BEKRAF Hadirkan Spiritualitas Jawa dalam Forum Arsitektur di Venezia

Penggiat dunia arsitektur internasional memberikan apresiasi kepada Paviliun Indonesia yang difasilitasi Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dalam seminar bertajuk The Tale of The Void, Minggu (8/7) kemarin. Pasalnya, dalam kesempatan itu, Indonesia tampil dengan konsep ‘suwung’, spriritualitas Jawa yang diimplementasikan dalam karya yang modern.

Kurator Ary Indra menjelaskan karya yang berjudul Sunyata The Poetics of Emptiness dihadapan Professor University of School of Architecture Venice (IUAV). “Filosofi kekosongan yang menjadi tema dan tantangan Biennale kali ini, telah dikenal secara dekat oleh masyarakat Nusantara terutama Jawa. Konsep suwung yaitu kekosongan yang memberikan pengaruh yang mendalam dan secara implisit dan eksplisit kerap mengandung unsur spiritual dan “kehadiran kekuatan energi lain” yang tercermin dan terasa dalam bangunan dan arsitektur nusantara,” jelas Ary.

Sementara Void dalam arsitektur tradisional nusantara merupakan konsep yang telah dikenal dan juga telah diterapkan pada banyak bangunan. Ini juga sebagai jawaban pada tantangan gografikal juga sebagai cara memberikan ruang pada kebutuhan ritual dan juga kebutuhan untuk berinteraksi dengan sesama manusia.

Kehadiran Paviliun Indonesia pada La Biennale Architettura Venezia 2018, menyasar peluang baru untuk memahami kekayaan arsitektur Indonesia bagi kemajuan ilmu dan praktik arsitektur di masa depan. Sebelumnya, pada 2017.

BEKRAF telah melaksanakan proses pemilihan kurator. Terpilih enam kurator Ary Indra, David Hutama, Dimas Satria, Jonathan Aditya, Ardy Hartono dan Johanes Adika dengan karya berjudul Sunyata: The Phoetics of Emptiness.
Direktur Pengembangan Pasar Luar Negeri – Bekraf, Boni Pudjianto mengatakan Bekraf ingin mendorong para Arsitek Indonesia untuk menampilkan karya mereka di pentas dunia. “Kami berharap agar masyarakat internasional makin mengenal filosofi arsitektur Indonesia yang sangat berakar pada budaya nusantara. Unsur-unsur inilah yang memberi kekuatan pada desain ruang dan bangun Indonesia,” jelas Boni Pudjianto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here