7 Film Indonesia ini Sukses Mengharumkan Bangsa di festival film internasional

Film Prenjak

Dunia perfilman di Indonesia memang tengah memasuki masa gemilang. Banyak sineas muda berbakat yang turut mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah internasional lewat karya-karyanya yang dikagumi serta dipuji penikmat film mancanegara. Salah satunya film Prenjak yang beberapa waktu lalu mendapat penghargaan di Cannes, terlebih Tujuh film karya anak bangsa akan mewakili Indonesia ke festival film prestisius, Busan International Film Festival (BIFF) ke-21 di Haeundae-gu, Busan, Korea Selatan, oktober mendatang, berikut ini 7 film Indonesia yang telah mendapatkan penghargaan Internasional

1. Prenjak karya Wregas Bhanuteja.

Prenjak memenangkan Le Prix Découverte Leica Cine untuk film pendek terbaik yang dipilih dari 10 film yang diputar dalam kompertisi di Festival Film Cannes 2016. Prenjak mengisahkan tentang Diah (Rosa Sinegar) seorang gadis di sebuah desa, yang dalam putus asa, menawarkan kepada Jarwo (Yohanes Budyambara), korek api seharga Rp 10.000 perbatang untuk dinyalakan dan digunakan mengintip vaginanya. Film sepanjang 12 menit ini adalah film ketiga Wregas yang berlaga di festival internasional, setelah Lembusura di Festival Film Berlin 2015 dan Floating Chopin di Hong Kong Film Festival 2016.

2. Maryam karya Sidi Saleh.

Film Indonesia berjudul Maryam karya sutradara Sidi Saleh meraih juara pada kategori film horizon pendek yang jenis ceritanya belum pernah ada sebelumnya pada 71st Venice International Film Festival tahun 2014. Film tersebut merupakan karya kedua Sidi Saleh yang sebelumnya juga berhasil ke tingkat internasional pada 2013 dengan judul Fitri dengan menyabet juara pada Clermont-fd International Film Festival di Paris.

Film Maryam menceritakan bagaimana seorang pembantu rumah tangga bernama Maryam. Dikisahkan Maryam yang sedang hamil bekerja di salah satu rumah keluarga Katholik yang ditinggal sendirian untuk mengurus majikan laki-laki yang memiliki gangguan autis.

3. Siti karya Eddie Cahyono.

Film Siti karya sutradara Eddie Cahyono berhasil meraih dua penghargaan terbaik dalam ajang Festival Ke-18 Film Internasional Shanghai, China, pada 13-21 Juni 2015. Film berdurasi 91 menit itu berhasil meraih penghargaan sebagai film dengan sinematografi terbaik dan naskah film terbaik untuk kategori New Asia Talent Competition, mengalahkan enam film lainnya dari beberapa negara.

Karya Eddie Cahyono tersebut menceritakan perjuangan hidup seorang istri, yang sendirian mengurus ibu mertua serta menghidupi keluarganya. Sebab, suaminya mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan yang dialami saat melaut.

4. A Copy of My Mind karya Joko Anwar.

Pada tahun 2015 lalu, sutradara yang terkenal dengan ide-ide film out of the box, Joko Anwar menyuguhkan sebuah film yang mengisahkan romantisme dua sejoli, Sari (Tara Basro) dan Alek (Chicco Jerikho) yang dikombinasikan dengan problematika politik negara, terkhusus yang terjadi di belantara Jakarta. Sari sebagai spa therapist di sebuah salon dikisahkan suka menonton DVD bajakan. Hobi inilah yang mengantarnya bertemu dan jatuh cinta pada Alek, seorang penerjemah dan pembuat subtitle dari DVD bajakan tersebut.

Film Joko Anwar ini telah diputar di festival-festival film Internasional, seperti Osaka Film Festival 2016, Rotterdam International Film Festival (RIFF) 2016, Venice International Film Festival 2015, Toronto International Film Festival (TIFF) 2015 dan Busan International Film Festival (BIFF) 2015. Sedikit info nih, Sobat Brilio. TIFF sendiri adalah festival film prestisius terbesar di dunia yang setiap tahunnya dihadiri setidaknya 400 ribu orang. Sedangkan Venice Film Festival adalah festival film tertua di dunia dan bergengsi banget.

Pada tahun 2014, ide A Copy of My Mind sendiri telah memenangkan kategori film terbaik di Asian Project Market (APM) bagian dari Busan International Film Festival. Berikut video trailernya buat kamu.

5. Wonderful Indonesia: West Papua karya Kementerian Pariwisata RI.

Wonderful Indonesia: West Papua, sebuah film pendek pariwisata produksi Kementerian Pariwisata RI meraih penghargaan dalam kategori corporate tourism film/spot pada sub kategori advertising atau film promosi dalam festival pariwisata budaya di Kota Veliko Tarnovo, Bulgaria. Pada International Cultural Tourism Fair ke-13 tahun 2016 yang dibuka Menteri Pariwisata Bulgaria Nikolina Angelkova, Indonesia juga mendapatkan penghargaan untuk stan terbaik original presentation of the tourism product.

6. 3 Hari Untuk Selamanya karya Riri Riza.

Film besutan Riri Riza pada tahun 2007 silam ini mengisahkan Ambar (Adinia Wirasti) dan sepupunya Yusuf (Nicholas Saputra) yang melakukan perjalanan Jakarta-Jogja untuk menghadiri pernikahan anggota keluarga mereka. Di tengah perjalanan ini, banyak hal yang meraka temui dan pelajari, dari adu argumen tentang agama, pernikahan sampai seks.

Kisah dua pemuda dan pemudi ini walaupun tak diikutkan dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2007, namun berhasil menyabet Best Director dari Brussels International Independent Film Festival 2008. Berikut trailernya:

7. The Blind Pig Who Wants to Fly karya Edwin.

The Blind Pig Who Wants to Fly (2008) merupakan feature film perdana karya sutradara kelahiran Surabaya 38 tahun silam, Edwin. Film ini mengisahkan tentang krisis identitas dan fenomena diskriminasi terhadap keturunan China di Tanah Air. Dengan ide cerita ini, The Blind Pig Who Wants to Fly sering tampil di beberapa festival film seperti Pusan International Film Festival (2008), International Film Festival Rotterdam (2009), dan Tokyo International Film Festival (2012). Sampai akhirnya, film yang dibintangi Ladya Cheryll dan Andhara Early ini sukses meraih penghargaan FIPRESCI Award International Film Festival Rotterdam (2009).

Kemenangan Edwin dan tim atas film ini sampai masuk surat kabar bergengsi The New York Times pada Sepetember 2009 lalu.

Menurut Ricky Joseph Pesik, Wakil Ketua Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dalam konferensi pers di Hotel Grand Mercure, Jakarta Pusat, Rabu, 5 Oktober 2016, keikutsertaan Indonesia dalam BIFF akan membantu insan film Indonesia untuk membangun jaringan dengan insan film internasional. Ketujuh film ini telah dipilih langsung oleh panitia BIFF, Bekraf, BPI, serta Pusat Pengembangan Perfilman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang bertugas mempromosikan di Korea nantinya.

BIFF merupakan ajang film festival paling bergengsi di Asia yang telah dihelat sejak 1999. Tahun lalu, BIFF ke-20 berlangsung Oktober 2015, menayangkan 302 film dari 75 negara dengan jumlah penonton mencapai 227.377. Dalam festival ini, Indonesia mengusung tema dan tagline “Indonesia Cinema : Stories from 17.000 Wonderlands). Wah, maju terus film karya anak bangsa!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here