.

Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Kota Kediri bersama dengan Sanyuri, Poltek Kediri, Universitas Nusantara PGRI Kediri, serta Diaspora mendeklarasikan terbentuknya Kampung IT, Jumat (24/11). Acara deklarasi tersebut dilaksanakan setelah terlaksananya launching Kampung IT beberapa waktu lalau di Kampus Poltek Kediri. Acara deklarasi kali ini digelar di Kampus I Universitas Nusantara PGRI Kediri.

Muhammad Solikhin selaku Ketua Kadin Kota Kediri mengatakan bahwa Kampung IT merupakan konsep pertama yang belum ada duanya. “Kita harus bangga, ini merupakan aset yang menjadi daya tarik Kota Kediri” kata Solikhin.

Dalam acara tersebut Wali Kota Kediri diwakili oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan pembangunan Enny Endarjati berharap Kampung IT bisa dikembangkan dengan baik. “Kampung IT merupakan inovsi baru untuk Kediri. Untuk itu benar-benar harus dikembangkan untuk masyarakat Kediri,” ujar Enny.

Para pelaku IT yang sebelumnya mengikuti diklat, berkomitmen menjalankan Kampung IT dengan mengucapkan deklarasi. Para pelaku IT ini nantinya akan menularkan keahliannya dengan kaderisasi. Sehingga diharapkan pengembangan Kampung IT akan meluas dengan cepat.

Berbagai pihak yang terlibat menyatakan dukungan berjalannya Kampung IT. Salah satunya Universitas Nusantara PGRI Kediri, diwakili langsung oleh RektorSulistiono. Menurutnya, pihaknya sipa berkontribusi untuk Kampung IT. “Kami selalu mendukung segala jenis kegiatan positif dan Kampung IT ini merupakan solusi untuk pengembangan IT di Kota Kediri,” tandasnya

Pada saat ini dengan adanya Kampung IT, maka di Kampung IT Kediri perlahan-perlahan bermunculan layanan-layanan IT yang di dukung oleh Kadin dan Wali Kota Kediri.
Diharapkan kedepan, Kediri dapat menjadi pioneer dalam pengembangan IT di seluruh Nusantara.

Pelayanan yang diberikan di Kampung IT pada saat ini antara lain:
Pelatihan Pemograman Desktop, Web dan Android
Internet Marketing
Optimisasi SEO Website
Pembuatan Applikasi Perangkat Lunak
Konsultansi Bisnis IT

Alamat kantor Kampung IT Kota Kediri adalah sebagai berikut: Jl. Mayor Bismo 111 Kediri
64114 Jawa Timur Indonesia Phone/Fax: 0354693775
21.1. Kediri Dapat Penghargaan Kota Cerdas 2017 dari Wapres Jusuf Kalla

Amanat – Program dan gagasan di kota Kediri tampaknya banyak mendapat pengakuan nasional, dengan diterimanya berbagai penghargaan dari pemerintah pusat, diantaranya yang barusan diraih yaitu penghargaan utama Rating Kota Cerdas Indonesia (RKCI) 2017, ini merupakan prestasi yang berhasil ditorehkan Kota Kediri dalam kaitannya dengan peningkatan taraf hidup masyarakatnya, dibawah kepimpinan Walikota Abdullah Abu Bakar.

“Alhamdulillah kota Kediri meraih penghargaan Kota Cerdas 2017, karena kota Kediri dinilai mampu mengembangkan pendidikan berdasarkan potensi dan karakter lokal,” ujar Mas Abu panggilan sehari hari Walikota Kediri dalam twittanya setelah menerima penghargaan dari Jusuf Kalla Wakil Presiden RI di Istana Negara Jakarta (11/12).

Abu Bakar meminta pada masyarakat untuk terus bisa memanfaatkan, kemudahan yang ada di Kota Kediri, baik pelayanan melalui website ataupun komputer, sehingga tidak buang buang waktu dan uang transpor cukup melalui internet untuk bisa mengakses semua layanan.

Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari peran serta semua pihak yang mendukung program yang dicanangkan oleh pemerintah Kota Kediri. “Untuk itu kami tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pendidikan, para Guru, pelajar dan seluruh elemen masyarakat yang telah berhasil mengantarkan kota Kediri menjadi Kota Cerdas 2017,” kata Abu. “Penghargaan ini untuk kita semua, maju terus pendidikan di kota Kediri,” tambahnya.

21.2. Kampung IT Nusantara

Setelah Wali Kota Kediri, Bapak Abu Bakar, bersama Ketua KADIN Kota Kediri, Bapak HM. Sholikin didukung oleh Direktur Kampus Politeknik Kediri dan Rektor Universitas Nusantara PGRI Kediri berhasil mendirikan Kampung IT pertama di Indonesia, maka pada achir pendidikan IT direncanakan pada awal tahun 2018 akan diadakan Pendidikan IT Batch II yang melibatkan seluruh 34 provinsi dari Sabang sampai Merauke dengan mengundang 2- 10 pakar-pakar IT dari provinsi masing-masing untuk di didik di Kampung IT Kediri.

