Daftar 500 Peneliti Terbaik di Indonesia Versi SINTA

Kementrian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) baru saja mengumumkan daftar 500 peneliti terbaik Indonesia berdasarkan Science and Technology Index (SINTA) 2020.

SINTA merupakan satu inovasi sistem informasi ilmu dan teknologi yang dikembangkan untuk mengukur kinerja individu, institusi, dan networking dari peneliti atau dosen yang melakukan studi.

Menristek Bambang Brodjonegoro melanjutkan, bahwa sebelumnya sistem ranking atau urutan peneliti atau dosen di Indonesia dilihat dari capaian menurut Google Scholar. SINTA, Menristek menegaskan, hal ini turut menjadikan update ranking peneliti dengan metode yang lebih luas.

Dalam kesempatan yang sama, Plt. Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan, Muhammad Dimyati menjelaskan dalam kurun satu tahun SINTA telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.

“Sampai 26 Mei 2020 telah terdaftar lebih dari 194.000 dosen dan peneliti, 4.983 lembaga, 2.720 jurnal, 94.348 buku dan 26.466 kekayaan intelektual yang sudah terindeks di SINTA berdasarkan hasil verifikasi, akreditasi dan evaluasi,” papar Dimyati dikutip dari lansiran resmi Kemenristek/BRIN.

Untuk peringkat pertama peneliti terbaik versi SINTA diraih oleh Suharyo Sumiwidagdo dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Peringkat kedua diraih oleh Agus Sudaryanto dari Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sedangkan posisi ketiga dan keempat diraih oleh Indah Suci Widyahening dari Universitas Indonesia (UI) dan Riyanarto Sarno dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Untuk melihat 500 peneliti terbaik versi SINTA bisa dilihat di laman sinta.ristekbrin.go.id/authors.

Dengan adanya pemeringkatan ini, Menristek berharap, bisa memberikan para peneliti dan dosen motivasi berprestasi dan berkarya lebih baik lagi secara internasional. Sementara untuk institusinya, diharapkan bisa memperbanyak tenaga kependidikan ataupun staf peneliti untuk menghiasi ranking tertinggi.

“Bagi yang namanya atau institusinya belum masuk saya harapkan ini akan menjadi motivasi untuk kita semakin menguatkan fondasi dari universitas riset yang dikembangkan di masing-masing perguruan tinggi dan yang lebih penting juga untuk memperbanyak jumlah peneliti dan inovator yang berkualitas,” pungkas Menteri Bambang dikutip dari laman resmi Kemenristek/BRIN.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here