Aji Bram: Lestarikan Kearifan Lokal dan Karakter Bangsa

aji bram

Salah satu kebiasaan dan kesukaan saya saat jalan-jalan ke negara lain adalah menjelajahi daerah pedesaan negara itu. Sisa-sisa kehidupan masa lalu seperti rumah adat dengan arsitek aslinya yang masih terjaga dan dilindungi, pasar tradisional, pagar-pagar area pertanian yang masih alami begitu mempesona. Kondisinya terlihat tak banyak berubah seperti ratusan bahkan ribuan tahun silam. Demikian pula cara bercocok tanam yang masih menjaga keseimbangan ekosistem serta pengolahan tanah yang benar.

Semua itu mengingatkan kenangan masa kecil saya saat tinggal di Desa Tanjungsari, Boyolangu, Tulungagung, Jawa Timur, dimana kehidupan dengan sesama manusia, lingkungan alam serta karya seni budaya lokal sangat harmonis. Kita menggunakan apa yang disediakan oleh alam sesuai dengan apa yang kita butuhkan dan kita menjaganya agar keberadaannya tetap lestari. Sungai-sungai yang berair jernih, aneka tumbuhan dan bunga menambah keindahan alam, lengkap dengan bermacam jenis kupu-kupu, burung, serangga serta satwa lain. Semuanya saling memberi kontribusi dan manfaat untuk kehidupan dunia bersama manusia.

Pernah suatu saat saya berkunjung ke desa kecil di Inggris dan makan siang di sebuah restoran tradisional rumahan dengan resep dan menu keluarga. Sejak memasuki rumah makan itu, saya langsung merasa betah dan nyaman. Dengan senyum hangat dan ramah, pemilik restoran menyambut dan mempersilahkan duduk, dan bertanya saya berasal dari mana sebelum menjelaskan tentang restoran keluarga tersebut dan menu hari itu. Saya sangat mengagumi interior restoran itu yang merupakan bangunan kuno dengan atap tradisional serta rasa makanan yang tersaji juga cara menyajikannya. Seketika hati saya merasa amat sedih dan timbul rasa kangen terhadap kenangan masa kecil, iya saya sangat rindu dengan Indonesia yang dulu…

“Negari sing edi-peni panjang-punjung pasir-wukir gemah-ripah loh-jinawi toto-tentrem karto-raharjo,” itu ucapan dalang dalam pembukaan pertunjukan wayang kulit yang merupakan hiburan paling populer untuk masyarakat hingga saat ini. Gambaran keadaan sebuah negeri yang berwibawa, adil makmur, tenteram tertib serta penuh keharmonisan. Itulah keadaan yang saya rasakan di masa kecil. Tapi keadaan kini sudah berubah dan kita Bangsa Indonesia banyak kehilangan dan sangat minim karakter.

Dulu kehidupan yang harmonis sangat melekat di semua sendi kehidupan masyarakat kita. Gotong royong, kerja bakti, bermusyawarah untuk mufakat lebih diutamakan untuk menghasilkan sesuatu yang berpijak untuk kebaikan dan keutuhan banyak orang. Istilah take and give sangat berlaku saat itu. Keramahan, saling sapa, saling senyum serta saling tolong tanpa pamrih adalah hal yang dijumpai sehari-hari dalam bermasyarakat, baik saat berada di jalan, di pasar, di sawah bahkan saat makan di warung. Alam dan lingkungan dijaga kebersihannya, keberadaannya serta kelestariannya karena kita tahu kita membutuhkannya.

Kalau bisa saya gambarkan keadaan saat itu merupakan surga yang nyata. Alam yang hijau, udara bersih dan segar, aneka satwa liar, sungai yang bersih dan mengalir dengan segala makhluk airnya, beraneka ragam burung, serta kehidupan masyarakat yang menunjukan budaya lokal yang organik yang diolah dari bahan-bahan yang disediakan oleh alam sekitar adalah menu-menu sehat yang kita makan tanpa ada keraguan dan kekuatiran.

Anak-anak memainkan permainan tradisional dan menggunakan bahan yang disediakan oleh alam. Saya mengenal semua anak satu kampung, bahkan juga dari kampung-kampung lain dan juga hafal nama-nama mereka. Sering kami bermain bersama dengan permainan tradisional khas daerah dan menggunakan unsur alam yang ada di sekeliling kita. Sungguh saat itu bangsa dan negara kita adalah bangsa yang sangat berkarakter, sangat unik, punya sejuta ragam kekayaan budaya, bahasa, flora fauna yang terangkum dalam sebuah negeri indah Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Sebagai anak bangsa yang sangat mencintai negaranya secara utuh, saya sering merenung dan kuatir tentang keberadaan negara ini yang terus menerus kehilangan karakternya. Akankah kita bisa mempertahankan keberadaan semua unsur karakter bangsa dan negara? Akankah semua jenis musik daerah, tarian, bahasa, makanan, minuman, kain dan pakaian adat, flora dan fauna yang bisa mengkokohkan keberadaan kita sebagai bangsa yang punya wibawa dan jati diri di tengah bangsa lain di dunia bisa dilestarikan?

Saya berharap kita sebagai individu bersama masyarakat dan pemerintah bisa mempertahankan, menjaga, dan mencintai semua kearifan lokal asli Indonesia yang merupakan kekayaan dan kekuatan bangsa ini dan tidak dimiliki bangsa-bangsa lain. Semoga kita menjadi bangsa yang berkarakter, berwibawa, gemah-ripah loh-jinawi toto-tentrem karto-raharjo seperti diucapkan dalam dalam cerita pewayangan, Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here