Kali ini pendidikan akan dilakukan oleh para peserta Batch I dan didukung oleh Diaspora Australia, Bapak Rudolf Wirawan.

Setelah pendidikan IT selesai diharapkan para utusan-utusan dari masing-masing provinsi dapat mengikuti jejak Kota Kediri dengan membangun Kampung IT di masing-masing provinsi.

21.3. Kampung IT Outsourcing Model

Seperti yang terlihat pada gambar diatas, Smartfarm adalah simpul (node) pengembang, dimana dalam node ini terdiri atas kumpulan dari satu atau lebih pakar IT yang memiliki IT sertifikasi atau pengalaman yang diakui. Tugas dari pakar-pakar IT atau juga disebut IT Mentor adalah menjebarkan pengetahuannya (Knowledge Distributor) kepada orang-orang disekelilingnya yang juga disebut IT Specialist, sehingga Smartfarm bisnis dapat berkembang dengan baik.

IT Specialist pada umumnya mulai dari individu-individu yang belum mempunyai pengalaman (beginner). Mereka dapat bergerak sebagai individu ataupun bersatu dalam Smartoffice. Mereka adalah individu-individu specialist pengembang perangkat lunak (software developer).

Smartoffice adalah tempat-tempat yang mendukung perekonomian lokal misalnya kedai kopi (cafe) yang bebas rokok (!) yang dilengkapi dengan WiFi dan listrik secara cuma-cuma dan juga usaha untuk memperkecil sampah yang tidak dapat didaur ulang dengan mengunakan plastik berbasis cassava. Smartoffice adalah simpul penjerap, dimana para IT Mentor dan Specialist IT bertemu untuk merealisasikan projek-projek baik dari lokal maupun manca negara.
Kumpulan beberapa simpul Smartfarm terintergrasi dalam Smartoffice membentuk satu kampung yang disebut Kampung IT. Seperti yang terlihat pada gambar diatas, Kampung IT mendapat project-project baik dari local maupun oversea market channel melalui Diaspora IT Global Database.

Untuk menjamin kualitas IT dan tanggung jawab terhadap project yang digarap, maka yang dapat mengakses Diaspora IT Global Database hanya oleh IT Mentor melalui userid dan password.

Semua project yang terdaftar dalam Diaspora IT Global Database bermula dari satu atau lebih Diaspora Consultant yang bergabung dalam satu kesatuan yang disebut Smartbusiness. Smartbusiness merupakan perusahaan resmi yang terdaftar secara legal entity dilokasi dimana Smartbusiness itu berdiri. Kelebihan yang didapat oleh Smart Consultant dari Smartbusiness adalah perbedaan ekonomi yang terjadi antara negara maju (Australia, Selandia Baru, Jerman, Amerika, Belanda, dsb) dengan negara berkembang ( Indonesia, Malaysia, Filiphina, India, Timor Leste, Afrika Selatan, dsb) seperti yang tertera pada gambar batas persebaran negara maju dan berkembang dibawah ini.

Daftar Nama Negara Maju dan Berkembang di Dunia
Smartclient adalah perusahaan di negara maju yang sadar akan manfaat yang dapat diraih dengan berkolaborasi bersama Smartbusiness secara wajar (Fair Trade).

Semua kontrak yang telah disetujui akan diimplementasikan sebagai Kontrak Pintar (Smart Contract), dimana Smart Contract di implementasikan di Kampung IT sebagai komputer program yang di masukan dalam KampungLedger, dimana KampungLedger adalah sejenis Buku Besar (ledger) yang tersebar secara aman (secure), transparent dan akan beroperasi secara otomatis tanpa ada interfensi manusia, ataupun badan
perantara (3rd party). KampungLedger akan diimplementasi berdasarkan Distributed Ledger dengan mengunakan Blockchain technology.

Dengan demikian semua kontrak yang diimplementasi dengan smart contrak akan selalu fair dan pasti teresekusi sesuai dengan perjanjian kontrak yang telah disetujui oleh kedua pihak.
21.4. Koperasi Model Kampung IT

1. Rapat Anggota
Anggota memiliki kekuasaan tertinggi dalam koperasi, yang tercermin dalam forum Rapat Anggota, sering kali secara teknis disebut RAT (Rapat Anggota Tahunan).
Fungsi Rapat Anggota adalah :
1). Menetapkan Anggaran Dasar/ART.
2). Menetapkan Kebijaksanaan Umum di bidang organisasi, manajemen dan usaha koperasi. 3). Menyelenggarakan pemilihan, pengangkatan, pemberhentian, pengurus dan atau pengawas.
4). Menetapkan Rencana Kerja, Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Koperasi serta pengesahan Laporan Keuangan. 5). Mengesahkan Laporan Pertanggung-jawaban Pengurus dan Pengawas dalam melaksanakan tugasnya.
6). Menentukan pembagian Sisa Hasil Usaha.
7). Menetapkan keputusan penggabungan, peleburan, dana pembubaran Koperasi.

