Berkat Inovasi Ini, Surabaya Tembus 15 Besar Guangzhou Award

Konsistensi Pemkot Surabaya dalam pengelolaan sampah dengan menggunakan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) berbuah manis. Berkat program itu Surabaya berhasil menembus peringkat 15 besar di ajang Guangzhou International Award for Urban Innovation 2018. 

Selain terus mengurangi volume sampah, Pemkot juga concern mencegah timbunan sampah. Salah satu contoh nyata terlihat pada pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo.

Dari catatan Pemkot, sampah yang masuk ke TPA Benowo mencapai kurang lebih 1.500 ton sampah. Sebagian besar merupakan sampah organik dengan prosentase 60 persen, sisanya sampah anorganik. 

Dengan program 3R dan pengelolaan sampah mandiri, sampah-sampah itu kemudian dipilah dan dikelola dari sumbernya (rumah tangga) oleh masyarakat sendiri.

Selain pemilahan sampah mandiri dari rumah tangga, Pemkot Surabaya juga memiliki 26 rumah kompos, serta pusat daur ulang sampah di Jambangan dan Sutorejo. Di setiap kelurahan juga ada fasilitas yang berperan untuk mengedukasi masyarakat perihal pentingnya pengelolaan sampah dari rumah. 

Contoh program sukses lainnya adalah pemberlakuan aturan membayar dengan botol plastik atau sampah ketika naik Bus Suroboyo. “Bagi penumpang yang akan naik harus membawa 5 botol ukuran tanggung, 3 botol besar, 10 gelas air mineral, kantong plastik (kresek), dan kemasan plastik,” kata Wali Kota Tri Rismaharini beberapa waktu lalu.

Namun bagi penumpang yang tidak ingin membawa sampah plastik, dapat menukarkan sampah mereka di bank sampah, drop box halte dan drop box Terminal Purabaya yang telah bekerja sama dengan DKRTH.

“Lalu tukarkan sampah dengan kartu setor sampah untuk ditukar dengan tiket. Dengan begitu, penumpang bisa berkeliling Surabaya selama 2 jam keliling secara gratis,” imbuh Risma.

Dikatakan Kabag Humas Pemkot Surabaya, M Fikser, melibatkan masyarakat untuk menangani sampah bukanlah perkara mudah.

“Jadi wajar saja masuk (nominasi). Karena mendorong partisipasi masyarakat itu bukan sesuatu yang gampang, apalagi persoalan mengelola sampah. Dan Surabaya mampu mendorong partisipasi masyarakat itu,” tandas Fikser kepada detikcom.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah penghargaan sudah diraih Surabaya karena program pengelolaan sampahnya ini. Bahkan karena inovasi program 3R, Surabaya telah dijadikan role model bagi kota/kabupaten di seluruh Indonesia sejak tahun 2017 silam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here