Berkat Sampah Sukolilo, Nastiti Puspitosari Mendulang Sukses Hingga Ke Mancanegara

BERKAT OLAH SAMPAH: Nastiti Puspitosari kini tercatat sebagai mahasiswa S-3 di Universite Paris Sud & Centrale Supelec

Kisah hidup Nastiti Puspitosari tak akan bisa dilepaskan begitu saja dari sampah. Berkat sampah, perempuan kelahiran Blitar pada 1991 itu bisa terbang hingga ke mancanegara.

Nastiti kini tercatat sebagai mahasiswa S-3 di Universite Paris Sud & Centrale Supelec. Melalui surel, alumnus SMAN 5 Surabaya tersebut mengakui bahwa perjalanan hidupnya terbentuk berkat sang ibu.

Novi Sri Setyanigwang, ibu Nastiti, pernah bercerita tentang kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Keputih, Sukolilo. Lokasinya berdekatan dengan permukiman warga.

Tidak jarang, tumpukan sampah itu mengakibatkan bau menyengat. Penasaran dengan cerita tersebut, Nastiti melakukan observasi langsung ke lapangan. ’’Memang kumuh dan bau menyengat,’’ ucapnya saat berbincang dengan Jawaspos.

Novi pun mengajak anak pertamanya itu untuk berpikir serta merenung tentang kondisi dan dampak yang ditimbulkan. Tentu saja, Nastiti dengan mudah dapat menjawabnya.

Padahal, secara nyata, bisa dilihat kondisi yang kumuh, kotor, dan tidak layak bagi kehidupan manusia. Nah, pertanyaan besarnya adalah bagaimana cara mengatasinya?

Nastiti lantas mulai tertarik dan peduli dengan lingkungan. Putri pasangan Novi dan Agus Purwanto itu pun membuat esai tentang kondisi sampah di Keputih, Sukolilo. Esai tersebut diajukan dalam kompetisi yang diselenggarakan Klub Tunas Hijau. ’’Saya menang dan terpilih menjadi Putri Lingkungan Hidup pada 2003,’’ ungkapnya.

Sejak saat itu, perempuan dua bersaudara tersebut makin aktif di berbagai kegiatan lingkungan. Mulai penyelamatan hingga mewujudkan kawasan yang ramah lingkungan. ’’Pada momen itu, saya mengenal banyak pegiat lingkungan. Dari dalam maupun luar negeri,’’ terang dia.

Nastiti pernah berkolaborasi dengan pemuda dari Australia dan Amerika Serikat dalam menangani lingkungan. Pengalamannya terus bertambah. Ketertarikannya pada lingkungan juga makin mendalam. Termasuk saat kuliah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Nastiti membangun pemikiran baru. Yakni, menangani lingkungan melalui teknologi. ’’Hingga sekarang, pemikiran itu masih ada,’’ kata dia.

Saat ini Nastiti disibukkan penelitian yang berkaitan dengan perangkat tenaga surya. Di bawah bimbingan Christophe Longeaud, Nastiti membangun alat yang bisa mengukur kualitas material untuk panel tenaga surya.

Saat ini banyak material baru yang dicoba untuk aplikasi panel tenaga surya. Untuk mengetahui kualitas material tersebut, dibutuhkan alat ukur yang pasti. Biasanya, pengukuran itu menitikberatkan kemampuan material menyerap sinar matahari. ’’Nah, saya meneliti alat ukurnya agar pemilihan material untuk panel tenaga surya bisa tepat,’’ ujarnya.

Dia berharap penelitian tersebut segera tuntas. Nastiti yakin perangkat hasil risetnya itu akan bermanfaat bagi pembuat panel tenaga surya. Apalagi, pengembangan listrik tenaga surya sedang berlangsung di berbagai negara. Bila penelitiannya itu berhasil, banyak negara yang bakal menggunakan produk tersebut. ’’Saya bersyukur jika cita-cita ini berhasil,’’ tutur dia.

Nastiti bangga dan bersyukur, pada usia yang masih muda, dirinya mendapat kesempatan belajar di Prancis meski harus merantau jauh. Tentu saja, kerinduan terhadap Kota Surabaya masih ada. Misalnya, makanan khas Surabaya yang selalu bikin ngiler saat membayangkannya dari Prancis. Dia selalu membayar kerinduan tersebut ketika pulang ke kampung halaman. ’’Saya pasti makan menu itu,’’ tegas dia.

Dia berharap perjalanan hidupnya dapat menginspirasi anak-anak muda yang lain. Bagi Nastiti, anak-anak muda dari mana pun bisa punya cita-cita besar. Baik mereka yang dari daerah kecil maupun kota besar dengan segala fasilitasnya.

Nastiti menyampaikan pesan agar anak-anak muda tidak takut bermimpi besar. Bila mimpi itu tidak terwujud, jangan pernah putus asa. Sebab, proses mewujudkan mimpi itu tidak akan hilang. Hanya butuh kesabaran dan waktu yang bakal menjawab. ’’Berpikir positif dan berkatalah hal-hal yang baik kepada diri kita. Cintai diri kita sebelum mencintai mimpi kita,’’ tuturnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here