Ciptakan Lengan Robot, Siswa SMKN 2 Tasik Toreh Prestasi Internasional

Alwan Hanif Ramadhan (16 tahun) telah berhasil membawa harum nama Indonesia di usianya yang masih muda. Karyanya yang diberi nama Affordable Smart Prosthetic Arm, diapresiasi secara nasional dan internasional melalui berbagai kejuaran yang diikutinya.

Perjalanan remaja yang kini duduk di kelas X jurusan Mekatronika SMKN 2 Tasikmalaya itu bermula sejak dua tahun sebelumnya. Kecintaannya pada film aksi fantasi dan gim membuatnya tertarik untuk belajar cara membuat robot.

Ia pun mulai membuka jendela dunia dengan internet. Melalui tayangan YouTube dan informasi di Google, Alwan mulai mencoba memahami cara membuat robot.

Ketika masih duduk di kelas VIII SMP, ia mulai memiliki ide untuk membuat lengan robot. Ide itu didasari kondisi temannya yang disabilitas, memiliki telapak tangan tetapi tak punya jari-jari.

“Awalnya itu saya punya teman yang memiliki kekurangan fisik. Ia memiliki telapak tangan tapi tidak memiliki jari-jari. Saya ingin bantu,” kata dia kepada ayotasik.com.

Untuk mewujudkan idenya itu, ia pun mulai berselancar kembali di dunia maya mencari-cari tangan robot. Dengan mudah benda itu ditemukannya. Namun, harganya sangat mahal. Mencapai puluhan ribu dolar AS. Padahal, ia berpikiran, rata-rata difabel di Indonesia berasal dari keluarga prasejahtera.

Alwan pun kemudian memikirkan alternatif lain untuk membuatkan tangan dengan jari untuk temannya. Tentunya dengan harga murah, yang dapat diakses semua kalangan.

Riset mulai dilakukan. Tesis pertama yang didapatkannya, lengan robot yang sudah ada di pasaran berbahan dasar logam. Menurut dia, bahan itu tidak terlalu efektif dijadikan sebagai tangan manusia.

“Saya pikir itu sangat berat bebannya. Akhirnya saya cari dengan alternatif bahan plastik jenis PLA dan TPU. Jadi ada bagian yang keras dan lentur. Dan tentunya lebih murah,” kata dia.

Masuk ke tahap selanjutnya, pada bagian sensor tangan robot di pasaran rata-rata menggunakan sensor otot atau sensor otak. Namun, saat ditelaah lebih lanjut, sensor itu dinilainya memiliki kelemahan.

Pertama, pengoperasiannya sangat sulit. Pengguna harus ke laboratorium terlebih dahulu untuk menyesuaikan syaraf dengan sensornya. Selain itu, latihan untuk bisa mengoperasikan lengan buatan itu harus dilakukan berbulan-bulan.

Awal tak mau. Ia ingin sesuatu yang sederhana, lengan robot yang mudah digunakan. Ketika dibeli, alat yang dibuatnya mesti langsung bisa digunakan. Karena itu, ia memilih untuk menggunakan sensor tekanan atau Force Sensing Resistor (FSR) dengan otak Arduino nano.

“Jadi sensor itu bisa dipasang pada bagian tubuh mana saja, tapi saya sarankan untuk diletakan di ibu jari kaki. Jadi dalam waktu beberapa menit bisa langsung digunakan,” kata dia.

Ketika mencoba memeragakan lengan robot ciptaannya itu, Alwan meletakan sensor itu di bagian lengan. Dengan cara ditekan, tangan buatan itu berubah dalam posisi menggenggam. Begitu ditekan lagi, tangan kembali terbuka.

Ia mengakui, lengan robot ciptaannya baru memiliki fungsi utama untuk menggenggam, dengan berat beban sekira 40 kilogram.

Namun, ujung jari pada tangan buatan itu bersifat kapasitif terharap layar telepon pintar. Di jari itu juga terdapat sensor temperatur. Selain itu, lengan ini juga antiair. Dengan begitu, lengan masih bisa digunakan ketika terkena air atau ketika hujan.

Sementara daya untuk menjalankan lengan itu hanya menggunakan kabel USB yang bersumber pada power bank. “Jadi bisa dibeli di mana saja. Kalau yang ada di pasaran itu kan ada baterai khusus,” kata dia.