2. Pengurus
Pengurus dipilih dari dan oleh Anggota Koperasi, dan berperan mewakili anggota dalam menjalankan kegiatan organisasi maupun usaha koperasi. Pengurus dapat menunjuk manajaer dan karyawan sebagai pengelola untuk menjalankan fungsi usaha sesuai dengan ketentuan – ketentuan yang ada, sebagaimana jelas tercantum dalam pasal 32 UU Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian.
Pengurus memperoleh wewenang dan kekuasaan dari hasil keputusan RAT. Pengurus berkewajiban melaksanakan seluruh keputusan RAT guna memberikan manfaat kepada anggota koperasi.

Pengurus merumuskan berbagai kebijaksanaan yang harus dilakukan pengelola (Tim Manajemen) dan menjalankan tugas-tugasnya
sebagai berikut :
1). Mengelola organisasi koperasi dan usahanya
2). Membuat dan mengajukan Rancangan Program Kerja Serta Rancangan RAPBK (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Koperasi).
3). Menyelenggarakan Rapat Anggota
4). Mengajukan Laporan Keuangan dan Pertanggung jawaban Pelaksanaan Tugas. 5). Menyelenggarakan pembukaan keuangan dan invetaris secara tertib.
6). Memelihara daftar buku Anggota, buku Pengurus dan Pengawas. 7). Memberikan Pelayanan kepada Anggota Koperasi dan Masyarakat. 8). Mendelegasikan tugas kepada manajer
9). Meningkatkan pengetahuan perangkat pelaksanaan dan anggota. 10). Meningkatkan penyuluhan dan pendidikan kepada anggota
11). Mencatat mulai sampai dengan berakhirnya masa kepengurusan pengawas dan pengurus. 12). Mencatat masuk dan keluarnya anggota.

Fungsi dan Peran Pengurus:
1). Pengurus sebagai pusat pengambilan keputusan yang tertinggi 2). Fungsi sebagai penasihat
3). Pengurus sebagai pengawas
4). Pengurus sebagai penjaga kelangsungan hidup organisasi

3. Pengawas
Pengawas sebagai salah satu perangkat organisasi koperasi diangkat dari dan oleh Anggota dalam Rapat Anggota Tahunan, sesuai pasal 38 UU No. 25 Tahun 1992.
Berdasarkan ketentuan Pasal 39 UU No.25 Tahun 1992, fungsi tugas dan wewenng pengawas antara lain : 1). Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijaksanaan Pengurus dan Pengelola Koperasi. 2). Membuat laporan tertulis tentang hasil pengawasannya.
3). Meneliti catatan yang ada pada koperasi.
4). Mendapatkan segala keterangan yang diperlukan.
5). Merahasiakan hasil pengawasannya terhadap pihak ketiga.
6). Memeriksa sewaktu-waktu tentang keuangan dengan membuat berita acara pemeriksaannya.
7). Memberikan saran dan pendapat serta usul kepada pengurus atau Rapat Anggota mengenai hal yang menyangkut kehidupan koperasi.
8). Memperolah biaya-biaya dalam rangka menjalankan tugas sesuai dengan keputusan Rapat Anggota. 9). Mempertanggungjawabkan hasil pemeriksaannya pada RAT.

Keterkaitan antara peran pengawas dan pengurus adalah dalam hal pelaporan adalah dalam hal pelaporan hasil audit. Pengawas melaporkan hasil audit dan rekomendasi pelaksanaan kebijakan dan Keputusan Rapat Anggota yang telah di laksanakan oleh pengurus koperasi baik audit berkala maupun audit akhir tahun buku. Hasil audit yang dilaporkan dari pengawas adalah mengenai kesesuaian dan kebenaran data dan informasi yang dilaporkan dari pengawas adalah mengenai kesesuaian dan kebenaran data dan informasi yang dilaporkan Pengurus koperasi dengan bukti – bukti pendukungnya.
Adapun beberapa hasil audit yang dilaporkan pengawas adalah : a). Pelaksanaan Anggaran Dasar di Koperasi;
b). Pelaksanaan Kepeutusan RAT;
c). Audit manajemen (pelaksanaan Standar Operasional Produser, deskripsi jabatan, dan disiplin kerja); d). Audit keuangan (ada tidaknya penyimpangan keuangan oleh Pengurus);
e). Audit fisik (inventaris, dan kas).

