Ciptakan Rem Ramah Lingkungan, Mahasiswa USU Raih Medali dan Piala di Rusia

Bantalan rem inovatif yang dibuat oleh dua mahasiswa Indonesia memenangkan tiga medali emas di Moscow International Salon of Inventions and Innovative Technologies (the Salon Archimedes) ke-22 di Rusia pada akhir Maret kemarin.Menggunakan cangkang kemiri sebagai bahan utama, karya Winelda Mahfud Zaidan Haris dan Wahid Nurhayat dua mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) memenangkan tiga medali emas dan sebuah piala dalam kompetisi yang melibatkan peserta dari 38 negara.

Winelda mengatakan dia senang bahwa produk inovatif mereka, yang dinamai “rem biodisc”, telah menarik perhatian investor asing.

“Beberapa negara, termasuk Arab Saudi dan Thailand, telah menawarkan untuk membeli lisensi dan hak paten rem biodisc, tetapi kami harus menolak tawaran itu karena kami yakin produk tersebut dapat diproduksi di Indonesia,” kata Winelda seperti dikutip oleh The Jakarta Post setelah konferensi pers di kantor rektorat USU pada hari Jumat.

Dia mengatakan penemuan biodisc milik mereka adalah bantalan rem untuk kendaraan roda dua dan bahwa mereka terbuat dari cangkang kemiri yang tidak memiliki dampak negatif pada pengguna dan lingkungannya. Dia menjelaskan bahwa beberapa bantalan rem mengandung asbes, yang diketahui menyebabkan kanker paru-paru.

“Itulah sebabnya kami memilih cangkang kemiri sebagai bahan utama rem biodisc, karena ramah lingkungan,” kata Winelda, yang mendaftar di sekolah kedokteran gigi USU pada 2015. Penggunaan kemiri dalam produk ini juga membuatnya bertahan lebih lama.

Teman sekelompok Winelda, Wahid Nurhayat, mengatakan bahwa rem biodisc telah mengalami proses seleksi di lima negara, hingga akhirnya mencapai tahap kompetisi di Rusia pada akhir Maret.

Wahid mengatakan bahwa sejumlah bantalan rem akan diproduksi dengan dukungan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi melalui program Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi. Dia mengatakan 2.000 buah rem biodisc akan diproduksi pada fase pertama.

“Kami akan menjualnya masing-masing seharga Rp 35.000. [Itu] lebih murah Rp 10.000 daripada bantalan rem konvensional,” kata Wahid, seorang siswa Fakultas Matematika dan Sains USU. Dia mengatakan bahwa di masa depan dia akan mencari perusahaan Indonesia yang bersedia memproduksi rem biodisc secara massal untuk pasar lokal dan internasional.

“USU tertarik untuk membantu,” katanya dikutip oleh Jakarta Post. Dia mengatakan itu adalah pencapaian tertinggi yang pernah dilakukan oleh siswa USU dalam kompetisi internasional. “Ini membuat USU bangga,” katanya, mengungkapkan harapan bahwa siswa lain akan mengikuti jejak Winelda dan Wahid.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here