Andrie Rosmalina dan Ernawati Tirtoadmojo Berhasil Kembangkan Boneka Adat Nusantara Hingga ke Mancanegara

-BHINNEKA TUNGGAL IKA: Andrie (kiri) dan Ernawati memperlihatkan boneka-boneka adat kreasi mereka.

Mungkin terdengar asing bila boneka asli Indonesia berhasil menembus pasar Internasional, namun di kawasan Sekardangan, Sidoarjo, saat Ernawati Tirtoadmojo dan Andrie Rosmalina berhasil mengembangkan boneka adat nusantara hingga ke negara luar.

Sejumlah peralatan dari kotak. Ada lem tembak, flanel, dan sejumlah kain berwarna-warni.’Ini sebagian alat yang digunakan,’’ ujar Andrie di rumahnya, Jalan Elbra, Sekardangan, Kecamatan Sidoarjo Kota, pada Jumat (25/11). Andrie dan Ernawati adalah dua sahabat yang merintis usaha pembuatan boneka.

Bukan sembarang boneka, tetapi boneka adat Nusantara. Boneka-boneka lucu itu ada yang mengenakan pakaian adat atau baju pengantin tradisional. Ada juga pakaian yang biasanya dipakai para penari.

Andrie menceritakan, dirinya mengenal Ernawati beberapa tahun lalu. Saat itu mereka bekerja di kantor yang sama. ’’Dulu kami teman satu kantor. Di sebuah bank yang ada di Surabaya,’’ tuturnya.

Sejak awal mereka merasa punya kecocokan. Kebetulan keduanya sama-sama hobi membuat pernik-pernik. Jika ada waktu luang, mereka kerap menyalurkan hobi tersebut bersama-sama.

Nah, suatu saat ada teman sekantor lainnya yang mengetahui hobi Andrie dan Ernawati. Saat merayakan ulang tahun, dia memesan suvenir dari bahan flanel. Gayung bersambut, Andrie dan Ernawati menyanggupi permintaan tersebut.

Sejak saat itu nama Andrie dan Ernawati semakin populer di lingkungan kerjanya sebagai jagoan pembuat pernik-pernik. Sejumlah pesanan dari rekan kerja lain pun datang silih berganti.

Menginjak 2008, dua perempuan yang kini sama-sama berusia 43 tahun itu memilih resign dari pekerjaan mereka. Keduanya lantas menyewa sebuah stan di salah satu mal di Surabaya.

Di stan tersebut, Andrie dan Ernawati merintis bisnis aksesori berbahan dasar flanel. Misalnya, kaus modifikasi dan bandana. Suatu saat, salah seorang pengunjung mal memesan suvenir yang mempunyai ciri khas.

Andrie dan Ernawati berembuk. Dari sana, ide untuk membuat boneka yang dibalut pakaian adat muncul. Mulanya, mereka membuat boneka pakaian adat cak-ning serta kostum tari Remo.

’’Laku lumayan banyak. Setelah itu, ada pesanan dari Jakarta yang meminta boneka pakaian adat dari 34 provinsi,’’ jelas Ernawati.

Seiring bergulirnya waktu, mereka menambah kreasi dengan membuat boneka yang mengenakan pakaian pengantin adat. Peminatnya terus muncul. Usaha yang dirintis pun semakin berkembang.

Biasanya, boneka adat karya Andrie dan Ernawati dijadikan suvenir pada program pertukaran pelajar atau diberikan kepada dosen tamu dari luar negeri, dan menjadi oleh-oleh wisatawan luar negeri.

’’Januari lalu kami pindah ke sini (Jalan Elbra, Red). Mengoptimalkan rumah sendiri menjadi workshop,’’ kata Andrie. Alumnus Teknik Industri ITN Malang itu mengungkapkan, usaha pembuatan boneka adat itu kerap mengikuti pameran ke berbagai tempat.

Bukan hanya di sejumlah tempat di Indonesia, tetapi juga sampai ke mancanegara. ’’Gara-gara usaha ini kami bisa pergi ke Tiongkok,’’ lanjutnya yang diikuti anggukan Ernawati.

Setiap kali pesan, jumlahnya mencapai puluhan. Boneka-boneka itu terbagi menjadi dua. Berambut pendek dan panjang. ’’Jadi, harus dipilih sendiri. Rambut pendek untuk boneka pria, rambut panjang untuk boneka perempuan karena bisa disanggul,’’ urainya.

Selanjutnya, boneka itu diberi pakaian adat yang terbuat dari flanel. Setelah itu, ditambahi aksesori agar sesuai dengan tampilan baju adat yang diinginkan.

Untuk mencapai kualitas pakaian boneka adat terbaik, mereka menggunakan bahan kain dari daerah aslinya. Misalnya, kain songket, tenun, larik, dan ulos.

’’Biasanya waktu ikut pameran ke daerah sambil jalan-jalan cari kain untuk bahan yang akan dibuat. Kadang juga heran, kain yang dibeli tidak dipakai sendiri malah dipakaikan ke boneka,’’ ungkap Andrie,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here