4. Pengelola (Manager)
Manager dipilih dan diangkat oleh pengurus untuk melakukan fungsi pengelolaan operasional usah koperasi. Kewajiban manager antara lain :
1). Melaksanakan kebijakan operasional yang telah ditetapkan Pengurus.
2). Memimpin dan mengkoordinir pelaksanaan kegiatan – kegiatan di unit – unit usaha.
3). Membimbing dan mengarahkan tugas – tugas karyawan yang dibawahnya seefisien mungkin menuju karyawan yang berkualitas. 4). Mengusulkan kepada pengurus tentang pengangkatan dan atau pemberhentian karyawan dalam lingkungan tugasnya.
5). Menyusun Program Kerja dan RAPBK tahunan untuk disampaikan kepada pengurus sebelum dimulainya rencana dan anggaran yang baru, dan selanjutnya evaluasi sekaligus perencanaan bagi pengurus untuk disampaikan dalam Rapat Anggota.
6). Membuat laporan pertanggungjawaban kerja secara tertulis setiap akhir bulan and tahun. 7). Melaksanakan dokumen-dokumen usaha atau organisasi koperasi.

Fungsi utama Manager :
1). Melaksanakan tugas segari – hari di bidang usaha.
2). Bertanggungjawab atas administrasi kegiatan usaha dan organisasi koperasi.
3). Mengembangkan dan mengelola usaha untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Keberadaan manajer dalam koperasi diharapkan usaha koperasi akan dapat berkembang lebih maju. Manajer diperlukan bagi koperasi :
1). Untuk mengelola usaha koperasi memerlukan keahlian sesuai dengan bidang usaha koperasi, selain untuk menunjang fungsi pengurus yang umumnya dipilih oleh anggota berdasarkan atas kepercayaan.
2). Pengelolaan usaha koperasi memerlukan tindakan yang berkeseimbangan sepanjang tindakan yangberkesinambungan sepanjang
waktun sejalan dengan keberadaan koperasi itu, sementara pengurus di[ilih untuk jangka waktu tertentu (ada batasan waktu kepengurusan).
3). Pengurus umumnya tidak dapat mencurahkan tenaga atau pikirannya secara penuh dalam koperasi, karena biasanya pengurus memiliki tugas pokoknya, sehingga manajer diperlukan untuk mengoperasionalisasikan usaha koperasi lebih efektif dan mencapai tujuannya.

Landasan pembuatan struktur organisasi adalah :
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian.
2. Anggaran Dana dan Anggaran Rumah Tangga Koperasi.
3. Keputusan Rapat Anggota

Dikutip dari: Pengertian, Strukture dan Ciri-Ciri Organisasi Koperasi

Seperti halnya dengan KampungLedger yang digunakan untuk mengatur kontrak pintar (Smart Contract) antara dua partai atau lebih, KampungLedger juga dapat digunakan untuk mengatur pembagian saham secara aman, transparent dan dapat di lacak setiap saat.

Tujuan KampungLedger adalah untuk memberi kesempatan bagi Diaspora diluar negeri untuk dapat ikut berinvestasi di Kampung IT secara aman, transparent dan mudah di lacak. Dengan demikian Diaspora Australia membuka peluang bagi Diaspora di Manca Negara dan di Tanah Air untuk ikut berinvestasi, sejalan dengan visi Diaspora:

To expand connection, To multiply opportunities. To promote shared prosperity for Indonesia and its Diaspora.
22. Joint Research
The principal research objectives are to explore culturally diverse ways of caring and stewardship to provide practical lessons on re-generation and co-generation and to address ways to move from a product based economy to a systems based cascade economy that eliminates the waste of people and resources. The research is based on the following book “Balancing Individualism and Collectivism”, authored by Norma Romm, Janet McIntyre-Mills, Yvonne Corcoran Nates and published by Springer.
Two publications will be drawn from the symposium held across two sites in Adelaide, South Australia and Bandung, West Java, namely a more theoretical first volume and a more practical, applied second volume:
“We are the land and the land is us: Multiple methods for crossing boundaries”
Transformative approaches refer to assumptions about power and the relationships across conceptual and spatial boundaries – including species boundaries. We draw on Indigenous knowledge to make life chances and the lack of life chances visible and the need to develop trusting relationships that are responsive to living systems and complex needs. Water flow is a metaphor and a synecdoche for social and environmental justice. It explores the implications of urbanisation, loss of territory, loss of species and the implications for living systems of which we are a strand.
“Getting lost in the city : implications for social and environmental security: towards non-Anthropocentric Rural-urban governance”
The focus is on transformative research on blue economy employment opportunities for women and young people and mixed methods approaches to resilience and re- generation based on intra, inter and cross disciplinary approaches.
22.1. UNPAD International Symposium
The primary goal of the workshop in Adelaide and the symposium in Bandung is to address the ARC (Australian Research Council) research priority ‘resilient urban, rural and regional infrastructure’ and ‘develop options for responding and adapting to the impacts of environmental change’ and to contribute to expanding knowledge through studies of human society by exploring culturally diverse ways of caring and stewardship.
We were invited by Flinders to explore mixed methods research approaches to address
contemporary areas of concern and by the Rector of UNPAD to help foster movement towards achieving the UN Sustainable Development goals.
The common theme across the two sites is the need to protect the land and to prevent exploitation of people and the environment and to find ways to reduce the size of our carbon footprint. ‘Caring for country’ is central to the Indigenous perspective.
More specifically the threefold aim is to gain a better understanding of the social and cultural geography and to explore culturally diverse ways of caring and stewardship to provide practical lessons on re-generation . In line with the Paris Declaration (1997) public administration needs to be framed together with co-researchers with local lived experience. The workshop at Flinders University and the Symposium at UNPAD in West Java explored the challenge of increased urbanization and movement towards cities and the implications it has for the life chances of unemployed women who become increasingly vulnerable to trafficking.

