Buruh Migran Perlu Berdaya di Hari Buruh Internasional

Ditulis Oleh:

Indah Morgan dan Susan Handoyo

Semalam ketika kami menuju rumah makan untuk merayakan hari ulang tahun anak kami yang lahir bertepatan dengan hari buruh internasional, Handphone saya berdering, seketika suami dan anak saya matanya melotot, karena kami sepakat ketika keluarga berkumpul tidak boleh ada yang pegang Handphone dari nomer tidak di kenal dari Indonesia.

Dari ujung telepon memperkenalkan diri kalau mendapat referensi dari salah satu aktifis buruh migran dari Jawa Barat untuk menelpon saya sehubungan dengan kasus penyekapan yang terjadi terhadap WNI di provinsi Hebei yang berdekatan dengan Beijing ibu kota Tiongkok.

Informasi penyekapan terjadi terhadap seorang WNI yang berasal dari Jawa Barat namun identitas paspor dikeluarkan oleh kantor imigrasi Singkawang dan terlahir di Ledo.

Korban Perempuan Asli Jabar tapi di palsukan identitasnya dari Lendo, Singkawang (ist)

Singkat cerita, korban merupakan janda beranak satu, memiliki hutang kepada seorang agen tenaga kerja sebesar 2 juta Rupiah, dan diketahui agen menyarankan untuk menikah dengan orang asing (Tionghoa) dengan iming iming 4 juta per bulan akan dikirim ke keluarganya di Indonesia. Janji ini tidak tertulis hanya omongan belaka.
Si korban manut dengan usulan si agen, berangkat ke Cina dengan menggunakan visa turis, Namun sesampainya di Cina mereka menikah, Setelah menikah si korban mendapatkan ijin tinggal resmi atas dasar pernikahan tersebut seperti layaknya pernikahan awal, seluruh keluarga dari pihak suami baik, ramah dan memenuhi segala kebutuhan korban.

Semalam si korban telah berada di Tiongkok selama 9 bulan dan harapan untuk mendapatkan uang saku setiap bulan tidak terbukti sama sekali.
Ketika si korban meminta diri untuk dipulangkan ke Indonesia, si suami marah dan melakukan tindakan kekerasan dan dipukul dengan sepatu bahkan dilakukan di tempat umum (bukti telah dikirimkan ke bagian konsuler KBRI Beijing). Pernah terlintas untuk mengakhiri hidupnya dengan meminum racun namun gagal.

Keberadaan komunitas pekerja migran Indonesia Tiongkok (KPMIT) telah berusia 6 bulan, menjadi salah satu komunitas online yang menyelenggarakan diskusi pertemuan Reboan dengan bahasan berkisar pada pemberdayaan dan cara menjadi cerdas sebagai buruh migran.

Seiring berjalanya waktu, keberadaan Komunitas Pekerja Migrant Tiongkok (KPMIT) mulai dikenal oleh kantor perwakilan RI yang ada di Tiongkok seperti KBRI Beijing, KJRI Guangzhou dan KJRI Shanghai.

Anggota KPMIT siap bersinergi dengan kantor perwakilan RI dan LSM di Indonesia untuk menjadi jembatan bila ada kasus yang menyangkut undocumented pekerja migrant Indonesia maupun kawin kontrak sesuai dengan kapasitas keterbatasan kami.

Untuk menghindari kasus dan krisis yang lebih berbahaya, buat teman-teman yang ingin bekerja atau pergi ke Tiongkok, perhatikan beberapa hal dibawah ini:

1. Pekerja domestic hanya diperuntukkan kepada masyarakat lokal

2. Orang Asing hanya bisa menempati posisi sebagai tenaga kerja professional resmi yang tidak bisa dipenuhi oleh orang Tionghoa.

3. Jangan mudah terpancing dengan janji manis para makelar yang ingin menawarkan gaji besar

4. Pelajari tradisi, Bahasa Tionghoa dan kebiasaan masyarakat negara yg akan dituju

5. Pelajari ketrampilan yang bisa diterima dan tersedia di Tiongkok seperti penjaga anak sekaligus menjadi guru bahasa Ingris bagi anak-anak kecil.

6. Cari pekerjaan resmi melalui website Kedutaan Cina yang ada di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here