Untuk membuat lengan robot itu, Alwan mengaku hanya membutuhkan waktu dua bukan. Satu bulan digunakan untuk perencanaan, sisanya untuk proses produksinya. Biaya yang dihabiskannya pun hanya sekira 35 dolar AS atau setara Rp 500 ribu.

“Karya ini sudah saya buat sejak SMP kelas tiga dan ditampilkan di pameran LIPI (Young Inventor Award 2019). Lalu juga di ICE BSD (International Exhibition for Young Investor 2019) yang mendapatkan penghargaan dari Taiwan, juga pernah dibawa ke luar negeri, di Filipina (ASEAN Grass Roots Inovation),” kata anak pertama dari dua bersaudara itu.

Dari berbagai pameran yang diikuti, banyak orang tertarik pada lengan robot milik Alwan. Namun, ia belum mau belum memasarkan karyanya lantaran masih berupa purwarupa.

Menurut dia, masih banyak yang harus diperbaiki dari karyanga. Ia berambisi, setiap jari yang ada di lengan robotnya itu bisa bergerak secara individual, seuai kemauan penggunanya.

Kendati lengan buatannya belum dipasarkan, tetapi Alwan telah berhasil membantu temannya yang difabel. Temannya sudah memakai lengan robot buatannya, meski masih malu-malu untuk digunakan rutin

“Tapi sudah bisa digunakan meski masih terbatas (fungsinya),” kata dia.

Guru pembimbing Alwan, Dicky Nurul Ilham mengatakan, kehadiran anak bimbingannya itu memang berbeda dengan siswa lainnya. Bahkan, sejak masa orientasi sekolah (MOS) hal itu sudah terlihat.

Menurut dia, rata-rata siswa yang baru masuk SMKN 2 Tasikmalaya belum kenal elektronik, apalagi berbagai istilahnya. Namun Alwan itu spesial lantaran sudah mengenal istilah Arduino atau pemograman dasar. Padahal istilah itu baru dikenalkan di kelas XII SMK.

“Sedangkan dia baru masuk sudah tahu. Ketika saya tanya, dia hanya belajar di Google dan YouTube. Sejak saat itu kita kembangkan,” kata dia.

Untuk pengembangannya, sekolah membiayai riset Alwan secara swadaya. Namun, dengan prestasi yang didapat Alwan, LIPI telah tertarik untuk bekerja sama. Bahkan, sejak kepulangannya dari Filipina, sekolah mendapat tawaran kerja sama dari salah satu perusahaan teknologi informasi di bidang kesehatan.

Namun, Dicky menambahkan, untuk menindaklanjuti kerja sama itu, sekolah berencana untuk membuat hak paten lengan robot itu atas nama Alwan. “Kita rencana akan patenkan karyanya. Jadi Awlan bisa terus dapat royalti,” kata dia.

Kepala SMKN 2 Tasikmalaya, Wawan mengatakan, lengan robot dari sekolahnya bukan merupakan satu-satunya inovasi yang diciptakan para siswa. Beberapa siswa dari jurusan lain juga telah membuat inovasi sesuai bidangnya masing-masing.

Wawan mencontohkan, pernah siswanya membuat tempat sampah yang dapat terbuka otomatis ketika orang hendak membuang tempat sampah. Saat ini, para siswa di sekolahnya juga sedang mengembangkan alat pendeteksi ikan di lautan untuk para nelayan dengan menggunakan sistem sonar.

Sebagai lembaga pendidikan, ia mengatakan, SMKN 2 Tasikmalaya akan terus mendorong para siswa kreasi para siswa untuk kebutuhan industri. “Bagi kami, ini untuk menciptakan anak didik kami untuk terus berkembang lebih baik lagi. Di sini bukan hanya ada robotik, tapi ada arsitektur, kelistrikan, yang mendapat juara nasional. Namun karena robotik ini jurusan baru, dan indsutri sangat membutuhkan, jadi seolah booming,” kata dia.

Wawan mengatakan, khusus untuk Alwan, pihaknya akan terus mengembangkan karyanya dan mendorong dia terus berkarya. Di sini kita juga mendorong oara siswa belajar bahasa asing lainnya, agar ketika lulus dapat bersaing di dunia internasional.

“Kalau di sini, anak itu diperkenalkan. Kita hanya menciptakan kemauan anak sehingga mereka timbul upaya, kita guru yang mengarahkan. Namun, saat ini untuk riset di sekolah masih terkendala anggaran. Dengan aturan yang ada, kita sukit mencari sumber anggaran,” kata dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here