The research conducted in West Java as part of transformative research led by the following: Center for Decentralization and Participatory Development Research, Universitas Padjadjaran (UNPAD) led by Widianingsih located in Bandung, West Java in collaboration with Flinders University (Resilience Institute, Humanities and Social Sciences, Business Government andLaw) located in South Australia. The universities in turn collaborate with the Indonesian Diaspora.

The Diaspora network is closely supported by Rudolf Wirawan of Wirasoft. We use transformative mixed methods praxis to address the wicked problem of land loss, urbanization and vulnerability. The focus on wicked problems addresses themes raised by the Mixed Methods International Research Association task force report as reported by Mertens et al (2016).

The joint paper explores examples of how research can support communities to address the risks associated with human trafficking in an ecologically rich region. Social,
economic and environmental resilience strategies around commercial plantations, communal and household gardens are explored in Cibodas, Cianjur and Alam Endah.

These pictures depicted the meeting discusion session with the people from Alamendah. Examples of productive and reproductive labor, double and triple work load, decision

making, value chain challenges and responses through gender mainstreaming and community empowerment are discussed.

During the gathering session with the village people and elders from Alamendah, we have discussed the possibility of IT growing coffee and bamboos especially in the area prone to landslide.

The results of the discussion and the collected research data from Alam Endah village were discussed in the next day.

We use qualitative focus groups with key stakeholders, in depth interviews, ethnographic insights of the leader of Indonesian Women’s Empowerment (PKK) and the analysis of publically available statistical data. This helps to improve policy development as well as making suggestions as to how to enhance the governance opportunities for women for greater social inclusion in key decision-making roles.

The research, entitled ‘Living Virtuously and Well’ has ethics approval from the Human Ethics Committee at Flinders University.

At the final day of the Symposium, we were invited for dinner by the West Java Governor, Bapak Ahmad Heryawan and his wife Ibu Netty Prasetiyani at their residential office at Gedung Pakuan, Bandung West Java.
After dinner, there were interactive angklung performances by Saung Agklung Udjo. Following the performance, the audience had an interactive experience playing the angklung themselves.
After dinner, we were not only served delicious desserts, but also served award-winning Preanger Coffee, which Diaspora Australia was involved with at the Melbourne International Coffee Expo (MICE).
23. Deklarsi Diaspora Indonesia

24. AGM 2013
24.1. Meeting Agenda
Before starting the meeting, FS offered the attendees to vote from 2 agendas:
1. To start the meeting with: Discussion and Evaluation of IDN-NSW Programs – Info from Diaspora Australia Forum July 2013 & CID2 and the implication to IDN-NSW – Committee Election, proposed by FS
2. To start the meeting with: Committee Election – Discussion and Evaluation of IDN- NSW Programs – Info from Diaspora Australia Forum July 2013 & CID2 and the implication to IDN-NSW, proposed byRW.
Result of the votes:
4 votes Agenda 1
8 votes Agenda 2

24.2. Committee Election
1. Rationale and purpose of the SGM by FS
FS stated that based on previous meeting agreement it was necessary to convene a special meeting to re-elect new committee of IDN-NSW so that programs that have been planned could be executed.
2. FS read out the procedure of the election
FS mentioned that we followed the constitution which was taken from the NSW Fair Trading.
3. Composition of Committee February – November2013
FS read out the current committee members (Feb – Nov 2013) prior to the new election and offered them if they would stay in their positions in the new committee. AB responded that she would stay as the Treasurer.
4. EH led the election
EH indicated that according to the constitution a quorum would be reached if at least 5 members were present at the
meeting and a committee should consist of at least 7 members. There were 12 members were present, therefore the
election was carried out.

