Cabuk Rambak, Kuliner Tradisional Khas Solo Paling Enak dan Sulit Dicari

Solo adalah surganya kuliner. Bagi yang ingin ke Solo belum lengkap rasanya jika belum mencicipi kuliner unik yang satu ini. Nama Cabuk Rambak memang terdengar sedikit aneh, bumbu dan bahan yang digunakan juga cukup unik. Sayangnya hidangan yang satu ini sudah jarang ditemui.

Sulitnya menemukan cabuk rambak karena kebanyakan pedagangnya yakni si mbok penjual dengan mengendong dagangannya alias selalu berpindah-pindah.

Penyajian cabuk rambak ini memiliki ciri khas. Di mana dalam penyajiannya, selalu menggunakan daun pisang yang dibentuk atau sering dikenal dengan pincuk.

Cabuk rambak memiliki rasa yang khas pula, yakni pedas. Namun, bagi Anda penggemar kuliner, jangan ketagihan kalau sudah merasakan makanan tersebut.

Cabuk itu merupakan nama dari sambal yang terbuat wijen. Sementara dalam penyajiannya, terdapat irisan ketupat, cabuk dan juga rambak atau karak. Makanan ini membuat perut kenyang.

Namun sayang, untuk menikmati satu pincuk cabuk rambak, Anda harus dengan sabar mencarinya. Karena tak sembarang tempat bisa dicari, salah satu lokasi yang bisa dicari, yakni di Galabo, kawasan Pasar Gede, dan jika Minggu pagi ada sejumlah pedagang di kawasan CFD Solo di Jalan Slamet Riyadi.

Cabuk rambak juga bisa ditemui pada hari-hari tertentu. Pada hari minggu pagi hingga menjelang siang di Sunday market Manahan tepatnya di kompleks stadion Manahan Solo, kita juga bisa menikmati cabuk rambak sambil duduk di tikar. Pada saat perayaan Sekaten, penjual Cabuk rambak akan banyak dijumpai di halaman Masjid Agung Keraton Solo.

Untuk menikmati kelezatan Cabuk rambak ini, kita tidak perlu merogoh kantong terlalu dalam. Hanya dengan uang Rp 2.000 (dua ribu rupiah) sampai dengan Rp 2.500 (dua ribu limaratus ribu rupiah), maka kita sudah bisa mendapatkan sepincuk cabuk rambak yang nikmat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here