Berpotensi Kalahkan China, Indonesia Punya Kekayaan Rumput Laut yang Melimpah

Indonesia adalah kepulauan terbesar di dunia yang memiliki luas wilayah perairan hingga 75 persen dari total luas wilayah. Hal tersebut membuat Indonesia menjadi negara yang menyimpan potensi sumber daya kelautan yang luar biasa besar. Rumput laut menjadi salah satu komoditas dari laut yang patut diperhitungkan dan dimaksimalkan potensinya.

Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO) 2015 menunjukan bahwa total produksi rumput laut dunia tahun 2013 mencapai 26,98 juta ton basah, dan Indonesia menyumbang 34,47 persen dari produksi tersebut, yaitu sekitar 9,30 juta ton basah rumput laut. Sementara China pada tahun yang sama sudah mencapai sekitar 13,56 juta ton basah, atau sekitar 50,27 persen dari total produksi rumput laut global.

Produksi global rumput laut hidrokoloid utama FAO © theconversation.com

Dikutip dari kkp.go.id, pada tahun 2016, sekitar 1 juta ton produk rumput laut diekspor dengan nilai lebih dari 4 milyar dolar AS atau sekitar Rp56 triliun. Sementara itu, tercatat lebih dari 100 negara di dunia menjadi pengimpor komoditas ini (FAO 2018).

Pada tahun 2019 juga tercatat nilai ekspor rumput laut Indonesia mencapai 324,84 juta dolar AS, naik 11,31 persen dibandingkan tahun 2018 yang sebesar 291,83 juta dolar AS. Dalam waktu lima tahun rata-rata ekspor rumput laut nasional juga tercatat naik 6,5 persen per tahun.

Ragam Jenis Rumput Laut Indonesia

Eucheuma cottonii © tribun-maluku.com

Diketahui ada sebanyak 555 jenis rumput laut dari 8000 jenis di dunia ada di perairan di Indonesia. Rumput laut di Indonesia sangat beragam dan memiliki keunggulan yang membedakannya dengan rumput laut negara lain. Eucheuma cottonii adalah salah satu bahan baku yang ternyata tidak dimiliki China. Di Asia hanya Indonesia dan Filipina yang banyak memproduksi jenis rumput laut Eucheuma Cottoni.

Indonesia juga merupakan salah satu penghasil produk turunan rumput laut yang banyak mengandung gel yang dikenal dengan hidrokoloid. Produk hidrokoloid dari rumput laut dapat dikelompokkan menjadi karaginan, agar, dan alginat.

Tidak seperti rumput laut pangan, yang banyak diproduksi di China, Korea Selatan, Korea Utara, dan Jepang, rumput laut hidrokoloid adalah komponen polimer yang berasal dari sayuran, hewan, mikroba yang dimanfaatkan sebagai pembentuk gel, pengental, emulsifier, perekat, penstabil, dan pembentuk lapisan film.

Pada tahun 2017, Indonesia berhasil menghasilkan 66 persen rumput laut hidrokoloid dunia. Eucheuma cottonii dan rumput laut merah Gracilaria spp merupakan beberapa contoh rumput laut yang banyak menghasilkan hidrololoid.

Provinsi Sulawesi Selatan adalah daerah penghasil rumput laut terbesar yang menyumbang lebih dari seperlima dari pasokan rumput laut hidrokoloid global. Peran dominan Indonesia dalam pasar rumput laut hidrokoloid global tak lepas dari peran iklim tropis dan garis pantainya yang luas.

Menurut penelitian Australia-Indonesia yang dilakukan Prof. Nunung Nuryartono (Institut Pertanian Bogor) dan Dr Scott Waldron (University of Queensland) dkk dalam South Sulawesi Seaweed Industry Key to Poverty Reduction and Global Competitiveness, dijelaskan bahwa keberhasilan industri rumput laut Indonesia juga tak luput berkat kemampuan petani rumput laut Indonesia untuk mengelola variasi musiman yang ekstrim dalam laju pertumbuhan rumput laut.

Potensi Besar yang Harus Dikembangkan

Salah satu petani rumput laut merah © Agung Pananrang

Rumput laut sepertinya menjadi salah satu potensi yang cukup menjanjikan bagi Indonesia jika terus dikembangkan. Terlebih lagi Indonesia memiliki ribuan pulau dan wilayah perairan yang menjadi habitat rumput laut. Untuk bisa memaksimalkan potensi tersebut ada pula tantangan yang harus dihadapi terutama bagi para petani rumput laut.

Faktor cuaca menjadi salah satu tantangan para petani rumput laut saat mengeringkan hasil panennya. Kualitas dan harga rumput laut terkait erat dengan kadar air dan keberadaan kontaminan. Peralatan dan teknik pengeringan yang buruk dapat secara substansial menurunkan kualitas rumput laut.

Sementara itu, pemerintah sepertinya sudah mulai menggalakan program untuk memaksimalkan potensi rumput laut. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ingin meningkatkan pengolahan rumput laut menjadi beraneka ragam produk yang memiliki nilai jual tinggi. Keinginan KKP yang tidak hanya ingin mengekspor rumput laut merah saja, membuat KKP juga ingin melakukan berbagai pelatihan ke UMKM.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here