24.3. New Committee of IDN-NSW
1. President: Rudolf Wirawan (seconded by: SM & FS)
2. Vice President: Olfriady “Osco” Letunggamu(seconded by: RW & AB)
3. Secretary 1: Nini Nurbahraini (seconded by: AB & RW)
4. Secretary 2: Maggie Mantiri (seconded by RW & AB)
5. Treasurer 1: Siti Asima Rohani (Ani)Blenkinsopp
6. Treasurer 2: Neny Siregar (seconded by AB & RW)
7. Advisory Board: Jon Soemarjono, Eric de Haas, Jamie Vueti, Amin Hady, Lydia Santoso
8. Executive Members: Ike de Haas, Farida Bolano
9. PIC for IDBC: Suliyanti Sunaryo
10. Public Relations: Dina Sari
11. New members: Rep from PPIA
25. AGM 2015
25.1. Meeting Agenda
Date:
18 December 2015 Location:
KJRI Sydney
236-238 Maroubra Rd, Maroubra NSW 2035
Time:
18:30 – 19:30
Meeting Agenda:
Welcome and apologies.
Minutes of previous AGM.
President’s Report
Treasurer’s Report
Secretary’s Report
Election of Office Bearers President
Vice President Secretary
Treasurer Committee Members (3)

Other Business
2015 Harmony Walk Certificate of Appreciation
2015 Harmony Walk Financial settlement
$500 for 10 Gamelan and Angklung participants
$300 for 3 dancers from Studio Nusantara

25.2. President Report
History of IDN-NSW
Indonesian Diaspora Network Australia (IDN-AU)
Incorporated as IDN-AU: 15 May 2013
SGM start six month latter : 15 Nov 2013
IDN-AU Portal (http://www.indonesiandiaspora.com.au/en_GB/)
IDN-NSW Activities (15 Nov 2013 – 18 Dec 2015): 2 Years and 1 Month
AGM AU at Macquarie University (24 Jan 2015)
Marathon BBQ (Campsie, Campbelltown, Wollongong, Newcastle)
CID-3 in Jakarta (Garuda Package: Return Airfare including Bidakara Accomodation)
Program in supporting Sekolah Anak Jalanan (SAJA) , Anak Desa KAIT Plus, Mading, Desa Cipendawa
Indonesia Pintar eLibrary
Distance Learning
Web Conferencing
Poros Maritim Dunia
Colaboration with Martono Yuwono, Ketua Umum Yayasan Pusaka Nusantara Raya
Great Indonesia Maritime Portal
IDN-AU present at the World Ocean Day (8 June 2015)
Indonesian Language & Culture
Collaborate with IbuNovi Djenar, Ibu Yacinta Kurnia, Bpk Jon Soemarjono, Bpk Frans Simarmata, Bpk Rudolf Wirawan
Create Indonesian Language & Culture Survey
Indomedia Articles
Joint Research between Australian and Indonesian universities
World Interactive Angklung
Surat bersama antara IDN-AU dan KJRI-Sydney
Several meeting with Sam Udjo
Meeting with Wagub
IDN-NSW visit IndoFest Visit (Oct, 4th – 5th 2015) at Adelaide
Harmony Walk (8 Nov 2015)
Business
TradeXpo-30 (October, 21st – 25th 2015): IDN-AU
Collaboration with ITPC, IIPC, KJRI and KBRI

Indonesia UKM (23rd Oct – 20th Nov 2015)
Indonesian Shoe Business ( Ibu Rini, Bandung with Ms. Idamarie at Perth)
Indonesian Fashion Business (Ibu Rini, Bandung with TBA)
Indonesian Tourism Business (Ibu Rini, Sumedang, Ibu Ida, Ciwidey)
Export Indonesian’s coffee
Promoting IDN-AU at RRI
Export Indonesian’s Ocean Health Product
Export pure Indonesian’s Coconut Sugar
Hackathon-30: Ati-Corruption (5-6 December 2015)
Supporting 2015 International Conference of Public Administration (11th ICPA)
Build ICPA Portal
Build ICPA Eco Tourism Portal

25.3. IDN-NSW Elected Committee Member

Sebagai hasil dari AGM IDN-NSW yang bertempat di KJRI Sydney, pada tanggal 18 December 2015, terpilih Komite IDN-NSW sebagai berikut:

New Committee of AGM & Election 2015
18 December 2015

1. President: Rudolf Wirawan
2. Vice President: Hendra Wijaya
3. Secretary 1: Salut Muhidin
4. Secretary 2: Annie Hermes
5. Treasurer 1: Harry Tan
6. Advisory Board: Jon Soemarjono, Eric de Haas
7. Executive Members: A Rasyid Noer, Novia Dewi, Osco Olfriady, Ria Siagian, Suliyanti Sunaryo, Churlya Wurfel
26. Laporan Keuangan
Dibawah ini adalah laporan pertanggung jawaban keuangan IDN-NSW periode 2015-2017. Disusun oleh IDN-NSW Treasurer, Bapak Harry, CTA, FIPA, FFA-Partner, THM Accounting, Public Accountant – Registered Tax Agent – SMSF Specialist Adviser (THM Group).
27. Portal IDN-NSW
28. IDN-NSW Flyer
28.1. IDN-NSW Flyer Front Page

28.2. IDN-NSW Flyer Back Page

Seperti yang tertera di flyer diatas, kami di IDN Australia memiliki lima (5) misi sbb:

