Bocah Indonesia Jadi Mahasiswa Termuda di Kanada

Universitas Waterloo, Ontario, Kanada dalam akvitas perkuliahan Para mahasiswa duduk dan menjalani kelas di masing-masing jurusan.

Ada yang menarik di kelas mahasiswa baru Jurusan Fisika universitas tersebut. Ada satu anak kecil berumur 12 tahun duduk di antara para mahasiswa.

Ternyata, anak itu adalah salah satu mahasiswa baru. Mengagetkan sekaligus membanggakan. Anak itu tidak berasal dari negara lain, melainkan Indonesia.

Ya, mahasiswa cilik itu bernama Diki Suryaatmadja. Dia terpilih sebagai mahasiswa kehormatan jurusan fisika universitas itu.

“Saya sangat senang, tapi merasa sedikit gugup karena transisi budaya,” ujar Diki kepada ctvnews.

Diki menempuh jalur akselerasi saat duduk di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah. Semua dia jalani di negara tempat Diki lahir, Indonesia.

Di Universitas Waterloo, Diki tidak hanya belajar fisika. Dia juga mengambil kelas kimia, matematika dan ilmu ekonomi.

Meski Diki telah berhasil memukau dunia pada kesan pertama. “Negara ini punya orang-orang yang baik. Mereka sangat ramah dan sopan,” kata dia.

Tetapi, Diki mengaku agak khawatir dengan cuaca. Sebab, di negara barunya itu sedang mengalami musim dingin.

Meski dia sangat bersemangat belajar skate, Diki khawatir musim dingin justru membuatnya tidak bisa menghabiskan banyak waktu untuk joging atau melakukan aktivitas luar ruangan lainnya.

Diki akan tinggal di luar kampus bersama keluarganya. Artinya, dia tidak menjadi bagian dari aktivitas asrama kampus.

Pengelola universitas mengatakan mereka akan membantu Diki mengenali aktivitas sosial kampus. Mereka menyadari Diki tidak perlu begitu cepat bergaul bersama mahasiswa lain yang usianya jauh di atasnya.

“Anak 17 tahun sadar akan apa yang ada di sini, tapi terserah mereka jika ingin mengikuti kebiasaan itu,” kata salah satu pengelola universitas bagian penerimaan mahasiswa baru, Andre Jardin.

“Tetapi karena dia masih berusia 12 tahun, kami merasa mungkin dia perlu panduan,” ucap dia

Jardin menyebut salah satu contohnya mempertemukan Diki dengan pembimbing akademiknya secara langsung.

Bagi mahasiswa lain, pengelola hanya perlu memberitahu siapa pembimbing akademik mereka, yang nantinya para mahasiswa yang akan menghubungi sendiri. Pengelola universitas juga akan berusaha terus menjalin kontak dengan keluarga Diki.

“Kami hanya ingin memastikan dia bisa terintegrasi secara sosial dan memiliki pengalaman luar biasa serta sukses, seperti kebanyakan mahasiswa lain,” ucap Jardin.

“Dia sangat siap secara akademik. Apa yang harus kami sadari adalah kenyataan dia adalah anak 12 tahun,” lanjut dia.

Diki begitu bersemangat menjalani kuliah. Dia bahkan telah menyiapkan rencana selama kuliah, membuat teknologi pembangkit energi alternatif berbiaya murah.

“Saya ingin mengubah dunia. Saya masih muda, dan saya masih punya banyak waktu untuk dunia ini,” kata Diki.

Jardin mengatakan para staf bagian seleksi mungkin telah membuat keputusan tanpa memperhatikan beberapa informasi seperti usia dan jenis kelamin. Dan aplikasi Diki telah diloloskan sebelum mereka menyadari usia anak tersebut.

“Dia punya nilai yang fenomenal,” kata Jardin, menambahkan Diki memiliki nilai tertinggi dari siapapun mahasiswa lain yang diterima Universitas Waterloo tahun ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here