1. Knowledge (Tanpa Knowledge Indonesia tidak akan berkembang)
2. Health (Orang pintar yang sakitan, tidak dapat menyumbangkan pengetahuannya dengan baik)
3. Confidence (Bila tidak percaya diri (PD), orang pintar yang sehatpun tidak berguna )
4. Unity (Bila sudah pintar, sehat dan PD, tetapi tidak bersatu, maka dengan apa yang telah dicapai akan menjadi sia-sia belaka)
5. Global (Bila sudah keempat butir diatas dipenuhi dengan baik, barulah kita dapat mengglobal)
Indonesia hanya akan dapat maju dan dapat bersaing di global, bila sebagian besar dari rakyat Indonesia mempunyai keahlian dan pengetahuan yang tinggi (Knowledge). Bila keahlian dan pengetahuan yang tinggi sudah berhasil dicapai, tetapi keberhasilan tersebut tidak diiringi dengan kesehatan (Health), maka apa yang telah dicapai tidak akan banyak gunanya. Jadi selain pengetahuan, bangsa kita juga harus sehat.
Kedua kriteria diataspun masih belum lengkap. sebab tanpa adanya kepercayaan diri (Confidence), sekali lagi apa yang telah di capai oleh bangsa ini tetap tidak akan banyak gunanya.

Bila bangsa kita sudah pandai, sehat dan percaya dirinya kuat, seperti yang sering terjadi, karena gangguan dari luar, mereka akan saling bertarung dengan seribu satu alasan (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan). Untuk itu diperlukan suatu kesadaran tinggi agar bangsa kita ini dapat bersatu (Unity).

Bila ke-empat kriteria diatas tercapai dengan seksama, maka barulah bangsa Indonesia siap untuk mendunia (Global) .

Sesuai dengan Visi yang telah dicetuskan oleh Indonesian Diaspora Network (IDN), maka sejak 2013, Indonesia Diaspora Network di NSW (IDN-NSW) telah menjalankan misi nyata sebagai berikut:

1. Knowledge (Distance Learning, Knowledge Management, eLibrary, Joint Research)
2. Health (Preventive medicine, taiji, Qigong, Meditasi)
3. Confidence (Great Indonesian Maritime: Global Maritime Axis, Mental Revolution)
4. Unity (Archipelago, The Ring of Fire, Diaspora, Bhineka Tunggal Ika)
5. Global (Indonesian Diaspora Network, Smartvillage, Joint Research, Interactive Angklung)

Untuk meningkatkan pengetahuan (KNOWLEDGE) secara efisien dan efektif di Nusantara, IDN-NSW telah menyiapkan Nusantara Distance Learning server sejak awal 2014. Untuk pendidikan Distance Learning, kami menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia yang peduli dengan tanah air untuk ikut berpartisipasi membagi ilmu dan pengetahuannya kepada saudara-saudara kita di seluruh Nusantara. Alat yang diperlukan hanya computer (PC atau Laptop) yang terhubung dengan webcam dan Internet. Informasi lanjut dapat dilihat pada situs Indonesia Pintar eLibrary.

Dalam meningkatkan kesehatan (HEALTH) bangsa Indonesia secara efisien, efektif dan optimal, kami berpendapat bahwa kesehatan harus dijaga sebelum sakit. Untuk itu kami menggunakan istilah Diaspora, yaitu ATM (Ambil, Tiru dan Modify). Untuk itu kami ATM cara yang telah dilakukan oleh negara China untuk menjaga kesehatan rakyatnya yang telah di capai sejak berabad-abad yang silam dengan menggunakan TaiJi, Qigong dan Meditasi.
Informasi lanjut dapat dilihat pada situs IDN-AU.

Demikian pula untuk meningkatkan kepercayaan diri (CONVIDENCE) bangsa Indonesia, IDN-NSW bekerja sama dengan Bapak Martono Yuwono, Ketua Umum Yayasan Pusaka Nusantara Raya (YPNR) untuk menggali kembali sejarah kejayaan Nusantara di masa silam. Informasi lanjut dapat dilihat pada situs Great Indonesia Maritime.
Sejarah adalah guru kehidupan dan pesan dari masa silam. Sejarah sangat penting dalam membangun kesatuan (UNITY) bangsa Indonesia. Karena sejarah bangsa Indonesia selalu ditutup-tutupi oleh kekuatan asing sejak penjajahan Belanda tiga setengah abad yang lalu, maka dengan mudahnya kekuatan asing mengulang kembali politik devide et impera melalui aset bangsa (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan). Beberapa aktifitas telah dilakukan oleh IDN-NSW bersama masyarakat komunitas Indonesia di NSW. Antara lain dengan mengadakan Marathon BBQ yang dimulai di Sydney, Campbelltown, Wollongong, Newcastle dan berachir di Jakarta pada CID-3, agar dapat saling bertukar pikiran dan memperkuat persatuan bangsa.

Sekali lagi, pada umumnya, setelah kita pintar, sehat dan percaya diri, kita kadang-kadang menjadi sombong dan berpikir bahwa cara kitalah yang terbaik, sehingga sangat mudah terjadi perselisihan dan perpecahan diantara kita yang biasanya sangat mudah dipicu oleh kekuatan asing yang ingin menguasai bangsa kita dengan cara memecah-belah Indonesia. Pemecah-belah yang sering dipicu oleh kekuatan asing antara lain adalah perbedaan suku (Diversity). Walaupun filsafat Bhinneka Tunggal Ika (Unity in Diversity), sudah dikenal berabad-abad di Indonesia, ternyata yang berhasil memadukan konsep ini adalah Australia dengan moto: ” We are one but we are many” dan yang paling berhasil sejauh ini adalah negara Singapore.

Bangsa yang hanya terdiri dari satu suku, tidak akan menyadari kekayaan yang dimiliki oleh bangsa yang memiliki beratus-ratus suku dalam suatu kesatuan seperti di Indonesia. Ini adalah aset bangsa yang harus kita pelihara dan jaga bersama. Sebagai contoh Australia dengan White Policy dimana hanya orang-orang dari negara-negara kulit putih yang dapat masuk ke Australia. Karena terlalu bergantungan kepada ekonomi, orang kulit putih pada umumnya tidak mudah untuk mendapatkan turunan, sehingga bangsa putih di Australia dengan berjalannya waktu mengarah kemusnahan. Menyadari hal itu, akhirnya Australia merubah white policy menjadi: ” We are one but we are many”. Itulah yang membuat Australia kembali berkembang dan menjadi jaya sampai hari ini.

Cara memecah belah lain yang juga sering dipicu oleh kekuatan asing adalah perbedaan agama. Padahal agama adalah cara manusia untuk mengenal YME. Semakin banyak kita mengetahui cara untuk mengenal YME, semakin dekat kita dengan YME. Sekali lagi, perbedaan agama dalam suatu negara adalah aset bangsa yang harus kita pupuk dan jaga bersama.
Setelah bangsa Indonesia dapat menyadari betapa pentingnya rasa kesatuan bangsa ini dan tidak mudah lagi di adu domba oleh siapapun dan dengan dalih apapun, terutama oleh bangsa kita sendiri, maka dengan menyadari bahwa Diaspora sebagai aset bangsa yang mendunia, seperti negara China, India, Filipina, dll, maka perkembangan Indonesia didunia bersama Diaspora nya akan jauh lebih cepat dan efektif (GLOBAL), sehingga Indonesia dapat kembali lagi membanggakan keemasannya seperti yang telah terbukti pada jaman Kerajaan Pajajaran, Sriwijaya, Majapahit, Samudra Pasai, Gowa Talau, Ternate dan lain- lain.

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

~Soekarno~

HIDUP DIASPORA INDONESIA!
29. Referensi:
1. BI: REMITANSI TENAGA KERJA INDONESIA (TKI) (http://www.bnp2tki.go.id/read/6415/Sampai-Mei-2012-TKI-Sumbang-Devisa-Rp- 40-Triliun)
2. TNI: Anggaran (https://id.wikipedia.org/wiki/Tentara_Nasional_Indonesia)
3. Wikipedia: Remittance (https://en.wikipedia.org/wiki/Remittance)
4. Indonesian Diaspora Australia brochure (http://www.indonesiandiaspora.com.au/documents/44299/437910/brosur+a4+bb.pdf/ 010cfa47-58c6-4b51-9a23-7f3d03ad3c52)
5. Daftar pulau di Indonesia (https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_pulau_di_Indonesia)
6. Suku bangsa di Indonesia (https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_bangsa_di_Indonesia)
7. Video Profil Universitas Nasional (https://www.youtube.com/watch?v=G1gklEFNwbE)
8. Indonesian Diaspora Network Australia Membantu Keluarga Akrab Imam Taqwa Plus (KAIT Plus) (http://www.indonesiandiaspora.com.au/documents/44299/56030/Laporan+Kunjunga n+KAIT+Plus+27.02.2015/dabfcc52-0547-493a-a076-c4a29c5c76b7)
9. Wikipedia: Pinisi (https://id.wikipedia.org/wiki/Pinisi)
10. SEMESCO INDONESIA (http://mh.mentormicrobank.org/smesco/)
11. Coffee Guide – Quintino’s Coffee (https://www.quintinos-coffee.com/coffee-guide/)
12. CID4-DPD – Highlight (https://www.youtube.com/watch?v=3y8eGwfSLM4)
13. Wapres Buka Pertemuan Global Diaspora Indonesia (https://www.youtube.com/watch?v=XQ8oB8WNxrc)
14. CID4-EW – Research Innovations CID Global Summit Health IDN UK (https://www.youtube.com/watch?v=jUwcVlGNHeE)
15. Situs Resmi Wakil President Republik Indonesia (http://www.wapresri.go.id/indonesia-diaspora-global-summit/)
16. Djiaw Kie Siong (https://id.wikipedia.org/wiki/Djiaw_Kie_Siong)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here